29 July, 2013

Penyeimbangan Agama dan Negara untuk Penanganan Terorisme Agama

1 comment
*Tulisan tamu oleh Rama, mahasiswa Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia*

“Pro aris et focis” — Cicero, De Natura Deorum

Hubungan antara agama dan negara merupakan polemik yang menarik untuk dikaji secara mendalam. Polemik tersebut terjadi karena terdapat persinggungan mengenai kekuasaan yang dimiliki oleh agama dan negara.

Secara definisi, kekuasaan tersebut dapat dilihat pada masing-masing kata dalam bahasa Indonesia. Berikut adalah definisi sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Definisi Agama 
Sistem atau prinsip kepercayaan kepada tuhan dengan kewajiban-kewajiban yang berkenaan dengan kepercayaan tersebut[1]. Adanya kewajiban-kewajiban yang dimiliki oleh agama menyebabkan terdapat kekuasaan absolut dari sebuah kekuatan metafisik yang harus dipenuhi untuk menaati aturan-aturan ilahiah yang dimilikinya.

Konsep Negara
Organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat[2]. Kekuasaan tersebut bersifat manusiawi yang dapat didefinisikan, baik secara demokratis oleh masyarakat yang ada maupun secara totaliter oleh sekelompok atau satu orang tertentu.

Persinggungan kekuasaan yang ada antara agama dan negara menciptakan diskursus dengan beragam pertanyaan; Bagaimanakah definisi yang tepat mengenai kekuasaan agama dan negara? Dimensi apa sajakah yang layak untuk diatur oleh kedua hal tersebut? Bagaimanakah superioritas antara kekuasaan agama dan negara? Apakah seharusnya agama tunduk terhadap negara ataukah sebaliknya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan dibahas pada artikel ini. Pembahasan difokuskan pada dua pandangan yang dibentuk dari diskursus tersebut, yaitu teokrasi dan sekularisme.
Pembahasan dilanjutkan pada perkembangan kedua pandangan tersebut dan bagaimana perkembangan ini berdampak pada penciptaan teror. Pembahasan kemudian diakhiri dengan pendekatan solutif yang dapat dilakukan untuk menjembatani kedua pandangan tersebut.

Dua Pandangan Utama mengenai Hubungan Agama dan negara

Berdasarkan pendapat para ahli yang terlibat dalam diskursus tersebut, setidaknya terdapat dua paradigma utama yang menjelaskan hubungan antara agama dan negara.

Teokrasi
Pandangan Teokrasi diusung oleh kaum religius. Pandangan tersebut menyatakan bahwa kekuasaan agama merupakan suatu hal yang ilahiah sehingga ketundukan kekuasaan negara—yang pada dasarnya merupakan bentukan manusiawi berdasarkan kesepakatan suatu masyarakat—terhadap agama merupakan suatu keharusan.

Beberapa pendukung pandangan tesebut antara lain datang dari kaum muslim seperti Sayyid Qutb[3] dengan ideologi quttbiyah serta Ruhollah Khomeini[4], dan dari kaum kristiani seperti Rousas John Rusdoony[5] dengan Christian Reconstructivism-nya.

Sekularisme
Pandangan kedua disampaikan oleh kaum sekuler. Arti sekuler menekankan pemisahan antara kekuasaan agama dan negara, seperti Jeffersonian Democracy berdasarkan pandangan Thomas Jefferson dan Laïcité yang dipimpin oleh Emile Combe. Pemisahan tersebut dielaborasi lebih jauh oleh Linz[6], sekularisme dapat bersifat friendly maupun hostile (bersahabat atau tidak bersahabat) terhadap agama.

Hostile secularism merupakan bentuk agresif sekularisme yang menekankan pada pengerdilan wilayah kekuasaan agama pada batasan hubungan personal dan keluarga saja. Negara sebagai kekuasaan tertinggi membatasi keberadaan institusi pendidikan agama, penampilan simbol agama di ruang publik, sampai dengan pembatasan peribadatan keagamaan.

Berbeda dengan hostile secularism, friendly secularism hanya memberikan jarak terhadap negara dengan agama untuk meminimalisasi intervensi politik yang dilakukan oleh agama.

Kontestasi Teokrasi dan Sekularisme

Teokrasi dan sekularisme seolah-olah bersifat sebagai suatu pandangan biner yang berlawanan; Masing-masing pengusungnya memiliki pendapat yang negatif terhadap pandangan yang dianggap sebagai antitesis dari pandangan yang dimilikinya.


picture by Rama

Mengapa pendukung Teokrasi menolak Sekularisme?
  1. Adanya pendapat bahwa pemisahan yang dilakukan oleh kaum sekuler merupakan pembatasan kebebasan dan hak yang ada bagi mereka. Karena, menurut mereka, agama memiliki nilai, norma, serta aturan yang holistik sehingga tidak seharusnya dibatasi penerapannya pada sebatas hubungan personal dan keluarga saja. 
  2. Sekularisme dinilai membunuh identitas dan karakter yang mereka usung dengan menerapkan batasan-batasan penampilan simbol agama, baik secara total di hadapan publik maupun secara terbatas pada ruang-ruang tertentu. 
  3. Pemisahan antara kekuasaan agama dan negara dianggap sebagai bentuk pengerdilan dari kekuasaan ilahiah itu sendiri.
Mengapa pendukung Sekularisme menolak Teokrasi?
  1. Kejumudan (kemandekan) yang ada pada sifat agama itu sendiri. Kaum sekuler, yang pada umumnya merupakan pendukung demokrasi, menilai bahwa nilai, norma, dan aturan yang dibawa agama merupakan suatu hal yang statis yang tidak dapat diperdebatkan untuk memenuhi perkembangan kemasyarakatan yang ada. 
  2. Kekuasaan yang didasari pada suatu kekuatan abstrak merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima secara rasional. 
  3. Seringkali terjadi penyalahgunaan yang dilakukan kaum agamis dengan kekuasaan agamanya berdasarkan interpretasi yang menguntungkan rezim suatu golongan/pemerintahan yang mengusung bentuk agama tertentu.

Perkembangan Kontestasi dan Timbulnya Teror

Kontestasi tersebut berkembang secara menguntungkan terhadap pandangan sekularisme. Gerakan rasionalisme dan penyebaran paham demokrasi secara global merupakan dua dari beberapa motor penggerak peningkatan negara sekular.

Secara teknis, perkembangan sekularisme ditandai dengan ditandatanganinya deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1776. Perlahan-lahan selama kurang lebih 300 tahun, sekularisme mulai berkembang dan diadopsi banyak negara, khususnya negara-negara yang pada awalnya menganut teokrasi atau religious dominion. Jatuhnya kekhalifahan Otoman (sekarang Turki) dan pembubaran kekhalifahan Sokoto (sekarang Nigeria) merupakan sedikit dari beberapa contoh dari bergesernya pandangan teokrasi menjadi sekularisme yang dialami oleh beberapa negara yang ada.

Dominasi pandangan sekularisme tersebut tentunya tidak terjadi secara damai begitu saja. Dominasi tersebut menyebabkan munculnya perlawanan demi perlawananan yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu dengan menggunakan teror. Gerakan terorisme tersebut dapat diobservasi setidaknya pada jaringan teroris Al-Qaeda, Jamaah Islamiyah di Indonesia, National Liberation Front of Tripura di India, Iron Guard di Romania, dan sebagainya.

Perlawanan menggunakan teror setidaknya dapat dijelaskan dalam dua bagian.

Pertama, kaum agamis merasa termarginalkan. Hal tersebut mungkin saja dipandang oleh kelompok agamis sebagai ketidakbersahabatan ‘rezim’ pemerintahan sekuler terhadap pandangan mereka. Dan dapat dianggap oleh mereka sebagai ketiadaan jalur damai, khususnya dalam percaturan politik, untuk mencapai dan menyuarakan aspirasi mereka.

Bila dikaitkan dengan teori agresi, frustration-aggression theory dapat menjelaskan hal tersebut dapat menjadi pemicu rasa frustasi bagi kelompok agamis yang disebutkan di atas sehingga tidak menutup kemungkinan mereka menganggap bahwa teror merupakan jalan satu-satunya dalam menyuarakan hal aspirasi mereka.

Kedua, tensi tersebut dapat terjadi/diperparah dengan anggapan bahwa sekularisme merupakan produk asing yang menginvasi nilai dan norma lokal yang dianggap sudah terlebih dahulu ada. Invasi terhadap nilai dan norma lokal tersebut dianggap oleh kaum agamis sebagai bentuk stigmatisasi dengan pembunuhan karakter dan penghilangan identitas yang mereka anggap ideal dan sakral.

Hal tersebut sesuai dengan strain-and-deprivation theory yang menyatakan stigmatisasi sosial merupakan salah satu yang dapat memicu agresi (atau menjadi pemicu rasa frustasi yang juga dapat dihubungkan dengan frustration-aggression theory).

Sintesis Dua Pandangan: Penyeimbangan Agama dan Negara untuk Penanganan Terorisme Agama

Timbulnya kelompok dan aktivitas teror yang dilakukan kaum agamis terhadap negara sekuler menciptakan suatu pertanyaan baru. Bagaimanakah pendekatan yang dapat dilakukan untuk menangani teror tersebut? Setidaknya terdapat sebuah pendekatan yang dapat dilakukan untuk menangani teror tersebut, yaitu pendekatan teori integralistik yang dikemukakan oleh Wilbur Caldwell dan Dr. Soepomo.

Integralism (inggris: integral nationalism) menurut Caldwell[7]
Pandangan yang mendefinisikan bangsa sebagai suatu kesatuan organik. Perbedaan sosial kelas dan strata yang ada pada masyarakat heterogen merupakan suatu hal yang alamiah sehingga harus dipertahankan, bukan merupakan suatu hal yang harus diseragamkan. Oleh karena itu, bentuk pemerintahan yang terbaik untuk melayani masyarakat yang heterogen adalah pemerintahan yang dibentuk berdasarkan representasi kelompok dan golongan yang terhubung secara organik, bukannya representasi statis atas suatu bentuk ideologi tertentu.

Teori Integralistik atau Teori Kekeluargaan oleh Dr. Soepomo*
Negara dan bangsa adalah bentuk kesatuan organik. Negara tidak memihak pada kelompok manapun dan menjamin kerukunan serta semangat gotong royong antaranggota masyarakatnya. Teori integralistik tersebut mengusung kekeluargaan sebagai salah satu asasnya.
*pidatonya di hadapan peserta sidang BPUPKI[8] 



Bagaimanakah aplikasi teori integralistik terhadap hubungan agama & negara?

Teori integralistik dapat digunakan untuk menjembatani kebutuhan penyuaraan aspirasi antara kelompok agamis dan kelompok sekular, alih-alih memenangkan salah satu pihak saja, pemisahan yang dilakukan terhadap agama dan negara tidak dilakukan hanya semata-mata memisahkan agama dan negara.

Negara mengakomodasikan suatu ruang tertentu untuk agama sehingga agama dapat mempraktikan kekuasaannya dalam batasan tertentu. Sebagai contoh, Indonesia memberikan keleluasaan terhadap warga negaranya untuk memilih bentuk hukum agama/negara dalam perihal tertentu (seperti pewarisan) merupakan salah satu praktik teori integralistik yang menjembatani hubungan antara agama dan negara.

Otonomi daerah dan perlakuan khusus terhadap daerah istimewa merupakan contoh pembentukan representasi politis secara organik bagi kelompok agamis yang mengharapkan penerapan hukum agama. Hal tersebut menunjukan upaya penyeimbangan antara negara dan agama.

Dengan adanya penyeimbangan kekuasaan tersebut, khususnya dengan penyediaan jalur penyampaian aspirasi bagi kelompok agamis, pencetus rasa frustrasi yang dirasakan oleh kelompok agamis dapat diredam dan rekonsiliasi dapat dilakukan terhadap nilai dan norma ideal yang dimiliki mereka. Oleh karena itu, pendekatan dengan teori integralistik ini dapat dijadikan salah satu solusi dalam menangani terorisme agama yang terjadi karena adanya anggapan ketidakseimbangan antara kekuasaan agama dan negara.

***

Namun, pendekatan teori integralistik tidak sepenuhnya dapat berdiri sendiri dalam meminimalisasi kegiatan teror yang dilakukan oleh kaum agama. Pendekatan teori integralistik ini cocok dilakukan terhadap kelompok-kelompok agama yang tidak mengharapkan pemenuhan hukum agama sepenuhnya.

Kelompok-kelompok agamis yang sangat statis dan keras kepala untuk melakukan separatisme dan pembentukan negara dengan ideologi agama tertentu tentunya tidak dapat dijembatani oleh pendekatan ini, karena yang diharapkan oleh mereka bukanlah keseimbangan kekuasaan, melainkan perpindahan dominasi kekuasaan dari negara ke agama.



[1] “Agama.” http://bahasa.cs.ui.ac.id. Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2013. Web. 8 Maret 2013.
[2] “Negara.” http://bahasa.cs.ui.ac.id. Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2013. Web. 8 Maret 2013.
[3] Qutb, Sayyid. Social Justice in Islam. London: Octagon Books, 1977. Digital.
[4] Khomeini, Ruhollah. Islamic Government: Governance of the Jurist. London: Alhoda, 2002. Digital.
[5] Rushdoony, Rousas. The Institutes of Biblical Law. Craig: The Craig Press, 1973. Digital.
[6] Linz, Juanz. “The religious use of politics and/or the political use of religion.” Totalitarianism and Political Religions. Ed. Hans Maier. London: Routledge, 2004.102-119. Digital.
[7] Caldwell, Wilbur. American Narcissism: the Myth of National Superiority. New York: Algora Publishing, 2006. Digital.
[8] Mahifal. “Paham Integralistik / Kekeluargaan Indonesia”. http://bisikankalbu.files.wordpress.com/2008/11/8-paham-integralistik-kekeluargaan-indonesia.pdf
Read More...

25 July, 2013

Pengobatan Alternatif vs. Konvensional di Indonesia

2 comments

Pengobatan Alternatif
Jika berhasil: dipuji-puji hebat, digembar-gemborkan
Jika gagal     : "ya namanya juga alternatif". Masyarakat lebih permisif atau bahkan ada yang malu mengakui bahwa telah menjalani pengobatan alternatif

Pengobatan Konvensional (Dokter Profesional)
Jika berhasil: "ya itu kan emang tugas dokter"
Jika gagal     : "wah, kasus malpraktik ini!"

Inilah realita masyarakat Indonesia. Terlalu banyak gap of knowledge di luar sana, dan jangan lupa, kemalasan berpikir. Ditambah budaya masyarakat yang menyenangi dongeng dan hal-hal berbau mistis, supranatural, dan magis.

Apakah misalnya di negara maju seperti Amerika Serikat tidak terjadi hal demikian?
Ya ada saja pengobatan alternatif beredar di tengah masyarakat Barat. Tapi karena pemikiran dan ilmu pengetahuan mereka harus diakui sudah lebih maju, mereka lebih menghargai 'jasa' pengobatan konvensional oleh dokter atau praktisi kesehatan profesional.

Kalo di Indonesia? Yaa gitu dehh..


Tulisan ini ditujukan bukan untuk membenarkan/menyalahkan salah satu jenis pengobatan di atas. Tapi untuk memperlihatkan ketidakadilan dan bias konfirmasi di tengah masyarakat kita yang pada akhirnya menghalangi akses masyarakat itu sendiri untuk mendapatkan perawatan yang layak/seharusnya.

Pernahkah kamu mengalami dilema seperti di atas yang kamu rasakan benar jadi menghambat diri kamu atau kerabat terdekat mendapatkan pengobatan yang layak? Bagi ceritamu di bagian komen ya.. Dan jika kamu setuju dengan tulisan sentilan ini, spread the words ;)

Gambar oleh Jessica SiscawatiQuote by dr. Ryu Hasan
Read More...

22 July, 2013

Cewek Matre vs. Cowok Cabul

8 comments
Ada pandangan yang lumayan umum beredar di dunia petualangan cinta manusia:
"Kenapa sih pria itu cenderung melihat fisik aja?"
"Kenapa sih cewe matre?"

Percaya atau tidak, jawabannya dapat dijelaskan dari sejarah/perjalanan evolusi manusia.

Manusia (Homo sapiens sapiens) sebagai spesies memiliki tujuan untuk bertahan hidup (survive), melestarikan spesiesnya dengan cara bereproduksi. Membesarkan keturunan untuk mengestafetkan gennya. Evolution drive (dorongan evolusi) ini mempengaruhi insting biologi manusia, dan tanpa kita sadari membentuki social behavior (perilaku sosial) kita.

***

Apa yang Dicari Wanita dari Pria?
Pertama tentang wanita. Wanita harus hamil dan mengasuh keturunannya. Oleh karena itu, wanita membutuhkan security dan stabilitas akan resource yang menunjangnya menjalankan peran ibu, "pengasuh anak". Salah satunya adalah resource finansial!

Nah, itu kenapa ketika mencari pasangan, wanita itu agak "matre". Mencari pria yang sudah mapan, dapat menafkahi keluarga serba berkecukupan, bahkan cari calon suami yang kaya raya (sinetron banget ga sih..). Semuanya berakar dari insting biologis si wanita tadi, menjalankan perannya sebagai "pengasuh", agar misi pelestarian spesies dapat dipenuhi.

Apa yang Dicari Pria dari Wanita?
Di sisi lain, insting primitif biologis pria lebih sebagai "penyebar benih". Sebagai penyebar benih, pria ingin benihnya diestafetkan melalui "medium" yang high quality. Pria ingin memastikan bahwa "penerima" benihnya berkualitas, dalam hal ini ya pasangan wanitanya.

Ini mengapa pria lebih melihat fisik tubuh wanita dalam mencari pasangan. Karena pysichal appeareance adalah sinyal dari gen yang sehat dan berkualitas. Wajah cantik jelita, badan bahenol, payudara mantep. Ya itu semua sinyal gen yang sehat dan ternutrisi baik.

"Ga gitu juga kali fan. Ga semua pria mupeng fisik, ga semua wanita matre."
Iya saya mengerti. Saya menjabarkan behaviour secara umum, generalisasi. Exception per case ya pasti ada.

***

Ayah yang Baik, Pria Idaman Wanita

Walaupun demikian, seiring perjalanan evolusi manusia, pria yang mulai 'menyadari' dan menginvestasikan resource-nya (uang, waktu, dan emosional) dalam parenting/mengasuh anak (fatherhood) ternyata meningkatkan survival rate. Oleh karena itu, insting biologis pria kini tidak hanya sekedar sebagai "penyebar" benih. Akan tetapi, pria kini juga mau mulai fokus menginvestasikan waktu dan emosionalnya ke anak. Menjadi ayah yang baik..

Hal ini pun turut mempengaruhi insting wanita lagi. Si wanita kini tidak hanya sekedar melihat finansial si pria, tapi juga mulai melihat kualitas si pria, "dia bisa menjadi ayah yang baik ga ya? bisa menjadi kepala keluarga yang baik ga ya?"

***

Pornografi vs. Novel Romantis

Nah, ini juga bisa menjawab, mengapa pria lebih suka menonton film bokep (porn) dan kenapa wanita lebih suka membaca novel romantis?

Pria memiliki insting biologis primitif untuk lebih melihat penampilan fisik. Nah, film bokep (porn) sangat menyuguhkan itu.

Di sisi lain, wanita memiliki insting untuk mencari "sponsor" keluarga terbaik. Nah, novel romansa sangat menyuguhkan itu. Hal-hal romantis yang dilakukan pria (yang digambarkan di novel itu) adalah sinyal yang ditangkap wanita bahwa si pria mau (willing) untuk menginvestasikan resource-nya (finansial, waktu, dan emosional) dalam sebuah hubungan, bahkan untuk menjadi "sponsor" keluarga yang baik.

Pemahaman yang serupa juga dapat menjawab, mengapa pada social media (FB dan Twitter, dll) atau online dating site, pria cenderung lebih memperhatikan profile picture akun wanita sedangkan wanita lebih membaca isi profil si pria.

***

Sperma Favorit

Bahkan, insting biologis wanita ini tetap konsisten pada 'pasar' sperm bank.

Di US, contohnya, terdapat biro jodoh yang melibatkan mekanisme sperm bank. Para pria memberikan sampel sperma mereka untuk dianalisis menjadi profil mereka. Profil (hasil analisis sperma pria) akan disuguhkan ke klien. Klien biro jodoh ini adalah wanita yang sedang mencari pasangan. Dengan analisis sperma pria, kita dapat mengetahui primanya biologis si pria. Dari analisis sperma pria, dapat diketahui, histori atau penyakit bawaan, projeksi fisik si pria (bisa dianalisis lho, si pria dengan sperma ini, ganteng apa enggak), dan juga tentunya personality si pria.

Tahukah kamu? Sperma, eh pria yang paling "laku" atau jadi favorit klien wanita?
'Sperma favorit' adalah sperma dengan profil pria yang memiliki personality yang baik, the Nice Guy..

Para wanita ini yaa. Ga fisik, ga interaksi sosial, ga analisis sperma, teteup intuisinya menseleksi pria yang baik. Hehehe..

"Yah, masa harus submit sperma dulu fan biar para wanita tau saya bisa jadi ayah yang baik? Indikator nice guy lain yang bisa disinyalkan apa?"

Sinyal "ayah baik" lainnya adalah kepribadian yang ramah (baik), murah senyum, daaannn... supel pada anak kecil.

Baca lebih lanjut :
Ayah Seksi: Pesona Pria yang Supel pada Anak-anak
Pria-pria yang friendly sama anak kecil, dapat meningkatkan nilai seksinya di mata wanita (consciously or unconsciously), bahkan bagi wanita yang hanya mencari "fun" saja (tidak mencari hubungan yang serius).

Itu juga kenapa, wanita-wanita suka pada heboh melhiat pria seksi yang gendong anaknya di mall atau sambil membawa stroller anaknya. Nilai seksinya plus plus deh.

***

Sumber:
Menyusul!!
Hehehe. Histori sumber saya kehapus, jadi harus cari satu per satu lagi link nya. Akan saya update segera.

Read More...

17 July, 2013

Kamu Salah, Aku Benar

4 comments

Ketika kamu tiba-tiba memiliki impuls untuk mengkoreksi seseorang (khususnya orang terdekat), tanya dulu ke diri kamu: apakah karena 1. kamu ingin menjadi 'benar'? atau 2. kamu benar-benar peduli kepadanya?

Kedua motif ini tentunya berbeda. Motif 1 adalah semata-mata ego atau kebanggaan kamu untuk selalu benar. Motif 2 adalah kasih sayang (welas asih) kamu untuk melihatnya menjadi lebih baik lagi. 

Jika benar itu karena soal ego kamu semata untuk merasa paling/selalu benar,, tahan diri kamu! Hubungan kamu jauh lebih berharga daripada ego mu.

Mana yang lebih penting, ego kamu atau keharmonisan hubungan kalian?

Jika benar itu karena tulus kasih sayang kamu untuk melihatnya lebih baik lagi dan koreksi itu memang perlu dilakukan, sampaikanlah dengan cara asertif..

Karena ngomel hanya bikin orang males! Because ngomel just push people away..

Simak ilustrasi dengan 2 skenario penyampaian berikut.
A = kalimat agresif a.k.a ngomel
B = kalimat asertif

*antrian diselak*
A: Woi nj*ng, jangan asal nyerobot dong!
B: Maaf mas, saya sudah mengantre duluan :)

*si cowok lupa jemput pacar karena keasikan main futsal*
A: Alah, bilang aja kamu males kan jemput aku? Ga usah kasih janji kalo gitu. Kamu udah ga sayang lagi sama aku.
B: Aku tau kamu senang olahraga dan aku juga seneng ngeliat kamu punya banyak temen, tapi aku bakal menghargai kalo kamu bisa nepatin janji kamu jemput aku sore tadi *pasang wajah sedih cute bikin ga nahan*

*lagi survey cari rumah baru ceritanya, rutenya masih meraba-raba*
A: Tuh kan kelewatan! Kamu ini gimana sih? Udah dibilangin belok kiri. Jauh lagi deh muternya. Tuh lah ngelamun aja!
B: Wah sayang, kita kelewatan. Ternyata bener belok kiri yang tadi. Kamu ga kecapekan nyetir kan? Yaudah kita muter lagi aja. Berarti lain kali, kita udah tau ya jalannya. :)

*si mama nyuruh anaknya mengurus sesuatu*
A: Gimana lah kamu ini? Kan mama udah bilang caranya itu begini. Masa gitu aja ga becus. Bongak sih!
B: Ya salah ya? Yaudahlah, mau gimana lagi. Mungkin mama juga kurang jelasin dengan jelas. Ntar kita urus sama-sama deh. Kamu bingung yang bagian mana?

Kalo kamu menempatkan diri sebagai lawan bicara di tiap case, apa reaksi kamu untuk setiap skenario kalimat? 
Mana kalimatnya yang lebih enak didenger? ;) 
Mana yang kalimatnya lebih menunjukkan belas kasih dan bakal lebih kamu hargai? :)

Ayam atau Bebek?

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: “Kuek! Kuek!”

“Dengar, itu pasti suara ayam”, kata si istri.

“Bukan, bukan. Itu suara bebek, “kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuuk’, bebek itu ‘kuek kuek'. Itu bebek, sayang “, kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

“Kuek! kuek!” terdengar lagi.

“Nah, tuh! Itu suara bebek, “ kata si suami.

“Bukan, sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tanda si istri sembari menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a..da..lah.. Be..bek. B-E-B-E-K. Bebek! Ngerti ?” suami berkata dengan gusar.

“Tapi itu ayam”, masih saja si istri bersikeras.

“Itu jelas-jelas bue..bebek, kamu…kamu….” (terdengar lagi suara “Kuek ! Kuek !” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.)

Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam…. “

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”

“Terima kasih, sayang, “ kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kuek! Kuek!”, terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud cerita di atas bahwa si suami akhirnya sadar: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam indah itu. Berapa banyak hubungan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita itu benar, namun belakangan ternyata kita salah. Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

situasi dan tokoh dapat disesuaikan dan diganti: konteks pasangan, orang tua-anak, sesama teman, atau atasan-bawahan

***

Apakah kamu suka ngomel? Apa rasanya mendengarkan orang ngomel dan berkomunikasi agresif? Pernahkah kamu ribut ga karuan sampai lupa apa yang diributin? Sampai kamu sadari kalo siapa yang benar itu ga penting, lebih penting hubungan yang dibangun.

Share cerita kamu di bagian komen ya :)
Dan jika kamu suka tulisan ini, bantu share ya ;)

Sumber:
Kisah Ayam atau Bebek diambil dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya #1 by Ajahn Brahm
Penggalan twit @keisavourie
http://indrawakaf.blogspot.com/2011/01/komunikasi-asertif.html

Read More...

09 July, 2013

Saatnya Berubah! (Take the Leap)

4 comments

Energi negatif itu.. kadang tanpa kita sadari, adiktif. Kita suka sekali larut dalam pikiran negatif, entah itu marah, galau, takut, minder, bertanya kepada dunia “kenapa aku?” daan sebagainya. Seakan-akan kita lah yang memilih untuk jalan di tempat. Menciptakan dan menikmati lingkaran setan yang kita buat sendiri, stick to it.

Ketika orang-orang menganjurkan kita untuk menghilangkan pikiran negatif itu, melangkah maju (move on),, kita kembali lagi mengorek-ngorek pikiran negatif itu. Semacam ada adiksi di situ. Kembali membangun pengadilan dalam pikiran kita sendiri, “iya tapi kan dia begini begini, dia salah!!”, “aku salah, aku bodoh..”, “tuh kan begini begitu”, “aduh gimana ya ntar..”. Mau maju, tapi galau melulu.

Ibarat rasa gatal. Digaruk makin enak. Padahal makin digaruk, bisa-bisa jadi borok. Ada kalanya, kita harus membiarkan rasa gatal itu hilang dengan sendirinya.. *

gambar galau
Gambar Galau: Overthinking

Lepaskan yang Tidak Perlu

Dalam sebuah kisah, seorang guru memungut sebuah ranting di pinggir jalan. Ia berbalik dan berkata, “Muridku, apa ini berat?” Sebelum si murid bisa menjawabnya, sang guru sudah melempar ranting itu ke semak-semak, lalu berkata, “Lihat kan? Itu hanya berat jika kita melekat padanya.” Ya, itu hanya berat ketika kita memegangnya, namun begitu kita melepasnya, tidaklah berat lagi. Sungguh mendalam, sederhana, dan tak terlupakan.

Apakah kamu kelelahan? Mungkin itu karena kamu membawa terlalu banyak hal di ransel batin kamu. Jika kita benar-benar melihat ke dalam ransel itu, apa yang bisa dibuang? Inilah salah satu cara melepas, melihat apa yang bisa kita tanggalkan, apa yang bisa kita buang. 

Betapa menakjubkan juga ketika kita menemukan bahwa banyak hal yang bisa kita buang tanpa ada dampak buruk yang terjadi. Jika kita membuang gubrisan kita mengenai masa lalu dan masa depan, sebenarnya tak ada yang akan jadi buruk. Itulah batu-batu pertama yang harus dikeluarkan dari ransel batin kita.

Masa lalu biarlah berlalu. Masa depan kita ciptakan sendiri.

Lepas gubrisan mengenai masa lalu dan masa depan
Lepas pikiran yang suka mencari kesalahan dan mengeluh
Tidak banyak menyimpan pikiran, baik itu pikiran negatif, pikiran positif, maupun yang bodoh

Cabai Nasruddin

Nasruddin sedang makan setumpuk cabai rawit, makan satu demi satu, terus menerus, sampai matanya merah dan air matanya membanjir, ingusnya meleler. Ia masih terus mengunyah cabai itu ketika ada orang datang dan bertanya kepadanya, ”Mengapa kamu makan banyak cabai?”. Nasruddin menjawab,”Aku mencari cabai yang manis!”

Inilah yang orang lakukan dalam hidup - entah dalam menjalin hubungan, tempat, atau pekerjaan, selalu mencari yang manis. Tentu saja, tidak ada cabai yang manis. Cabai ya cabai. Semua cabai pedas, dan hanya menyia-nyiakan waktu terus makan dan makan, berharap akan menemukan cabai yang manis dalam hidup.

Inilah sesuatu yang harus kita alami sendiri. Jika kita pintar, kita tidak harus terpukul oleh kehidupan berkali-kali. Ini lebih dari sekadar menyadari duka, namun juga menyadari lawan dari duka, yaitu mengenali kebahagiaan. Jika kita hanya memusatkan perhatian pada duka kehidupan, ini tidak akan menjadi insentif pendorong yang cukup bagi orang untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan guna menemukan pembebasan dari duka.


Jika kita memikirkan mengenai hal itu dan coba mencari cara dan jalan untuk mendapatkan hal-hal yang kita sukai - hanya yang enak dan nikmat, hanya makanan enak, hanya tempat yang kita suka, kita akan menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Mustahil. Kita akan berlari mengitari seluruh dunia selamanya. Seperti mencari kura-kura berkumis. Kura-kura jelas tidak berkumis!

***

Take the Leap

Mengutip kebijaksanaan Umar ibn Al-Khattab.
No amount of guilt can change the past. No amount of worrying can change the future. Go easy on yourself.. - Umar ibn Al-Khattab

Kenali diri sendiri untuk mengetahui arti kebahagiaan, what really matters to you, apa yang membuatmu hidup bahagia. Kejar kebahagiaan itu, take active decision (ambil tindakan nyata). Yang membedakan diri kita sekarang dengan diri yang kita inginkan adalah action (tindakan) kita. Yang membatasi diri kita adalah diri kita sendiri.


Sesungguhnya keputusan yang diambil saat ini (tentunya setelah mempertimbangkan baik buruknya) adalah keputusan yang terbaik, asalkan dijalani dengan sepenuh hati. *

Tapi ntar kalo begini begitu gimana?”, kamu pun masih menggalau..

A: Kamu mau masuk surga?
B: Mau..
A: Kamu tau surga itu ada? Tau dari mana? Emangnya kamu pernah ngeliat langsung ke surga gitu? Trus kenapa kamu mau masuk surga?
B: Ya saya meyakini sih. I believe.
A: Yeah.. Mostly, people believe in it. Saya percaya surga itu ada, dan saya mau masuk surga.
A: Kamu tau ga tahun depan kamu bakal sukses? Kamu tau ga tahun depan kamu bakal seperti apa?
B: Enggak sih. Tapi saya mau meyakini dengan usaha giat, saya bisa sukses.
A: Ini seperti analogi surga. Kita tidak tahu tahun depan kita bakal gimana. Tapi jika kita memiliki positive attitude, ini bisa memungkinkan kita meraih hal yang kita impikan. *

Kamu udah tau mau apa, tapi masih ragu-ragu, ga yakin, merasa ga bisa?

Do it. Just do it. You will feel inadequate. You will feel you can’t do it, but you owe it to yourself to try. You might only have a 50/50 chance of making it, but you’re looking at a 100% chance of failure if you don’t even try. - Nancy Sathre-Vogel

Nancy Sathre-Vogel bersepeda dari Alaska hingga selatan Argentina bersama suami dan anak kembar laki-lakinya (10 tahun) pada sebuah perjalanan yang berlangsung selama 3 tahun.

So, siapapun kamu.. yang lagi galau, menghadapi problema, dilema, atau transisi kehidupan, menginginkan perubahan dalam hidup, atau ingin menggapai impian dan kebahagiaan..
Take the leap, would you? ;)


***
Adakah keputusan besar yang kamu ambil akhir-akhir ini? Bagaimana ceritanya kamu menjalani proses hingga mengambil keputusan tersebut? Atau kamu sedang berada dalam dilema? Share cerita kamu di bagian komen ya :)

Sumber:
Kisah "Lepaskan yang Tidak Perlu" dan "Cabai Nasruddin" dikutip dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1 & 2 by Ajahn Brahm dan (*) merupakan wisdom dari beberapa teman. 
http://berhijabcantik.blogspot.com/2012/02/lepaskan-yang-tak-perlu.html

Read More...

02 July, 2013

Saya adalah Budak Terbaik

6 comments

Kali ini, saya ingin mengutip pidato kelulusan dari seorang pelajar lulusan SMA Amerika. Isi pidato ini begitu menggugah, mengingat disampaikan oleh seorang pelajar usia 18 tahun, tapi mampu memandang masalah sistem pendidikan yang dienyamnya secara holistik. Saya sendiri kagum dengannya.

Kutipan pidato ini akan memperkaya tulisan saya sebelumnya: "Lupakan Amerika, Pendidikan di Finlandia yang Terbaik Sedunia" dan "Sebuah Renungan Masalah Pendidikan di Indonesia Saat Ini". Kedua tulisan ini sudah banyak mengupas kritik pada sistem pendidikan ter-kormersialisasi yang notabene adalah model sistem pendidikan publik yang banyak diterapkan di banyak negara.

***

Ada sebuah tradisi di SMA Amerika, di mana seorang lulusan terbaik akan membacakan pidato sekolah. Mereka disebut sebagai valedictorian. Biasanya mereka akan menyampaikan kata-kata perpisahan, ucapan terimakasih dan sebagainya, sebelum kemudian menerima ijazah tanda kelulusan.

Di tahun 2010, seorang valedictorian bernama Erica Goldson, pelajar di Coxsackie-Athens High School, New York, mengejutkan para guru, murid dan orang tua dan juga dunia (berkat jejaring sosial) lewat pidato perpisahan di sekolahnya. Alih-alih menyampaikan teks pidato perpisahan yang standar, ia malah menyampaikan sebuah pidato pendidikan yang sangat powerful yang mengecam sistem pendidikan di negaranya. Ia menggambarkan sikap apatis terhadap sebuah sistem pendidikan yang disebutnya sebagai bentuk indoktrinasi yang hanya menghasilkan robot-robot yang seragam untuk masuk ke dunia kerja.

Belakangan, pidato Erica ini banyak beredar kembali di social media. Mungkin karena ini ada hubungannya dengan gembar-gembor kurikulum 2013 yang kontroversial itu, atau juga karena kemarin lagi hebohnya pelaksanaan UN yang ambruladul. Versi aslinya bisa Anda lihat di situs pribadinya. Intip juga video pidatonya berikut ini.



Di Sini Saya Berdiri

Tersebutlah kisah tentang seorang murid Zen yang masih muda, tapi sangat tekun. Suatu hari datanglah ia kepada sang guru dan bertanya, ”Kalau aku berusaha keras dan rajin, berapa lama aku akan menemukan Zen?” Sang Master berpikir sejenak lalu menjawab “Sepuluh tahun.” Si murid kembali bertanya, “Tapi kalau aku berusaha sangat, sangat keras dan berusaha belajar dengan cepat, berapa lama?” Sang Master menjawab, “Hmm, dua puluh tahun.” “Tapi kalau aku benar-benar berusaha, berapa lama?” si murid masih bertanya. “Tiga puluh tahun” jawab sang Master. “Aku tidak paham,” jawab si murid yang kecewa. “Setiap kali aku bilang akan berusaha keras, kau justru bilang perlu waktu lebih lama. Mengapa begitu?” Si Master pun menjawab, “Kalau pandanganmu tertuju pada satu tujuan, pandanganmu pun hanya akan terpusat ke satu jalan.”

Inilah dilema yang saya hadapi pada sistem pendidikan di Amerika. Kita terlalu terpusat pada satu tujuan, entah itu lulus ujian atau tamat sebagai peringkat pertama. Namun, dengan cara ini, kita tidak benar-benar belajar. Kita hanya melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan semula.

Mungkin kalian akan berpikir, “Ya, kalau kamu bisa lulus ujian atau terpilih menjadi valedictorian, bukankah artinya kamu sudah mempelajari sesuatu?" Iya, ada yang memang sudah kita pelajari, tapi tidak semua yang seharusnya bisa dipelajari. Mungkin kita hanya belajar menghafal nama orang, tempat, dan tanggal yang hanya kemudian dilupakan demi memberikan tempat yang kosong di otak untuk ujian berikutnya. Sekolah tidaklah menjadi sesuatu yang seharusnya. Kini, bagi kebanyakan orang, pengertian sekolah adalah tempat di mana tujuan mereka hanyalah agar bisa selesai secepat mungkin.

Sekarang saya telah mencapai tujuan itu. Saya lulus.. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di angkatan saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada. Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang akan datang kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah seseorang yang terjebak di dalam pengulangan – budak dari sistem yang dibuatkan untuknya. Tapi kini, saya sudah berhasil menunjukkan bahwa saya adalah budak yang terbaik. Saya sudah melakukan apa yang diminta sebaik mungkin.

Di saat yang lain duduk di kelas, mencoret-coret di kertas dan akhirnya menjadi seniman besar... saya duduk di kelas, mencatat dan menjadi seorang peserta ujian yang hebat. Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asik membaca hobi-hobi mereka... saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik... saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu.

Saya jadi berpikir, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya. Tapi terus apa? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya berhasil atau tersesat selamanya? Saya tidak tau mau apa saya dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan..

John Taylor Gatto, seorang pensiunan guru dan aktivis yang kritis terhadap program wajib belajar pernah menegaskan hal berikut ini.
“Kita bisa mendorong munculnya kualitas terbaik dari anak-anak muda, baik itu rasa ingin tahu, rasa petualangan, daya tahan dan wawasan yang mengejutkan, cukup dengan bersikap lebih fleksibel dalam urusan waktu, buku-buku acuan dan ujian-ujian. Caranya dengan memperkenalkan anak-anak itu kepada orang dewasa yang benar-benar kompeten, dan sesekali memberikan para siswa itu kebebasan yang diperlukan dalam mengambil resiko. Tapi kita tidak melakukan itu." - John Taylor Gatto

Di antara dinding-dinding beton ini, kita semua diharapkan untuk menjadi seragam. Kita dilatih untuk meraih yang terbaik dalam setiap ujian yang terstandarisasi, dan mereka yang menyimpang atau melihat dari sudut pandang yang berbeda, dianggap tidak berharga dalam sistem pendidikan umum, dan dianggap sebagai penghinaan. H. L. Mencken pernah menulis dalam “The American Mercury" di tahun 1942, bahwa tujuan pendidikan umum yang ada sekarang adalah bukan..
.. untuk mengisi spesies-spesies muda itu dengan pengetahuan atau membangkitkan kecerdasan mereka.. Itu sama sekali tidak benar. Tujuannya… semata untuk sebisa mungkin menurunkan setiap individu ke tingkatan yang sama, membiakkan dan melatih prinsip kewarganegaraan yang standar, menekan pembangkangan dan orisinalitas. Itulah tujuan di Amerika Serikat (Gatto)

Untuk mengilustrasikan ide ini, saya ingin bertanya, terganggukah Anda dengan gagasan tentang “berpikir kritis." Apakah benar-benar ada yang namanya “berpikir tidak kritis?" Berpikir adalah memproses informasi dalam upaya untuk membentuk opini. Tapi jika kita tidak bersikap kritis saat mengolah informasi, apa kita benar-benar sudah berpikir? Ataukah kita tanpa pikir panjang menerima pendapat-pendapat lain sebagai kebenaran?

Inilah yang terjadi pada saya. Dan kalau bukan karena Donna Bryan, sosok guru bahasa Inggris yang berani tampil beda di kelas 10, yang mengizinkan saya membuka pikiran dan bertanya sebelum menerima doktrin dari buku-buku pelajaran, mungkin sudah habislah saya. Saya kini tercerahkan, tapi pikiran saya masih terasa lumpuh. Saya harus melatih kembali diri sendiri dan terus menerus teringat betapa gila sebenarnya tempat yang kelihatannya waras ini.

Dan sekarang saya ada disini, di sebuah dunia yang dipandu oleh ketakutan. Dunia yang menindas keunikan yang ada di dalam setiap diri kita. Dunia dimana kita harus menerima begitu saja omong kosong korporatisme atau materialisme yang tidak manusiawi, dan tidak bisa memaksakan perubahan.

Kita tidak bisa bersemangat pada sistem pendidikan yang diam-diam menyiapkan kita untuk pekerjaan yang terotomatisasi, untuk pekerjaan yang tidak perlu, bentuk perbudakan tanpa semangat untuk mencapai sesuatu yang bermakna. Kita tidak akan punya pilihan dalam hidup kalau uang yang menjadi kekuatan motivasi kita. Kekuatan motivasi itu harusnya berwujud gairah atau ketertarikan, passion. Passion yang langsung hilang begitu kita melangkah masuk ke dalam sebuah sistem yang lebih bersifat melatih, ketimbang menginspirasi.

Kita ini lebih dari sekedar robot rak-rak buku yang dikondisikan untuk memuntahkan fakta yang pernah diajarkan di sekolah. Kita semua sangat istimewa. Setiap manusia di muka bumi ini istimewa. Jadi tidakkah kita layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik?

Tidakkah kita layak menggunakan pikiran kita untuk menghasilkan inovasi daripada menghafal, mengembangkan kreatifitas ketimbang aktivitas tanpa makna, perenungan ketimbang kemandekan? Kita ada disini bukan untuk meraih gelar, lalu mendapat pekerjaan, agar kita bisa menjadi konsumen kepuasan demi kepuasaan industri. Ada yang lebih dari itu dan ada lebih banyak lagi.

Yang menyedihkan adalah.. mayoritas pelajar tidak memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi diri seperti saya. Kebanyakan pelajar dimasukkan ke dalam teknik cuci otak (brainwash) yang sama dalam upaya menciptakan tenaga kerja yang memuaskan. Yang bisa bekerja untuk kepentingan perusahaan-perusahaan besar dan pemerintahan rahasia. Dan yang paling parah adalah mereka sama sekali tidak menyadarinya.

Saya tidak akan mengembalikan masa-masa 18 tahun terakhir ini. Saya tidak bisa lari ke negara lain, di mana sistem pendidikannya ditujukan untuk mencerahkan ketimbang mengkondisikan. Bagian hidup saya yang ini sudah berakhir dan saya ingin memastikan tidak ada lagi anak-anak yang potensinya ditekan oleh kekuatan yang ditujukan untuk mengeksploitasi dan menguasai. Kita adalah manusia. Kita adalah pemikir, pemimpi, petualang, seniman, penulis, ahli teknik (engineer). Kita bisa menjadi apapun yang kita kehendaki, tapi hanya kalau kita memiliki sistem pendidikan yang memberikan sokongan dan bukannya menekan. Sebuah pohon bisa tumbuh hanya kalau akarnya diberi dasar yang sehat.

Bagi kalian yang masih harus terus duduk di meja dan mematuhi ideologi otoriter para instruktur, janganlah berkecil hati. Kalian masih punya kesempatan untuk bangkit, bertanya, bersikap kritis dan menciptakan perspektif kalian sendiri. Mintalah sebuah kondisi yang memberikan kalian kemampuan intelektektual. Yang memungkinkan kalian mengembangkan pikiran dan bukannya mengarahkannya. Mintalah sesuatu yang membuat kalian tertarik pada pelajaran. Mintalah agar alasan “Kalian harus mempelajari ini untuk ujian" tidaklah cukup baik untuk kalian. Pendidikan adalah alat yang sangat bagus, jika digunakan sebagaimana mestinya. Tapi pusatkanlah perhatian lebih pada belajar ketimbang meraih nilai yang bagus.

Bagi kalian yang bekerja di dalam sistem yang saya kecam, saya tidak berniat menghina kalian. Saya ingin memotivasi. Kalian punya kekuatan untuk mengubah hal yang tidak kompeten dari sistem ini. Saya mengerti kalian menjadi guru atau administrator pendidikan bukan untuk membuat siswa-siswa merasa bosan. Kalian juga tidak terima dengan kewenangan pihak berkuasa yang menentukan apa yang harus kalian ajari, dan kalian akan dihukum kalau tidak patuh. Potensi kamilah yang dipertaruhkan disini.

Untuk kalian yang hari ini akan meninggalkan institusi ini, saya ingin katakan, janganlah melupakan apa yang terjadi di kelas-kelas di sini. Jangan meninggalkan mereka yang datang setelah kalian. Kita adalah masa yang baru dan kita tidak akan membiarkan tradisi berkuasa. Kita akan runtuhkan dinding-dinding korupsi agar kebun-kebun pengetahuan bisa tumbuh di seluruh Amerika.

Jika dididik dengan benar, kita punya kekuatan untuk melakukan apapun. Dan lebih dari itu, kita akan menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan, karena kita akan menjadi orang yang baik dan bijak. Kita tidak akan menerima apapun begitu saja. Kita akan bertanya dan kita akan menuntut kebenaran.

Jadi, di sinilah saya berdiri. Saya berdiri di sini sebagai seorang valedictorian bukan karena saya yang mau. Saya dibentuk oleh lingkungan, oleh teman-teman sebaya yang sedang duduk menyaksikan saya. Saya tidak akan bisa mencapai semua ini tanpa kalian semua. Kalianlah yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini. Kalianlah yang selama ini menjadi pesaing saya, tapi juga menjadi tulang punggung saya. Karena itu kita semua adalah para valedictorian.

Sekarang waktunya saya seharusnya mengucapkan selamat tinggal kepada institusi ini, kepada mereka yang merawatnya, dan kepada mereka yang berdiri bersama saya dan yang berada di belakang saya. Tapi saya harap perpisahan ini lebih dari sekedar ucapan “sampai jumpa lagi," karena kita semua bisa bekerja sama untuk menumbuhkan sebuah gerakan pendidikan. Tapi pertama-tama, mari kita terima dulu lembaran kertas yang menunjukkan bahwa kita sudah cukup pandai untuk melakukannya!


***

Bagaimana pendapat kamu tentang sistem pendidikan Indonesia? 

Dengan isu Kurikulum 2013 dan UN terakhir, mungkinkah pemikiran-pemikiran seperti Erica ini tumbuh dan menggebrak di Indonesia? Atau kamu memiliki pandangan serupa dengan Erica?

Share your opinion in comment sectionAnd if you like this article, please share to the world. Thank you ;)

Sumber:
http://americaviaerica.blogspot.jp/p/speech.html
http://nol.suarane.org/post/47960170653/gagalnya-pendidikan-konvensional-pidato-erica-goldson
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151396517737444&set=a.53765742443.67897.601337443&type=1

Read More...