02 July, 2013

Saya adalah Budak Terbaik

6 comments

Kali ini, saya ingin mengutip pidato kelulusan dari seorang pelajar lulusan SMA Amerika. Isi pidato ini begitu menggugah, mengingat disampaikan oleh seorang pelajar usia 18 tahun, tapi mampu memandang masalah sistem pendidikan yang dienyamnya secara holistik. Saya sendiri kagum dengannya.

Kutipan pidato ini akan memperkaya tulisan saya sebelumnya: "Lupakan Amerika, Pendidikan di Finlandia yang Terbaik Sedunia" dan "Sebuah Renungan Masalah Pendidikan di Indonesia Saat Ini". Kedua tulisan ini sudah banyak mengupas kritik pada sistem pendidikan ter-kormersialisasi yang notabene adalah model sistem pendidikan publik yang banyak diterapkan di banyak negara.

***

Ada sebuah tradisi di SMA Amerika, di mana seorang lulusan terbaik akan membacakan pidato sekolah. Mereka disebut sebagai valedictorian. Biasanya mereka akan menyampaikan kata-kata perpisahan, ucapan terimakasih dan sebagainya, sebelum kemudian menerima ijazah tanda kelulusan.

Di tahun 2010, seorang valedictorian bernama Erica Goldson, pelajar di Coxsackie-Athens High School, New York, mengejutkan para guru, murid dan orang tua dan juga dunia (berkat jejaring sosial) lewat pidato perpisahan di sekolahnya. Alih-alih menyampaikan teks pidato perpisahan yang standar, ia malah menyampaikan sebuah pidato pendidikan yang sangat powerful yang mengecam sistem pendidikan di negaranya. Ia menggambarkan sikap apatis terhadap sebuah sistem pendidikan yang disebutnya sebagai bentuk indoktrinasi yang hanya menghasilkan robot-robot yang seragam untuk masuk ke dunia kerja.

Belakangan, pidato Erica ini banyak beredar kembali di social media. Mungkin karena ini ada hubungannya dengan gembar-gembor kurikulum 2013 yang kontroversial itu, atau juga karena kemarin lagi hebohnya pelaksanaan UN yang ambruladul. Versi aslinya bisa Anda lihat di situs pribadinya. Intip juga video pidatonya berikut ini.



Di Sini Saya Berdiri

Tersebutlah kisah tentang seorang murid Zen yang masih muda, tapi sangat tekun. Suatu hari datanglah ia kepada sang guru dan bertanya, ”Kalau aku berusaha keras dan rajin, berapa lama aku akan menemukan Zen?” Sang Master berpikir sejenak lalu menjawab “Sepuluh tahun.” Si murid kembali bertanya, “Tapi kalau aku berusaha sangat, sangat keras dan berusaha belajar dengan cepat, berapa lama?” Sang Master menjawab, “Hmm, dua puluh tahun.” “Tapi kalau aku benar-benar berusaha, berapa lama?” si murid masih bertanya. “Tiga puluh tahun” jawab sang Master. “Aku tidak paham,” jawab si murid yang kecewa. “Setiap kali aku bilang akan berusaha keras, kau justru bilang perlu waktu lebih lama. Mengapa begitu?” Si Master pun menjawab, “Kalau pandanganmu tertuju pada satu tujuan, pandanganmu pun hanya akan terpusat ke satu jalan.”

Inilah dilema yang saya hadapi pada sistem pendidikan di Amerika. Kita terlalu terpusat pada satu tujuan, entah itu lulus ujian atau tamat sebagai peringkat pertama. Namun, dengan cara ini, kita tidak benar-benar belajar. Kita hanya melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan semula.

Mungkin kalian akan berpikir, “Ya, kalau kamu bisa lulus ujian atau terpilih menjadi valedictorian, bukankah artinya kamu sudah mempelajari sesuatu?" Iya, ada yang memang sudah kita pelajari, tapi tidak semua yang seharusnya bisa dipelajari. Mungkin kita hanya belajar menghafal nama orang, tempat, dan tanggal yang hanya kemudian dilupakan demi memberikan tempat yang kosong di otak untuk ujian berikutnya. Sekolah tidaklah menjadi sesuatu yang seharusnya. Kini, bagi kebanyakan orang, pengertian sekolah adalah tempat di mana tujuan mereka hanyalah agar bisa selesai secepat mungkin.

Sekarang saya telah mencapai tujuan itu. Saya lulus.. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di angkatan saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada. Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang akan datang kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah seseorang yang terjebak di dalam pengulangan – budak dari sistem yang dibuatkan untuknya. Tapi kini, saya sudah berhasil menunjukkan bahwa saya adalah budak yang terbaik. Saya sudah melakukan apa yang diminta sebaik mungkin.

Di saat yang lain duduk di kelas, mencoret-coret di kertas dan akhirnya menjadi seniman besar... saya duduk di kelas, mencatat dan menjadi seorang peserta ujian yang hebat. Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asik membaca hobi-hobi mereka... saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik... saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu.

Saya jadi berpikir, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya. Tapi terus apa? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya berhasil atau tersesat selamanya? Saya tidak tau mau apa saya dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan..

John Taylor Gatto, seorang pensiunan guru dan aktivis yang kritis terhadap program wajib belajar pernah menegaskan hal berikut ini.
“Kita bisa mendorong munculnya kualitas terbaik dari anak-anak muda, baik itu rasa ingin tahu, rasa petualangan, daya tahan dan wawasan yang mengejutkan, cukup dengan bersikap lebih fleksibel dalam urusan waktu, buku-buku acuan dan ujian-ujian. Caranya dengan memperkenalkan anak-anak itu kepada orang dewasa yang benar-benar kompeten, dan sesekali memberikan para siswa itu kebebasan yang diperlukan dalam mengambil resiko. Tapi kita tidak melakukan itu." - John Taylor Gatto

Di antara dinding-dinding beton ini, kita semua diharapkan untuk menjadi seragam. Kita dilatih untuk meraih yang terbaik dalam setiap ujian yang terstandarisasi, dan mereka yang menyimpang atau melihat dari sudut pandang yang berbeda, dianggap tidak berharga dalam sistem pendidikan umum, dan dianggap sebagai penghinaan. H. L. Mencken pernah menulis dalam “The American Mercury" di tahun 1942, bahwa tujuan pendidikan umum yang ada sekarang adalah bukan..
.. untuk mengisi spesies-spesies muda itu dengan pengetahuan atau membangkitkan kecerdasan mereka.. Itu sama sekali tidak benar. Tujuannya… semata untuk sebisa mungkin menurunkan setiap individu ke tingkatan yang sama, membiakkan dan melatih prinsip kewarganegaraan yang standar, menekan pembangkangan dan orisinalitas. Itulah tujuan di Amerika Serikat (Gatto)

Untuk mengilustrasikan ide ini, saya ingin bertanya, terganggukah Anda dengan gagasan tentang “berpikir kritis." Apakah benar-benar ada yang namanya “berpikir tidak kritis?" Berpikir adalah memproses informasi dalam upaya untuk membentuk opini. Tapi jika kita tidak bersikap kritis saat mengolah informasi, apa kita benar-benar sudah berpikir? Ataukah kita tanpa pikir panjang menerima pendapat-pendapat lain sebagai kebenaran?

Inilah yang terjadi pada saya. Dan kalau bukan karena Donna Bryan, sosok guru bahasa Inggris yang berani tampil beda di kelas 10, yang mengizinkan saya membuka pikiran dan bertanya sebelum menerima doktrin dari buku-buku pelajaran, mungkin sudah habislah saya. Saya kini tercerahkan, tapi pikiran saya masih terasa lumpuh. Saya harus melatih kembali diri sendiri dan terus menerus teringat betapa gila sebenarnya tempat yang kelihatannya waras ini.

Dan sekarang saya ada disini, di sebuah dunia yang dipandu oleh ketakutan. Dunia yang menindas keunikan yang ada di dalam setiap diri kita. Dunia dimana kita harus menerima begitu saja omong kosong korporatisme atau materialisme yang tidak manusiawi, dan tidak bisa memaksakan perubahan.

Kita tidak bisa bersemangat pada sistem pendidikan yang diam-diam menyiapkan kita untuk pekerjaan yang terotomatisasi, untuk pekerjaan yang tidak perlu, bentuk perbudakan tanpa semangat untuk mencapai sesuatu yang bermakna. Kita tidak akan punya pilihan dalam hidup kalau uang yang menjadi kekuatan motivasi kita. Kekuatan motivasi itu harusnya berwujud gairah atau ketertarikan, passion. Passion yang langsung hilang begitu kita melangkah masuk ke dalam sebuah sistem yang lebih bersifat melatih, ketimbang menginspirasi.

Kita ini lebih dari sekedar robot rak-rak buku yang dikondisikan untuk memuntahkan fakta yang pernah diajarkan di sekolah. Kita semua sangat istimewa. Setiap manusia di muka bumi ini istimewa. Jadi tidakkah kita layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik?

Tidakkah kita layak menggunakan pikiran kita untuk menghasilkan inovasi daripada menghafal, mengembangkan kreatifitas ketimbang aktivitas tanpa makna, perenungan ketimbang kemandekan? Kita ada disini bukan untuk meraih gelar, lalu mendapat pekerjaan, agar kita bisa menjadi konsumen kepuasan demi kepuasaan industri. Ada yang lebih dari itu dan ada lebih banyak lagi.

Yang menyedihkan adalah.. mayoritas pelajar tidak memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi diri seperti saya. Kebanyakan pelajar dimasukkan ke dalam teknik cuci otak (brainwash) yang sama dalam upaya menciptakan tenaga kerja yang memuaskan. Yang bisa bekerja untuk kepentingan perusahaan-perusahaan besar dan pemerintahan rahasia. Dan yang paling parah adalah mereka sama sekali tidak menyadarinya.

Saya tidak akan mengembalikan masa-masa 18 tahun terakhir ini. Saya tidak bisa lari ke negara lain, di mana sistem pendidikannya ditujukan untuk mencerahkan ketimbang mengkondisikan. Bagian hidup saya yang ini sudah berakhir dan saya ingin memastikan tidak ada lagi anak-anak yang potensinya ditekan oleh kekuatan yang ditujukan untuk mengeksploitasi dan menguasai. Kita adalah manusia. Kita adalah pemikir, pemimpi, petualang, seniman, penulis, ahli teknik (engineer). Kita bisa menjadi apapun yang kita kehendaki, tapi hanya kalau kita memiliki sistem pendidikan yang memberikan sokongan dan bukannya menekan. Sebuah pohon bisa tumbuh hanya kalau akarnya diberi dasar yang sehat.

Bagi kalian yang masih harus terus duduk di meja dan mematuhi ideologi otoriter para instruktur, janganlah berkecil hati. Kalian masih punya kesempatan untuk bangkit, bertanya, bersikap kritis dan menciptakan perspektif kalian sendiri. Mintalah sebuah kondisi yang memberikan kalian kemampuan intelektektual. Yang memungkinkan kalian mengembangkan pikiran dan bukannya mengarahkannya. Mintalah sesuatu yang membuat kalian tertarik pada pelajaran. Mintalah agar alasan “Kalian harus mempelajari ini untuk ujian" tidaklah cukup baik untuk kalian. Pendidikan adalah alat yang sangat bagus, jika digunakan sebagaimana mestinya. Tapi pusatkanlah perhatian lebih pada belajar ketimbang meraih nilai yang bagus.

Bagi kalian yang bekerja di dalam sistem yang saya kecam, saya tidak berniat menghina kalian. Saya ingin memotivasi. Kalian punya kekuatan untuk mengubah hal yang tidak kompeten dari sistem ini. Saya mengerti kalian menjadi guru atau administrator pendidikan bukan untuk membuat siswa-siswa merasa bosan. Kalian juga tidak terima dengan kewenangan pihak berkuasa yang menentukan apa yang harus kalian ajari, dan kalian akan dihukum kalau tidak patuh. Potensi kamilah yang dipertaruhkan disini.

Untuk kalian yang hari ini akan meninggalkan institusi ini, saya ingin katakan, janganlah melupakan apa yang terjadi di kelas-kelas di sini. Jangan meninggalkan mereka yang datang setelah kalian. Kita adalah masa yang baru dan kita tidak akan membiarkan tradisi berkuasa. Kita akan runtuhkan dinding-dinding korupsi agar kebun-kebun pengetahuan bisa tumbuh di seluruh Amerika.

Jika dididik dengan benar, kita punya kekuatan untuk melakukan apapun. Dan lebih dari itu, kita akan menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan, karena kita akan menjadi orang yang baik dan bijak. Kita tidak akan menerima apapun begitu saja. Kita akan bertanya dan kita akan menuntut kebenaran.

Jadi, di sinilah saya berdiri. Saya berdiri di sini sebagai seorang valedictorian bukan karena saya yang mau. Saya dibentuk oleh lingkungan, oleh teman-teman sebaya yang sedang duduk menyaksikan saya. Saya tidak akan bisa mencapai semua ini tanpa kalian semua. Kalianlah yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini. Kalianlah yang selama ini menjadi pesaing saya, tapi juga menjadi tulang punggung saya. Karena itu kita semua adalah para valedictorian.

Sekarang waktunya saya seharusnya mengucapkan selamat tinggal kepada institusi ini, kepada mereka yang merawatnya, dan kepada mereka yang berdiri bersama saya dan yang berada di belakang saya. Tapi saya harap perpisahan ini lebih dari sekedar ucapan “sampai jumpa lagi," karena kita semua bisa bekerja sama untuk menumbuhkan sebuah gerakan pendidikan. Tapi pertama-tama, mari kita terima dulu lembaran kertas yang menunjukkan bahwa kita sudah cukup pandai untuk melakukannya!


***

Bagaimana pendapat kamu tentang sistem pendidikan Indonesia? 

Dengan isu Kurikulum 2013 dan UN terakhir, mungkinkah pemikiran-pemikiran seperti Erica ini tumbuh dan menggebrak di Indonesia? Atau kamu memiliki pandangan serupa dengan Erica?

Share your opinion in comment sectionAnd if you like this article, please share to the world. Thank you ;)

Sumber:
http://americaviaerica.blogspot.jp/p/speech.html
http://nol.suarane.org/post/47960170653/gagalnya-pendidikan-konvensional-pidato-erica-goldson
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151396517737444&set=a.53765742443.67897.601337443&type=1

6 comments:

  1. saya sependapat dengan Erica. Pendidikan di negara ini cenderung hanya terpaku pada kontekstual. Siapa yang melenceng dari konteks, maka ia dikucilkan. Alhasil, sebagian menjadi pengecut yang kemudian menuruti sistem dan sebagiannya lagi menjadi 'pemerdeka' pendidikan. Tapi sayang, selalu saja banyak hambatan. Terutama orang tua yang pemikirannya cenderung kepada pola lama. Cenderung mengkerdilkan kreativitas anak. SALAM

    http://www.siiudib.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. perubahan emang harus radikal ya mas, sistemik. :D

      Delete
  2. Wew, artikel anda sangat tepat. Tabik

    ReplyDelete
  3. Saya setuju dengan si Erica dan pendapat mbak Fanny juga. Bahkan boleh dibilang apa yang mbak alamai sama dengan saya.

    Dari SD sampai SMA, prestasi saya boleh dibilang bagus. Selalu mendapatkan peringkat pertama setiap kali pembagian rapor. Dikirim ke sana ke mari untuk mengikuti lomba dan kegiatan A, B, C, sampai Z. Saya ditekankan oleh orang tua agar mendapatkan prestasi yang bagus.

    Namun sekarang apa yang saya dapatkan? Untuk pengalaman boleh saya katakan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman. Namun dari segi bersosial NOL BESAR.

    Kalau saya komentar panjang di sini mungkin jadi malas baca mbaknya. Hehehe...

    Intinya selain PENDIDIKAN, orang tua juga berpengaruh dalam proses pembentukannya ROBOTNYA.

    Sekarang saya juga akhirnya OUT THE BOX. Saya lakukan apa yang harus saya lakukan sesuai PASSION saya. Malah pernah terlintas untuk berhenti kuliah saja, tapi kasihan juga orang tua yang membiayai karena sekarang saya sudah semester akhir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, pengalaman nya sama sekali dengan saya. Kenapa saya menulis tentang Erica, karena somehow saya bisa relate ke dia. Saya seperti dia.

      Bener mas. Achievement banyak, tapi social life NOL. Padahal itu penting banget. Ibarat produk, mau sebagus apapun, kalo marketing nya NOL, ya susah juga jualannya :p

      Kadang kita terlalu mementingkan suatu tujuan, we forget the way in which we can enjoy the ride :)

      Follow passion? Wah bagus. Senang mendengarnya :) Kalo boleh tau, sedang menggeluti passion apa mas? Sekarang masih kuliah kah?

      Delete