29 May, 2013

Keberagaman Seksualitas dan Gender di Indonesia

4 comments

Dengan bantuan medis, janin bisa ditentukan jenis kelamin biologisnya ketika mereka berumur 4-5 bulan. Dan ketika lahir, ada dua macam yang dikenal di hampir seluruh dunia: lelaki (dengan penis) dan perempuan (dengan vagina).  Pembagian ini kemudian disertai dengan tuntutan dan peran gender.

Namun, ada berapa pembagian gender di dunia ini?  Gender di Indonesia, secara umum, mungkin hanya 3 gender yang dikenal: perempuan, lelaki dan waria.  Namun, masyarakat Bugis mengenal 5 gender.  Berbeda lagi dengan di Muangthai, yang mengenal sekitar 10 gender.  Tuntutan kefemininan dan kemaskulinan dari semua gender-gender ini pun berbeda.

Lalu, mengapa di Indonesia banyak orang berkeras dan memaksakan dua seksualitas dan gender saja, lelaki dan perempuan, dengan keharusan-keharusan yang harus dipatuhi dan seringkali dipaksakan kepada manusia, dan terutama kepada perempuan?

Tuntutan gender biasanya disertai dengan orientasi seksual yang heteronormatif.  Artinya, lelaki biasanya harus maskulin dan menjalin hubungan dengan perempuan. Sedangkan, perempuan seringkali dituntut untuk menjadi feminin, jatuh cinta dan menikah dengan lelaki, mempunyai anak dan melayani suami.

Waria (sebagai gender ketiga) seringkali direndahkan dan disisihkan. Mereka diterima di dunia hiburan atau kecantikan, tapi di dunia lain (seperti politik dan pendidikan), mereka masih belum diterima.  Bahkan, baru-baru ini beberapa kelompok fundamentalis di Jawa dan Madura mulai mengharamkan potong rambut perempuan oleh waria.

“Pengaruh budaya Barat” biasanya ditempelkan pada pembangkangan gender yang terjadi.  Mereka yang melontarkan klaim ini mungkin lupa atau sengaja melupakan kenyataan bahwa di Indonesia, masyarakat Bugis mengenal calalai (perempuan maskulin) yang biasanya mempunyai pasangan perempuan lain dan calabai (lelaki feminin) yang biasanya berpasangan dengan lelaki. Bahkan, pendeta di kepercayaan tradisional mereka, bissu, juga merupakan kombinasi dari sifat keempat gender yang ada.

Dalam budaya adat di Nusantara, “kekacauan” dualisme gender ini dapat ditemui dalam seni tradisional seperti reyog di Ponorogo, di mana gemblakan yang biasanya gemulai berhubungan  dengan warok atau warokan.

Jawa Timur juga mengenal ludruk yang mempunyai tandak lelaki yang berdandan perempuan.  Ia biasanya menjadi primadona, dan bahkan digemari oleh beberapa lelaki lainnya.

Di Banyuwangi, juga ada tari gandrung yang pernah diperagakan oleh laki-laki berbaju perempuan, di mana beberapa lelaki yang menonton mereka ikut menari bahkan menciumi mereka sambil memberi uang.

Praktik hubungan seksual sejenis bahkan telah mempunyai istilah dalam bahasa Jawa di masa lampau, yaitu jinambu (pasif) dan anjambu (aktif).

Begitu juga pada kesenian indang di Sumatra Barat, para penarinya adalah remaja lelaki yang gemulai yang biasanya tidur bersama dengan manajer grup itu. Seringkali hubungan seksual sejenis terjadi antara manajer dan penari atau antarsesama penari.

Di Aceh, seni rateb sadati ditarikan oleh 15-20 lelaki dewasa dengan seorang bocah lelaki yang ayu.  Lelaki kecil ini didandani mirip perempuan.

Dewa-dewi di Nusantara (yang kebanyakan berasal dari India) juga tidak mengacu pada dualisme gender yang konsisten.  Salah satunya adalah Ardhanarishvara, yang merupakan persatuan antara Dewi Parwati dan Dewa Syiwa sehingga ia mempunyai dua tubuh (lelaki dan perempuan).  Patungnya masih bisa ditemukan antara lain di Bali dan di Museum Trowulan (Mojokerto).  Begitu juga Wisnu yang menjelma menjadi Dewi Mohini dan bersetubuh dengan Dewa Syiwa.      

Keberagaman gender di Nusantara ini sempat membuat orang Eropa yang menjelajah ke Asia Tenggara tercengang.  Mereka, yang pada umumnya menganut atau paling tidak dipengaruhi ajaran Kristen Puritan, menganggap praktik seksualitas di Asia Tenggara tidak bermoral.

Dalam Jurnal Gandrung Vol.1 No.2, keberagaman seksualitas dan gender manusia digali dan ditilik dari sejarah gender sehingga artikel-artikel dalam edisi ini akan membuat kita bertanya: Dengan begitu kayanya ragam manusia, dengan begitu tak terbatasnya kemungkinan-kemungkinan yang ada, apakah masih perlu segala definisi gender dan seksualitas ini?  Apalagi bila disertai bermacam paksaan supaya manusia menuruti kaidah yang amat sempit, yang memenjara dan memerkosa identitas kita.  Dan tuduhan “kebarat-baratan” itu,  masihkah bisa dibenarkan di depan kenyataan ini?

***

Dikutip dari Soe Tjen Marching: Editorial Jurnal Seksualitas Gandrung.
Link download untuk Jurnal Seksualitas Gandrung ini sepertinya sudah mati (mediafire)

***

4 comments:

  1. Bissu di beberapa tradisi Bugis memiliki peran yang istimewa. Pada zamannya (sekarang sudah jarang ditemui), bissu berperan untuk menghubungkan dan antara kerajaan langit (yang diisi oleh leluhur dan dewa-dewa) dengan kerajaan bumi. Biasanya sebelum musim tanam padi dimulai, upacara akan dipimpin oleh mereka dengan harapan panen pada musim itu akan lancar.
    Mereka pada dasarnya adalah laki-laki yang berdandan feminin (feminim?) yang kalau tidak salah ingat adalah untuk memisahkan biologis mereka dari keduniaan.
    (Kalau tidak salah sih)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih untuk enrichment nya.
      Wah, berarti emang perannya literally sebagai pendeta ya..

      *feminin yang benar :)

      Delete
    2. Yup. Bisa dibilang begitu. Sebelum masuknya agama formal (yang diakui negara), bissu memegang peranan yang penting. Keberadaan mereka mulai terancam saat diadakan operasi "toba' atau tobat", sebab agama dan kepercayaan yang mereka anut dan pimpin tidak diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Meskipun gayaya feminin, mereka bisa jadi sakti loh, dalam upacara mereka biasa menusukkan keris di leher dan nggak lecet sedikitpun. Serem :D

      Delete
    3. Hehehe iya, kepercayaan asli Nusantara yang tergeser sama kepercayaan impor ^^

      Btw, jadi inget tulisan ini soal keris-kerisan :D
      http://virkology.wordpress.com/2013/03/24/penjelasan-ilmu-kebal-trik-delusi-dan-penyakit/

      Delete