05 May, 2013

Kurikulum 2013: Kurikulum Jaka Sembung Bawa Golok

Leave a Comment
Beberapa waktu terakhir saya lagi sering nge-blog tentang pendidikan. Artikel kali ini pelengkap saja, mengenai Kurikulum 2013 untuk negara Indonesia ini :D

Baca lebih lanjut: 

Kalo saya melihat Kurikulum 2013 ini, kurikulum jaka sembung bawa golok, ga nyambung!! LOL. 

Itu mau belajar Kimia apa PKN. Wkwkwk.
Trus, saya baru tau kalo akuntansi Buddha dengan Hindu itu beda. *ngikik*

kurikulum 2013 kimia


kurikulum 2013 akuntansi

Read More...

09 April, 2013

Aktivasi Otak Kanan Hanya Mitos!

Leave a Comment
mitos otak kanan otak kiri

Selama lebih dari 30 tahun belakangan, dikotomi “otak kanan - otak kiri” telah menjadi bagian dari budaya pop masyarakat. Berkembang luas  pemahaman bahwa kedua belahan (hemisphere) otak memfasilitasi proses berpikir yang berbeda, kepribadian yang berbeda. Ide ini simply berasal dari misintepretasi penelitian sains valid.

Dominan Otak Kiri
Dominan otak kiri (left-brainer) itu berarti orangnya rasional, linear, logis, analitis, dan jago dalam bidang bahasa. Makanya individu left-brainer katanya cocok bergelut di bidang matematika, engineering, dan natural science (ilmu alam).

Dominan Otak Kanan
Dominan otak kanan (right-brainer) itu berarti orangnya spasial, intuitif, kreatif, dan penuh seni. Makanya individu right-brainer katanya cocok bergelut di bidang industri kreatif atau jadi seniman.

Pemahaman ini luas digembar-gemborkan dalam workshop pengajaran, menjadi highlight di artikel berita dan buku-buku bestseller. Banyak juga kuis online untuk mengetahui belahan otak yang dominan pada seseorang, dilengkapi dengan deskripsi detil tentang diri seseorang dan bagaimana ia berinteraksi dengan dunianya.

Dikotomi otak kanan - otak kiri adalah sebuah metafora klise dan bastardization of the science. Tapi tetep orang-orang terlalu senang menerima ide ini untuk melakukan generalisasi perilaku di lingkungan sekolah, kerja, dan kehidupan.

***

Asal Mula Mitos Teori Otak Kanan - Otak Kiri


"Teori" otak kanan - otak kiri berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Roger Sperry dan Mike Gazzaniga di tahun 1960an. Kedua peneliti ini melakukan studi pada pasien epilepsi yang telah melalui operasi untuk memutus koneksi antara 2 bagian otak (split brain experiments).

Diketahui bahwa ketika kedua bagian otak tidak dapat berkomunikasi, tiap hemisphere tidak menyadari keberadaan hemisphere lainnya, bahkan memberikan respon yang berbeda untuk suatu stimulus.

Riset ini merupakan eksperimen klasik, dibahas di setiap perkuliahan S1 Psikologi. Sperry dan Gazzaniga memang menunjukkan efek menarik tentang pemrosesan bahasa dan gambar di bawah kondisi eksperiman yang ketat.

Tapi riset tersebut TIDAK PERNAH SAMA SEKALI menyatakan bahwa kemampuan (matematika atau bahasa) hingga gaya belajar kita terbatas pada satu bagian otak saja.

Menjadikan hasil eksperimen ini sebagai referensi untuk gaya belajar manusia secara umum itu ngaco.. Soalnya, Split-brain experiments melibatkan pasien yang mengalami kerusakan otak (epilepsi) dan koneksi kedua bagian otak diputus secara manual! 

Tidak ada bukti saintifik langsung yang mendukung gagasan bahwa gaya berpikir yang berbeda dihasilkan oleh bagian otak tertentu. Riset-riset neurosains terkini malah menunjukkan hal yang bertentangan dengan ide “otak kiri-otak kanan”. Kedua bagian otak faktanya sangat komplemen satu sama lain.

  1. Untuk pemrosesan bahasa.. Kini diketahui kedua bagian otak ikut berperan: otak kiri memproses grammar (tata bahasa) dan pronunciation (pelafalan) sedangkan otak kanan memproses intonasi. 
  2. Otak kanan tidak bekerja sendiri untuk memfasilitasi kemampuan spasial: otak kanan memproses general sense of space, otak kiri memproses objek di lokasi tertentu. 
  3. Studi menemukan 14 area otak yang berperan untuk mempelajari sebuah urutan. “Sequential thought” (pemikiran sekuensial) yang katanya merupakan fungsi otak kiri, ternyata ditemukan diproses di 5 area otak kiri, 5 area otak kanan, 4 area di bilateral otak. 

Ya, memang ada asimetri fungsi pada bagian-bagian otak. Tapi, kemampuan individu tidak terikat pada sebuah area, tapi produk dari jaringan sel otak yang terdistribusi. Sirkuit-sirkuit ini dibentuk melalui campuran biologi dan pengalaman/memori yang unik.

Mencoba menjelaskan sesuatu se-kompleks gaya belajar dengan hanya meng-highlight satu bagian otak saja adalah penyederhanaan yang berlebihan, keliru tafsir (misintepretasi), dan sangat meragukan.

Okelah fan, ya teori otak kanan - otak kiri ini mungkin tidak akurat. Tapi apakah gagasan ini berbahaya?

***

'Teori' Otak Kanan - Otak Kiri Berbahaya?


Gagasan ini berbahaya ketika banyak pihak menganggapnya secara serius, and it’s happening!

Berdasarkan "teori" otak kanan - otak kiri (hemisphericity), berkembang sebuah ide bahwa proses belajar dan berpikir dapat ditingkatkan ketika kedua bagian otak dapat terlibat secara seimbang. Lahirlah program pengajaran dan pendidikan untuk memperkuat bagian otak yang kurang dominan dan mensinkronisasi kedua bagian otak.

Karena diasumsikan sekolah bakal lebih menyenangi cara belajar dan berpikir otak kiri (seperti analisis, logika, dan akurasi), banyak teknik pengajaran dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak aktivitas untuk memaksimalkan otak kanan.

Contoh, metode “show and tell”: daripada hanya membaca teks (dominasi otak kiri), guru juga memperlihatkan gambar dan grafik untuk mengaktifkan otak kanan. Metode lain misalnya penggunaan musik, metafora, role play, meditasi, menggambar, dll, untuk mencapai sinkronisasi kedua bagian otak. Atau metode-metode lain untuk mengasah otak kanan.

Banyak pihak yang mengatakan bahwa kurikulum sekolah saat ini lebih heavy ke pembelajaran menggunakan otak kiri. Jadi mereka demand sekolah untuk lebih banyak melibatkan pembelajaran yang mengasah otak kanan.

Kalo di luar tuh, ada ahli pendidikan seperti E.P. Torrace atau Madeline Hunter. Di Indonesia? Huwih, jadi penulis buku best seller ciin.. Bahkan ada lho ahli pendidikan dan sekolah di Indonesia yang mengusung konsep ini -__-"

Meskipun metode-metode tersebut dapat menambah variasi dalam dunia pendidikan, tapi metode ini didasarkan pada fondasi yang lemah.

Generalisasi kemampuan dan gaya belajar individu hanya berdasar 2 bagian otak merupakan penyederhanaan yang berlebihan, complete nonsense. Dan telah saya bahas, tidak ada bukti saintifik langsung yang menyokong ide ini. Malah, hasil temuan neurosains terkini mengungkap hal yang sebaliknya.

Tapi teteup aja ya, masih banyak meluncur buku, materi pendidikan dan pelatihan otak kanan, berbasis mitos ini. Tiap tahun kayaknya ada aja yang baru. Masih banyak juga pengajar, motivator, konselor, bahkan akademisi yang mengusung ide ini dalam profesinya. Ga tau apa mau tipu-tipu, kurang baca, atau simply stupid..

***

Kenapa Mitos tentang Otak Kanan - Otak Kiri akan Tetap Eksis?


Dr. Mike Gazzaniga (ya ilmuwan yang memprakarsai split-brain experiment itu sendiri) menulis buku Social Brain puluhan tahun setelah ia melakukan eksperimen hebatnya.

Pada salah satu bab, "Left-Brain, Right-Brain. Mania: A Debunking", ia sendiri membantah konsep psikologi populer tersebut dan menyampaikan keheranannya, kok bisa gitu eksperimen saintifik dia di-misintepretasi-kan seena'e dewe begitu.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa konsep ini berkembang karena dikotomi otak kanan - otak kiri itu simpel dan gampang dimengerti, packaging yang mudah dicerna masyarakat mengenai riset otak modern dan aplikasinya pada kehidupan sehari-hari.

Karena untuk menjelaskan yang 'sebenernya', cukup rumit (complicated). Banyak jargon sains yang harus dimengerti dan ngejelimet bagi masyarakat awam. Jadilah jurnalisme sains menggunakan simplifikasi tersebut, jadi bisa relate sampai level personal seseorang.

Sebanyak apapun temuan breakthrough di bidang neurosains akhir-akhir ini, kayaknya konsep tentang otak kanan - otak kiri ini masih tetap eksis ya. Susah untuk melawan belief system yang sudah terbangun selama berpuluh tahun.

Dikotomi ini memang menawarkan simplifikasi yang begitu 'menggoda'. Gampang kan diaplikasikan, "eh, lo left brainer atau right brainer", "kayaknya gw right brainer deh, cocoknya gw masuk jurusan ini deh kayaknya", bikin aplikasi untuk target market tertentu, bikin buku, bikin seminar, dll.

But yeah.. It's worth trying to fight the distorted belief system. As Gazzaniga concluded:

By the late 1960s and early 1970s the realization was spreading that the simple dichotomies of that time did little to advance knowledge about how cognitive systems work. Neuropsychology was at risk.Isolating mental systems or claiming that isolated mental systems process information differently does not really illuminate the nature of cognition.


***


***

Artikel ini berguna menurut kamu? Bantu share ya :)
Read More...

05 April, 2013

Indonesia HAMPIR Punya Astronot Wanita Pertama se-Asia

Leave a Comment
Beberapa minggu yang lalu, saya ada ikut Diskusi Sains Menrva Foundation for Science and Reason tentang Human Space and Colonization. Saya jadi tau kalo Indonesia dulu HAMPIR punya astronot lho, wanita lagi!

Ibu Pratiwi Sudarmono dan Bapak Taufik Akbar

Ibu Pratiwi Sudarmono, seorang microbiologist dari Universitas Indonesia yang menjadi salah satu kru pesawat luar angkasa Columbia sekitar tahun 1986 untuk keperluan pengoperasian satelit Palapa B-3. Bersama astronot pelapisnya, Pak Taufik Akbar (engineer dari Telkom yang kini adalah Direktur SDM di Telkom), beliau dilatih di NASA, dan siap terbang menjadi astronot wanita pertama dari Asia!!

Apa mau dikata... Di tahun yang sama, terjadi kecelakaan pesawat Challenger. Challenger meledak setelah baru beberapa detik lepas landas, menewaskan 7 orang krunya. Padahal kontraktornya udah ingetin NASA tuh, kalo desain yang ada tidak aman. Tapi karena sudah dikejar jadwal, NASA tetap meluncurkan Challenger.

Karena kecelakaan ini, NASA membatalkan semua jadwal penerbangan pesawat luar angkasa lainnya, termasuk pesawat Columbia-nya bu Pratiwi.

Akhirnya bu Pratiwi balik ke Indonesia. Beberapa bulan kemudian, NASA mulai siap meluncurkan pesawat luar angkasa lagi. Eeeehhh.. yang ikut malah astronot wanita dari Jepang. Jadilah wanita Jepang itu astronot wanita pertama dari Asia. Pfftt..

Ya kecelakaan sejarah ciinn. Nyaris banget. Kalo enggak, Indonesia bakal punya astronot wanita pertama dari Asia. Jepang, Malaysia, China, India, Pakistan, Iran, lewaaatt..

Ibu Pratiwi Sudarmono sekarang masih aktif menjadi pembicara di beberapa seminar microbiology. Terakhir teman saya ada mengikuti seminar beliau di Universitas Pancasila. Beliau juga kadang dapat ditemui di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

***
Suka dengan artikel ini, share yuk ^^
Read More...

30 March, 2013

Tes Sederhana untuk Prediksi Kematian Anda

4 comments
Mau tau ekspektansi hidup kamu? Cobalah tes simpel berikut ini.

Mulai dari posisi berdiri. Lalu, duduklah di lantai, lalu berdiri lagi dengan bantuan sesedikit mungkin. Eits, ga boleh pake tangan ya!

Gimanaa.. Susah? Gampang?

Menurut sebuah studi di European Journal of Preventive Cardiology, kemampuan kamu (atau ketidakmampuan) untuk melakukan tes ini dengan mudah dapat memprediksi berapa lama kamu akan hidup, angka harapan hidup seseorang.

Para peneliti meminta lebih dari 2000 orang berusia 51 hingga 80 tahun untuk melakukan “sitting-rising test” (Bahasa Indonesianya, tes duduk bangun, hahaha. Jelek sekali terjemahan saya). Peneliti kemudian memberi skor ke tiap orang dalam skala 0 – 10..

5 poin untuk kemampuan duduk dari posisi berdiri, 5 poin lagi untuk kemampuan berdiri dari posisi duduk tanpa bantuan apapun, seperti tangan, lengan, dan lutut. Tiap kali peserta menggunakan bantuan tadi, 1 poin dikurangi.

Lebih jelasnya, simak dulu video di bawah ini tentang perhitungan skornya.



Penulis penelitian ini (Claudio Gil Soares de Araújo, Ph.D., profesor di Gama Filho University di Rio de Janeiro) menyampaikan bahwa ga usah khawatir soal seberapa cepat kamu bisa menyelesaikan tes ini. Yang harus difokuskan adalah bagaimana menyelesaikan tes ini dengan bantuan sesedikit mungkin.

Saya sendiri udah coba. Pas dari posisi berdiri ke duduk, no support at all, yeay skor saya 5. Pas dari duduk ke berdiri, saya menggunakan bantuan tangan sekali, skor 4 ^^

***

Apakah arti dari skor ini?

6,3 tahun kemudian, 159 orang peserta penelitian ini meninggal, mayoritas adalah yang paling kesulitan melakukan tes ini. Bahkan, timnya pak Araújo ini menemukan bahwa jika seseorang memperoleh skor 0 – 3, orang ini akan memiliki 5 hingga 6 kali risiko kematian lebih tinggi daripada orang-orang yang meraih skor 8 – 10.

Wah, cukup surprised juga ya gimana tes sesederhana ini bisa memprediksi lama harapan hidup seseorang. Kok bisa?

Jadi, bagaimana kemampuan untuk bergerak dari berdiri ke duduk berkorelasi dengan umur seseorang? Ini semua karena kebugaran sistem otot dan kerangka tubuh (fleksibilitas, keseimbangan, kekuatan otot, dan koordinasi tubuh) merupakan indikator penting kesehatan secara keseluruhan, dan memiliki pengaruh positif pada harapan hidup.

Skor tinggi pada tes ini bisa mencerminkan kapasitas kita untuk berhasil melakukan berbagai aktivitas sehari-hari, seperti membungkuk untuk mengambil koran atau kacamata yang jatuh ke bawah tempat tidur atau meja. Dan tentunya, ketidakmampuan untuk duduk dan bangkit dari lantai mencerminkan survival rate yang rendah, terlepas dari usia, jenis kelamin, dan berat seseorang.

Bahkan pak Araujo bilang begini, "Orang-orang cenderung fokus pada latihan atau olahraga yang bersifat aerobik atau kardio. Penting sih, tapi seharusnya tidak menjadi prioritas satu-satunya dalam berolahraga," kata Araujo.

Kalo kamu lihat kenapa umur peserta yang ikut penelitian ini adalah kelompok lansia, sepertinya supaya lebih cepat keliatan kali hasil tesnya. Dibandingkan dengan mengikutsertakan orang usia 20 – 30, lama nunggu hasil tesnya. Hehehe. Dan tim peneliti studi ini menggunakan analisis yang disesuaikan untuk meminimalkan error karena variabel berat dan usia.

***

Tenang, tenaang..

Jika kamu tidak meraih skor tinggi, jangan panik.. Bukan berarti kamu akan wafat dalam waktu dekat :p

Tapi jadikanlah ini sebagai reminder buat kamu untuk lebih melatih lagi fleksibilitas tubuh. Fleksibilitas tubuh dapat dilatih dengan latihan/olahraga otot. Nih, intip gerakan yang melatih fleksibilitas otot yang gampang kok, dan bisa dilakukan dalam 3 menit: 3-minute flexibility plan. Atau olahraga yang lagi ngetren sekarang, yoga, pilates, dll.

***

Sumber:
http://news.menshealth.com/test-predict-your-death/2012/12/17/?utm_medium=referral&utm_source=pulsenews
http://cpr.sagepub.com/content/early/2012/12/10/2047487312471759.full.pdf+html
http://www.visualphotos.com/photo/2x4014321/man_sitting_cross-legged_on_floor_FAN2037830.jpg



Read More...

26 March, 2013

Sebuah Renungan Masalah Pendidikan di Indonesia Saat Ini

2 comments
Artikel yang saya tulis sebelumnya mengenai sistem pendidikan Finlandia: Lupakan Amerika, Pendidikan di Finlandia yang Terbaik Sedunia, membuat saya banyak berpikir (maklum saya pemikir orangnya). Artikel tersebut menyadarkan saya betapa destruktifnya efek yang ditimbulkan oleh sistem pendidikan yang mengadopsi konsep kompetisi & kapitalisme/komersialisasi. Ga usah di Indonesia, di Amerika, bahkan mungkin di Jepang pun, sistem pendidikannya memakai konsep kompetisi & komersialisi.


Dampak buruknya sangat gampang ditemukan di keseharian kita, di diri saya pribadi, di orang-orang sekeliling saya. Salah bentuk akibat sistem yang destruktif.
  • Belajar sistem kebut semalam. Menghafal super lengkap dan banyak. Habis ujian, lupa! Ga ada ilmu yang didapet, ga dapat esensinya. Lulus, nilai tinggi, cari kerjaan mengandalkan gelar, tapi ilmu kopong…
  • Yang pintar 'harus' masuk fakultas kedokteran lah, engineering lah. Yang biasa aja, harus masuk ini lah. Yang 'bego', pilihan terbatas. 
  • Yang anak ga boleh ikut les dan ikut lomba tarilah, karena bikin capek, ganggu konsentrasi belajar. 
  • Yang anak ga boleh jadi atlet, karena menguras energi, ganggu konsentrasi sekolah. 
  • Yang si anak ga boleh jadi zoologist lah, karena dinilai tidak menguntungkan. Mending jadi engineer lah. Beneran, saya punya teman, bercita-cita menjadi penjaga kebun binatang atau penjaga konservasi binatang, entah sebagai zoologist atau dokter hewannya. Sungguh mulia bukan. Tapi dilarang sm orang tuanya karena 'dianggap' tidak profitable & tidak punya masa depan yang cerah. Sampai dibilang ‘ntar kamu nikah sama gorila’ -__-"
Semuanya karena mau ngejar memenuhi standar, cetakan cetakan cetakan! Standar/Cetakan absurd! Cetakan duit…

Kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia dan Amerika itu gagal karena sistem ini mencoba membuat suatu cetakan bagi anak didik, bukan membiarkan anak didik berkembang maksimal sesuai potensinya masing-masing. Yang ditekankan pada pendidikan bukanlah suatu konsepsi pengetahuan, tapi struktualisasi sistem pendidikan dan hasil didikan. 


Sistem pendidikan di negara, seperti Indonesia dan Amerika, itu ironis karena saking kapitalisnya sampai lupa kenapa sistem komunis tumbang. Sistem komunis tumbang karena terlalu banyak komando dan tidak membiarkan warga dan struktur-struktur di dalamnya berkembang dengan bebas

Nah, sistem pendidikan "kapitalis" ini ironis karena system ini berusaha untuk "mencetak" kemampuan berdasarkan sistem pasar. Sistem ini menafikan kenyataan bahwa tiap anak itu terlahir dengan keinginan dan selera yang berbeda-beda. Dalam sistem pendidikan kapitalis yang gagal ini, semua anak apapun inputnya, outputnya harus bisa disamaratakan.


Pendidikan itu tidak bisa seperti kita membangun gedung, di mana struktur-struktur ditancapkan dalam balok-balok yang tidak berhubungan dan diharapkan dapat berdiri tegak dari bebannya saja, layaknya orang meletakkan beton di bangunan.

Para pendidik kuno memiliki sebuah konsepsi bahwa anak-anak itu "tabula rasa", sebuah kertas putih kosong yang siap di tuliskan. Padahal, kenyataanya anak-anak itu kertas berwarna yang sudah tergambar pola di atasnya, tidak bisa langsung asal corat-coret saja, sering jadi tidak bermakna nantinya (via Thomas Adi Nugroho Chaidir).

Berikut salah satu potret pendidikan jaman sekarang. Satu kelas terdiri dari siswa gajah, ikan, burung, monyet, dan lain-lain. Eh, ujian disuruh manjat pohon, biar adil katanya.

"Supaya adil, semua siswa harus mengikuti ujian yang sama. Panjat pohon itu."

Jelas, siswa 'monyet' akan unggul. Sistem ini menafikan fakta bahwa tiap siswa itu memiliki bakat, minat dan potensi yang unik. Sistem ini hanya memberikan perhatian pada siswa bintang. Siswa lain yang tidak bisa keep up (mengikuti), dibiarkan berusaha sendiri. Ditambah lagi, ujian standar/cetakan umum bertubi-tubi yang absurd yang hanya ngena ke bakat/potensi siswa 'monyet'. Siswa 'gajah' mana bisa keep up.

Mental anak-anak dapat dihancurkan oleh evaluasi terus-menerus dan membuat anak-anak ini sendiri percaya bahwa mereka tidak cukup baik. Ketika anak-anak dapat unggul pada apa yang mereka dapat lakukan dengan baik, bukan diukur utk memenuhi cetakan, mereka dapat menghasilkan performa terbaik. Anak-anak harus diberikan pendidikan sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengn bakat mereka.

Tujuan pendidikan seyogianya dapat membentuk siswa menjadi manusia yang lebih baik yang menghargai diri mereka sendiri dan dapat bernavigasi dalam kehidupan tanpa berpikir bahwa mereka lebih 'pintar' atau sebaliknya, tidak berharga.

Siapa yang tahu kalo si anak ternyata berpotensi menjadi ilmuwan/zoologist terkenal, jadi atlet berprestasi, menjadi penari duta negara. Alih-alih mengembangkan potensi uniknya, si anak end up (berakhir) menjadi PNS malas yang kerjanya makan duit rakyat. Alih-alih mengembangkan potensi uniknya, si anak end up (berakhir) menjadi nobody (bukan siapa-siapa) as in pekerja kantoran yang mengubur potensi gemilangnya di balik meja kantor.

Anak punya cita-cita tuh didukung dan dibimbing. Ini belum apa-apa sudah diteror "ntar kamu nikah sama gorila". Dari kecil aja mental anak udah dihancurkan.

***

Nah, dampak negatif lain dari bentukan sistem gagal ini adalah realita bahwa banyak orang benci pekerjaannya. Banyak yang merasa ke-trap (terjebak) dengan pekerjaannya sekarang.

Saya ulas di postingan blog saya yang lain: Mengapa Begitu Banyak Orang Benci Pekerjaan Mereka? Artikel ini cocok dibaca bagi yang sedang mengalami krisis identitas karir. Hehehe. Artikel ini juga cocok dibaca dan jadi bahan renungan bagi orang tua yang peduli dengan pendidikan dan masa depan anaknya

Saran saya kepada orang tua: Jangan didik anakmu untuk menjadi kaya, tapi didiklah anakmu untuk menjadi happy, bahagia :) Sehingga ketika mereka tumbuh dewasa, mereka akan menghargai value (nilai/esensi) sebuah hal, bukan menilai dari harganya.


Kenapa mendidik anak untuk bahagia menjadi penting? Mengutip perkataan Richard Branson (pendiri Virgin Group): "Parameter terbaik untuk mengukur kesuksesan? Kebahagian... Lakukanlah hal yang membuatmu senang, lakukan dengan baik, dan uang akan datang."

Lebih lanjut tentang kebahagiaan, parameter kesuksesan, dan definisi kaya dan kekayaan, silakan baca artikel saya lainnya, Parameter Kesuksesan: Mendefinisikan Kembali Makna 'Kaya'

***

Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, bantu share ya :) 
Read More...

Social buttons