Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

17 July, 2013

Kamu Salah, Aku Benar

5 comments

Ketika kamu tiba-tiba memiliki impuls untuk mengkoreksi seseorang (khususnya orang terdekat), tanya dulu ke diri kamu: apakah karena 1. kamu ingin menjadi 'benar'? atau 2. kamu benar-benar peduli kepadanya?

Kedua motif ini tentunya berbeda. Motif 1 adalah semata-mata ego atau kebanggaan kamu untuk selalu benar. Motif 2 adalah kasih sayang (welas asih) kamu untuk melihatnya menjadi lebih baik lagi. 

Jika benar itu karena soal ego kamu semata untuk merasa paling/selalu benar,, tahan diri kamu! Hubungan kamu jauh lebih berharga daripada ego mu.

Mana yang lebih penting, ego kamu atau keharmonisan hubungan kalian?

Jika benar itu karena tulus kasih sayang kamu untuk melihatnya lebih baik lagi dan koreksi itu memang perlu dilakukan, sampaikanlah dengan cara asertif..

Karena ngomel hanya bikin orang males! Because ngomel just push people away..

Simak ilustrasi dengan 2 skenario penyampaian berikut.
A = kalimat agresif a.k.a ngomel
B = kalimat asertif

*antrian diselak*
A: Woi nj*ng, jangan asal nyerobot dong!
B: Maaf mas, saya sudah mengantre duluan :)

*si cowok lupa jemput pacar karena keasikan main futsal*
A: Alah, bilang aja kamu males kan jemput aku? Ga usah kasih janji kalo gitu. Kamu udah ga sayang lagi sama aku.
B: Aku tau kamu senang olahraga dan aku juga seneng ngeliat kamu punya banyak temen, tapi aku bakal menghargai kalo kamu bisa nepatin janji kamu jemput aku sore tadi *pasang wajah sedih cute bikin ga nahan*

*lagi survey cari rumah baru ceritanya, rutenya masih meraba-raba*
A: Tuh kan kelewatan! Kamu ini gimana sih? Udah dibilangin belok kiri. Jauh lagi deh muternya. Tuh lah ngelamun aja!
B: Wah sayang, kita kelewatan. Ternyata bener belok kiri yang tadi. Kamu ga kecapekan nyetir kan? Yaudah kita muter lagi aja. Berarti lain kali, kita udah tau ya jalannya. :)

*si mama nyuruh anaknya mengurus sesuatu*
A: Gimana lah kamu ini? Kan mama udah bilang caranya itu begini. Masa gitu aja ga becus. Bongak sih!
B: Ya salah ya? Yaudahlah, mau gimana lagi. Mungkin mama juga kurang jelasin dengan jelas. Ntar kita urus sama-sama deh. Kamu bingung yang bagian mana?

Kalo kamu menempatkan diri sebagai lawan bicara di tiap case, apa reaksi kamu untuk setiap skenario kalimat? 
Mana kalimatnya yang lebih enak didenger? ;) 
Mana yang kalimatnya lebih menunjukkan belas kasih dan bakal lebih kamu hargai? :)

Ayam atau Bebek?

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: “Kuek! Kuek!”

“Dengar, itu pasti suara ayam”, kata si istri.

“Bukan, bukan. Itu suara bebek, “kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuuk’, bebek itu ‘kuek kuek'. Itu bebek, sayang “, kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

“Kuek! kuek!” terdengar lagi.

“Nah, tuh! Itu suara bebek, “ kata si suami.

“Bukan, sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tanda si istri sembari menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a..da..lah.. Be..bek. B-E-B-E-K. Bebek! Ngerti ?” suami berkata dengan gusar.

“Tapi itu ayam”, masih saja si istri bersikeras.

“Itu jelas-jelas bue..bebek, kamu…kamu….” (terdengar lagi suara “Kuek ! Kuek !” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.)

Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam…. “

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”

“Terima kasih, sayang, “ kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kuek! Kuek!”, terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud cerita di atas bahwa si suami akhirnya sadar: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam indah itu. Berapa banyak hubungan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita itu benar, namun belakangan ternyata kita salah. Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

situasi dan tokoh dapat disesuaikan dan diganti: konteks pasangan, orang tua-anak, sesama teman, atau atasan-bawahan

***

Apakah kamu suka ngomel? Apa rasanya mendengarkan orang ngomel dan berkomunikasi agresif? Pernahkah kamu ribut ga karuan sampai lupa apa yang diributin? Sampai kamu sadari kalo siapa yang benar itu ga penting, lebih penting hubungan yang dibangun.

Share cerita kamu di bagian komen ya :)
Dan jika kamu suka tulisan ini, bantu share ya ;)

Sumber:
Kisah Ayam atau Bebek diambil dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya #1 by Ajahn Brahm
Penggalan twit @keisavourie
http://indrawakaf.blogspot.com/2011/01/komunikasi-asertif.html

Read More...

09 July, 2013

Saatnya Berubah! (Take the Leap)

5 comments

Energi negatif itu.. kadang tanpa kita sadari, adiktif. Kita suka sekali larut dalam pikiran negatif, entah itu marah, galau, takut, minder, bertanya kepada dunia “kenapa aku?” daan sebagainya. Seakan-akan kita lah yang memilih untuk jalan di tempat. Menciptakan dan menikmati lingkaran setan yang kita buat sendiri, stick to it.

Ketika orang-orang menganjurkan kita untuk menghilangkan pikiran negatif itu, melangkah maju (move on),, kita kembali lagi mengorek-ngorek pikiran negatif itu. Semacam ada adiksi di situ. Kembali membangun pengadilan dalam pikiran kita sendiri, “iya tapi kan dia begini begini, dia salah!!”, “aku salah, aku bodoh..”, “tuh kan begini begitu”, “aduh gimana ya ntar..”. Mau maju, tapi galau melulu.

Ibarat rasa gatal. Digaruk makin enak. Padahal makin digaruk, bisa-bisa jadi borok. Ada kalanya, kita harus membiarkan rasa gatal itu hilang dengan sendirinya.. *

gambar galau
Gambar Galau: Overthinking

Lepaskan yang Tidak Perlu

Dalam sebuah kisah, seorang guru memungut sebuah ranting di pinggir jalan. Ia berbalik dan berkata, “Muridku, apa ini berat?” Sebelum si murid bisa menjawabnya, sang guru sudah melempar ranting itu ke semak-semak, lalu berkata, “Lihat kan? Itu hanya berat jika kita melekat padanya.” Ya, itu hanya berat ketika kita memegangnya, namun begitu kita melepasnya, tidaklah berat lagi. Sungguh mendalam, sederhana, dan tak terlupakan.

Apakah kamu kelelahan? Mungkin itu karena kamu membawa terlalu banyak hal di ransel batin kamu. Jika kita benar-benar melihat ke dalam ransel itu, apa yang bisa dibuang? Inilah salah satu cara melepas, melihat apa yang bisa kita tanggalkan, apa yang bisa kita buang. 

Betapa menakjubkan juga ketika kita menemukan bahwa banyak hal yang bisa kita buang tanpa ada dampak buruk yang terjadi. Jika kita membuang gubrisan kita mengenai masa lalu dan masa depan, sebenarnya tak ada yang akan jadi buruk. Itulah batu-batu pertama yang harus dikeluarkan dari ransel batin kita.

Masa lalu biarlah berlalu. Masa depan kita ciptakan sendiri.

Lepas gubrisan mengenai masa lalu dan masa depan
Lepas pikiran yang suka mencari kesalahan dan mengeluh
Tidak banyak menyimpan pikiran, baik itu pikiran negatif, pikiran positif, maupun yang bodoh

Cabai Nasruddin

Nasruddin sedang makan setumpuk cabai rawit, makan satu demi satu, terus menerus, sampai matanya merah dan air matanya membanjir, ingusnya meleler. Ia masih terus mengunyah cabai itu ketika ada orang datang dan bertanya kepadanya, ”Mengapa kamu makan banyak cabai?”. Nasruddin menjawab,”Aku mencari cabai yang manis!”

Inilah yang orang lakukan dalam hidup - entah dalam menjalin hubungan, tempat, atau pekerjaan, selalu mencari yang manis. Tentu saja, tidak ada cabai yang manis. Cabai ya cabai. Semua cabai pedas, dan hanya menyia-nyiakan waktu terus makan dan makan, berharap akan menemukan cabai yang manis dalam hidup.

Inilah sesuatu yang harus kita alami sendiri. Jika kita pintar, kita tidak harus terpukul oleh kehidupan berkali-kali. Ini lebih dari sekadar menyadari duka, namun juga menyadari lawan dari duka, yaitu mengenali kebahagiaan. Jika kita hanya memusatkan perhatian pada duka kehidupan, ini tidak akan menjadi insentif pendorong yang cukup bagi orang untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan guna menemukan pembebasan dari duka.


Jika kita memikirkan mengenai hal itu dan coba mencari cara dan jalan untuk mendapatkan hal-hal yang kita sukai - hanya yang enak dan nikmat, hanya makanan enak, hanya tempat yang kita suka, kita akan menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Mustahil. Kita akan berlari mengitari seluruh dunia selamanya. Seperti mencari kura-kura berkumis. Kura-kura jelas tidak berkumis!

***

Take the Leap

Mengutip kebijaksanaan Umar ibn Al-Khattab.
No amount of guilt can change the past. No amount of worrying can change the future. Go easy on yourself.. - Umar ibn Al-Khattab

Kenali diri sendiri untuk mengetahui arti kebahagiaan, what really matters to you, apa yang membuatmu hidup bahagia. Kejar kebahagiaan itu, take active decision (ambil tindakan nyata). Yang membedakan diri kita sekarang dengan diri yang kita inginkan adalah action (tindakan) kita. Yang membatasi diri kita adalah diri kita sendiri.


Sesungguhnya keputusan yang diambil saat ini (tentunya setelah mempertimbangkan baik buruknya) adalah keputusan yang terbaik, asalkan dijalani dengan sepenuh hati. *

Tapi ntar kalo begini begitu gimana?”, kamu pun masih menggalau..

A: Kamu mau masuk surga?
B: Mau..
A: Kamu tau surga itu ada? Tau dari mana? Emangnya kamu pernah ngeliat langsung ke surga gitu? Trus kenapa kamu mau masuk surga?
B: Ya saya meyakini sih. I believe.
A: Yeah.. Mostly, people believe in it. Saya percaya surga itu ada, dan saya mau masuk surga.
A: Kamu tau ga tahun depan kamu bakal sukses? Kamu tau ga tahun depan kamu bakal seperti apa?
B: Enggak sih. Tapi saya mau meyakini dengan usaha giat, saya bisa sukses.
A: Ini seperti analogi surga. Kita tidak tahu tahun depan kita bakal gimana. Tapi jika kita memiliki positive attitude, ini bisa memungkinkan kita meraih hal yang kita impikan. *

Kamu udah tau mau apa, tapi masih ragu-ragu, ga yakin, merasa ga bisa?

Do it. Just do it. You will feel inadequate. You will feel you can’t do it, but you owe it to yourself to try. You might only have a 50/50 chance of making it, but you’re looking at a 100% chance of failure if you don’t even try. - Nancy Sathre-Vogel

Nancy Sathre-Vogel bersepeda dari Alaska hingga selatan Argentina bersama suami dan anak kembar laki-lakinya (10 tahun) pada sebuah perjalanan yang berlangsung selama 3 tahun.

So, siapapun kamu.. yang lagi galau, menghadapi problema, dilema, atau transisi kehidupan, menginginkan perubahan dalam hidup, atau ingin menggapai impian dan kebahagiaan..
Take the leap, would you? ;)


***
Adakah keputusan besar yang kamu ambil akhir-akhir ini? Bagaimana ceritanya kamu menjalani proses hingga mengambil keputusan tersebut? Atau kamu sedang berada dalam dilema? Share cerita kamu di bagian komen ya :)

Sumber:
Kisah "Lepaskan yang Tidak Perlu" dan "Cabai Nasruddin" dikutip dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1 & 2 by Ajahn Brahm dan (*) merupakan wisdom dari beberapa teman. 
http://berhijabcantik.blogspot.com/2012/02/lepaskan-yang-tak-perlu.html

Read More...

15 June, 2013

Sayap-sayap Belas Kasih

1 comment

Jika belas kasih dibayangkan sebagai seekor merpati yang anggun, kebijaksanaan adalah bagaikan sayap-sayapnya. Belas kasih tanpa kebijaksanaan tak akan dapat tinggal landas.

Suatu hari, seorang anggota pramuka ingin menunjukkan perbuatan baiknya pada hari itu dengan membantu menyeberangkan seorang nenek di jalanan yang ramai. Masalahnya, si nenek sebenarnya tak ingin menyeberang, tetapi dia merasa sungkan memberitahukan hal itu kepada si anak pramuka.

Cerita tersebut, sayangnya, menggambarkan ada terlalu banyak hal yang terjadi di dunia atas nama belas kasih. Kita kelewat sering mengira bahwa kita tahu apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

Seorang pemuda, yang terlahir tuli, tengah mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin dengan ditemani oleh kedua orang tuanya. Dengan bersemangat sang dokter memberitahu orang tua si pemuda mengenai suatu prosedur pengobatan terbaru yang baru-baru ini dibacanya dari sebuah jurnal kedokteran. Sepuluh persen dari orang-orang yang terlahir tuli dapat dipulihkan kembali pendengarannya melalui sebuah operasi sederhana dan tidak mahal. Sang dokter bertanya kepada orang tua si pemuda apakah mereka ingin mencobanya. Orang tua si pemuda dengan segera mengiyakan.

Pemuda itu adalah salah satu dari sepuluh persen orang-orang tuli yang dapat dipulihkan kembali pendengarannya, namun dia malah menjadi sangat marah dan jengkel kepada kedua orang tua dan dokternya. Dia tidak mengetahui apa yang mereka rembukkan saat pemeriksaan rutinnya. Tak seorang pun yang menanyakan kepadanya apakah dia ingin bisa mendengar. Sekarang dia mengeluh karena dia harus menahan siksaan suara-suara ribut yang terus menerus, yang mana hanya sedikit saja yang dia pahami. Sebenarnya dia memang tidak pernah ingin dipulihkan pendengarannya.

Kedua orang tuanya, dokter, dan saya sendiri, sebelum membaca cerita ini, beranggapan bahwa setiap orang pasti ingin dapat mendengar. 

Kita pikir kita selalu tahu apa yang terbaik. Belas kasih yang mengandung asumsi seperti itu sungguh tolol dan berbahaya. Itu menyebabkan begitu banyak penderitaan di dunia.

***

Story by Ajahn Brahm
Image by Gulfu
***

Read More...

26 May, 2013

Puisi Gie ~ Mati Muda

Leave a Comment

Simply the best words I've ever read. Every words reflect my view well. Ultimate goal, ultimate feelings for a special one..

***

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari, sini sayangku..

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegakklah ke langit atau awan mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

~ puisi terakhir Soe Hok Gie

puisi terakhir soe hok gie

***

Read More...

26 March, 2013

Sebuah Renungan Masalah Pendidikan di Indonesia Saat Ini

12 comments
Artikel yang saya tulis sebelumnya mengenai sistem pendidikan Finlandia: Lupakan Amerika, Pendidikan di Finlandia yang Terbaik Sedunia, membuat saya banyak berpikir (maklum saya pemikir orangnya). Artikel tersebut menyadarkan saya betapa destruktifnya efek yang ditimbulkan oleh sistem pendidikan yang mengadopsi konsep kompetisi & kapitalisme/komersialisasi. Ga usah di Indonesia, di Amerika, bahkan mungkin di Jepang pun, sistem pendidikannya memakai konsep kompetisi & komersialisi.


Dampak buruknya sangat gampang ditemukan di keseharian kita, di diri saya pribadi, di orang-orang sekeliling saya. Salah bentuk akibat sistem yang destruktif.
  • Belajar sistem kebut semalam. Menghafal super lengkap dan banyak. Habis ujian, lupa! Ga ada ilmu yang didapet, ga dapat esensinya. Lulus, nilai tinggi, cari kerjaan mengandalkan gelar, tapi ilmu kopong…
  • Yang pintar 'harus' masuk fakultas kedokteran lah, engineering lah. Yang biasa aja, harus masuk ini lah. Yang 'bego', pilihan terbatas. 
  • Yang anak ga boleh ikut les dan ikut lomba tarilah, karena bikin capek, ganggu konsentrasi belajar. 
  • Yang anak ga boleh jadi atlet, karena menguras energi, ganggu konsentrasi sekolah. 
  • Yang si anak ga boleh jadi zoologist lah, karena dinilai tidak menguntungkan. Mending jadi engineer lah. Beneran, saya punya teman, bercita-cita menjadi penjaga kebun binatang atau penjaga konservasi binatang, entah sebagai zoologist atau dokter hewannya. Sungguh mulia bukan. Tapi dilarang sm orang tuanya karena 'dianggap' tidak profitable & tidak punya masa depan yang cerah. Sampai dibilang ‘ntar kamu nikah sama gorila’ -__-"
Semuanya karena mau ngejar memenuhi standar, cetakan cetakan cetakan! Standar/Cetakan absurd! Cetakan duit…

Kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia dan Amerika itu gagal karena sistem ini mencoba membuat suatu cetakan bagi anak didik, bukan membiarkan anak didik berkembang maksimal sesuai potensinya masing-masing. Yang ditekankan pada pendidikan bukanlah suatu konsepsi pengetahuan, tapi struktualisasi sistem pendidikan dan hasil didikan. 


Sistem pendidikan di negara, seperti Indonesia dan Amerika, itu ironis karena saking kapitalisnya sampai lupa kenapa sistem komunis tumbang. Sistem komunis tumbang karena terlalu banyak komando dan tidak membiarkan warga dan struktur-struktur di dalamnya berkembang dengan bebas

Nah, sistem pendidikan "kapitalis" ini ironis karena system ini berusaha untuk "mencetak" kemampuan berdasarkan sistem pasar. Sistem ini menafikan kenyataan bahwa tiap anak itu terlahir dengan keinginan dan selera yang berbeda-beda. Dalam sistem pendidikan kapitalis yang gagal ini, semua anak apapun inputnya, outputnya harus bisa disamaratakan.


Pendidikan itu tidak bisa seperti kita membangun gedung, di mana struktur-struktur ditancapkan dalam balok-balok yang tidak berhubungan dan diharapkan dapat berdiri tegak dari bebannya saja, layaknya orang meletakkan beton di bangunan.

Para pendidik kuno memiliki sebuah konsepsi bahwa anak-anak itu "tabula rasa", sebuah kertas putih kosong yang siap di tuliskan. Padahal, kenyataanya anak-anak itu kertas berwarna yang sudah tergambar pola di atasnya, tidak bisa langsung asal corat-coret saja, sering jadi tidak bermakna nantinya (via Thomas Adi Nugroho Chaidir).

Berikut salah satu potret pendidikan jaman sekarang. Satu kelas terdiri dari siswa gajah, ikan, burung, monyet, dan lain-lain. Eh, ujian disuruh manjat pohon, biar adil katanya.

"Supaya adil, semua siswa harus mengikuti ujian yang sama. Panjat pohon itu."

Jelas, siswa 'monyet' akan unggul. Sistem ini menafikan fakta bahwa tiap siswa itu memiliki bakat, minat dan potensi yang unik. Sistem ini hanya memberikan perhatian pada siswa bintang. Siswa lain yang tidak bisa keep up (mengikuti), dibiarkan berusaha sendiri. Ditambah lagi, ujian standar/cetakan umum bertubi-tubi yang absurd yang hanya ngena ke bakat/potensi siswa 'monyet'. Siswa 'gajah' mana bisa keep up.

Mental anak-anak dapat dihancurkan oleh evaluasi terus-menerus dan membuat anak-anak ini sendiri percaya bahwa mereka tidak cukup baik. Ketika anak-anak dapat unggul pada apa yang mereka dapat lakukan dengan baik, bukan diukur utk memenuhi cetakan, mereka dapat menghasilkan performa terbaik. Anak-anak harus diberikan pendidikan sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengn bakat mereka.

Tujuan pendidikan seyogianya dapat membentuk siswa menjadi manusia yang lebih baik yang menghargai diri mereka sendiri dan dapat bernavigasi dalam kehidupan tanpa berpikir bahwa mereka lebih 'pintar' atau sebaliknya, tidak berharga.

Siapa yang tahu kalo si anak ternyata berpotensi menjadi ilmuwan/zoologist terkenal, jadi atlet berprestasi, menjadi penari duta negara. Alih-alih mengembangkan potensi uniknya, si anak end up (berakhir) menjadi PNS malas yang kerjanya makan duit rakyat. Alih-alih mengembangkan potensi uniknya, si anak end up (berakhir) menjadi nobody (bukan siapa-siapa) as in pekerja kantoran yang mengubur potensi gemilangnya di balik meja kantor.

Anak punya cita-cita tuh didukung dan dibimbing. Ini belum apa-apa sudah diteror "ntar kamu nikah sama gorila". Dari kecil aja mental anak udah dihancurkan.

***

Nah, dampak negatif lain dari bentukan sistem gagal ini adalah realita bahwa banyak orang benci pekerjaannya. Banyak yang merasa ke-trap (terjebak) dengan pekerjaannya sekarang.

Saya ulas di postingan blog saya yang lain: Mengapa Begitu Banyak Orang Benci Pekerjaan Mereka? Artikel ini cocok dibaca bagi yang sedang mengalami krisis identitas karir. Hehehe. Artikel ini juga cocok dibaca dan jadi bahan renungan bagi orang tua yang peduli dengan pendidikan dan masa depan anaknya

Saran saya kepada orang tua: Jangan didik anakmu untuk menjadi kaya, tapi didiklah anakmu untuk menjadi happy, bahagia :) Sehingga ketika mereka tumbuh dewasa, mereka akan menghargai value (nilai/esensi) sebuah hal, bukan menilai dari harganya.


Kenapa mendidik anak untuk bahagia menjadi penting? Mengutip perkataan Richard Branson (pendiri Virgin Group): "Parameter terbaik untuk mengukur kesuksesan? Kebahagian... Lakukanlah hal yang membuatmu senang, lakukan dengan baik, dan uang akan datang."

Lebih lanjut tentang kebahagiaan, parameter kesuksesan, dan definisi kaya dan kekayaan, silakan baca artikel saya lainnya, Parameter Kesuksesan: Mendefinisikan Kembali Makna 'Kaya'

***

Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, bantu share ya :) 
Read More...

23 March, 2013

Parameter Kesuksesan: Mendefinisikan Kembali Makna 'Kaya'

4 comments
Richard Branson, founder Virgin Group (induknya Air Asia, maskapai Virgin America, label rekaman raksasa Virgin Record, dan masih banyak lagi), mengatakan bahwa parameter terbaik untuk mengukur kesuksesan adalah kebahagian.

Uang adalah produk sampingan dari goals yang lebih besar bermakna, seperti passion, kegemaran dan kebijaksanaan. Lakukanlah hal yang membuatmu senang, lakukan dengan baik, dan uang akan datang.

http://www.linkedin.com/today/post/article/20121109141247-204068115-what-s-the-best-measurement-for-success-happiness

***

Seorang mantan banker Goldman Sach (perusahaan perbankan raksasa Amerika) mendefinisikan kembali makna dari 'kekayaan' dan apa yang disebut 'kaya'.

Jika Anda punya aset plus penghasilan pasif yang cukup untuk memenuhi biaya lifestyle pribadi sepanjang hidup Anda, dan uang itu memungkinkan Anda untuk mengerjakan sesuatu yang Anda suka (tanpa mempedulikan kompensasi), maka Anda disebut kaya.

http://www.learnvest.com/2013/01/former-banker-measures-true-wealth-in-ingenious-way-123/

Jika Anda suka memberikan makan pada kaum tak punya, dan punya pemasukan pasif yang cukup untuk menghidupi diri anda, maka anda sudah disebut kaya.

Jika anda suka mengajarkan anak-anak sampai ke pelosok negeri, dan punya pemasukan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda, maka anda kaya.

Jika anda seorang pemilik warung, pemasukan yang anda punya cukup menghidupi anda dan keluarga, anda senang selalu bisa berada di rumah dan bercengkrama dengan keluarga, maka anda kaya.

Jika anda seorang nelayan, dengan kapal tidak terlalu besar, kru tidak terlalu banyak, anda senang karena ikan yang ditangkap cukup untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, memungkinkan anda pulang sebelum senja, memiliki waktu bermain dengan anak, maka anda kaya.

Jika kebahagiaan terbesar dalam kehidupan anda terdiri dari membaca novel dan menulis memoar Anda setiap hari, dan Anda bisa hidup cukup murah untuk membuat itu terjadi selama sisa hidup Anda, maka Anda kaya.

***

Jadi, bagi Anda yang memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi dan pengisap jiwa: Meskipun Anda mungkin memiliki rumah atau apartemen mewah dan pakaian desainer ternama, Anda tidak benar-benar kaya jika Anda membenci pekerjaan Anda.

Read More...

Mengapa Banyak Orang Benci Pekerjaan Mereka?

Leave a Comment
Salah satu alasan kenapa banyak orang dengan pendidikan universitas bagus benci pekerjaan mereka adalah mereka mengambil jalur karir konservatif atau berorientasi pada mendaki tangga organisasi/korporat ketika mereka muda (misalnya sehabis lulus kuliah) dan tidak pernah meencoba mengganti jalur. 

Ketika mereka pertama kali memilih karir mereka di umur sekitar 22 (kurang lebih):

  1. mereka ga tau apa yang mereka inginkan di hidup mereka 
  2. mereka masih memiliki pandangan yang sempit terhadap pilihan karir yang tersedia untuk mereka 
  3. mereka merasa butuh menghasilkan duit, karena mereka independen dari orang tua mereka untuk pertama kalinya 
  4. mereka lebih condong tertarik pada pekerjaan yang sudah memiliki kredibilitas dengan target2 yang telah ditetapkan, seperti yang mereka selalu dapatkan di bangku sekolah

Lalu, setelah menggeluti profesi ini selama 7-10 tahun, mereka merasa terjebak; mereka ga tau apa yang harus dilakukan selanjutnya, bagaimana caranya berubah. Mereka bagus secara finansial dan merasa terlalu banyak risiko kalo ganti jalur karir. Akhirnya mereka begitu terus sampai akhir hayat.

Fenomena ini sangat umum sekali, banyak ditemukan di berbagai profesi, dari pengacara, banker, bahkan guru.

http://www.quora.com/Jobs-1/Why-do-so-many-people-hate-their-jobs
Read More...

27 December, 2012

Berbuat Baik itu Candu

Leave a Comment
Seseorang pernah bertanya, "Kenapa ya berbuat kebaikan itu kok kayaknya adiktif ?"

Coba ingat saat kamu berbuat kebaikan atau habis menolong orang, kamu pasti bisa merasakan betapa enaknya berbuat baik itu. Rasanya senang, damai, tentram.

Terlepas dari dogma yang diajarkan dari agama, banyak orang yang selalu berbuat baik bukan serta-merta menjalankan perintah agama. Perjalanan evolusi manusia telah melengkapi kita dengan mekanisme yang mendorong kita berbuat baik. Apa sesungguhnya dasar motivasi berbuat baik?

Bagaimana mekanisme otak terkait kecanduan kita berbuat baik? Apa yang terjadi di otak saat kita berbuat baik?

***

Dopamin di Otak

Salah satu jawaban dari pertanyaan di atas adalah keberadaan hormon dopamin di otak. Dopamin adalah salah satu jenis hormon kesenangan (pleasure hormone). Produksi dopamin di otak akan menimbulkan efek kesenangan, kenyamanan, rasa enak, high. Produksi dopamin dipicu ketika kita makan enak, ketika kita jatuh cinta, mencoba hal baru, mencoba hal menantang, ketika kita berbuat kebaikan.

Dopamin juga ditemukan pada otak binatang lainnya, khususnya mamalia. Dopamin pada otak binatang memiliki peran untuk membtuk perilaku yang memaksimalkan outcome tertentu. Efek kesenangan yang ditimbulkan dopamin ketika kita melakukan sesuatu akan mendorong kita untuk terus melakukan hal tersebut. Sederhananya. kita ketagihan akan efek yang ditimbulkan oleh dopamin. Memahami hal ini sepertinya tidak sulit ya bagi kita untuk membiasakan berbuat baik.

Berbuat baik --> banjir dopamin di otak --> efek kesenangan --> candu dopamin --> candu berbuat baik

Kamu bisa baca lebih lanjut tentang peran dopamin di otak di sini.

***

Gen

Ketika berbicara gen, kita akan berbicara tentang evolusi. Evolusi memiliki mekanismenya sendiri, salahsatunya adalah seleksi alam. Prinsip dasar dari seleksi alam adalah "survival of the fittest", siapa yang paling bisa beradaptasi dengan lingkungannya, dia yang akan survive, bukan yang terkuat.

Nah, salah satu perilaku manusia yang lolos, survived, dan masih kita kembangkan hingga sekarang adalah perilaku altruis. Perilaku altruis adalah kesediaan untuk berbuat baik karena menyadari suatu hal baik dilakukan dan tidak berbuat buruk karena sadar suatu hal berdampak buruk.

Penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok spesies sosial, perilaku altruis dibutuhkan untuk dapat survive dan untuk menarik calon pasangan untuk tujuan reproduksi. Oleh karena itu, bagi manusia (Homo sapiens sapiens) yang telah survived melalui ribuan tahun seleksi alam dan seleksi sosial, perilaku altruis (berbuat baik sesama manusia) telah tertanam di gen kita, bahkan telah menjadi keunggulan khas manusia dibandingkan berbagai spesies lain. Cuma tiap orang bakat baiknya beda-beda aja, tergantung komposisi gen tadi.

Memakai skala yang lebih mikro, cowok atau cewek yang baiik dan ramah tentunya akan lebih menarik bukan dibandingkan cewek atau cowok yang jutek dan galak? ;)

***

Sirkuit Otak*

Selain hormon dan gen, sirkuit otak manusia juga mengambil peran. Pada otak manusia, terdapat 2 sirkuit yang kerjanya saling antagonis: Sirkuit Pahala** (Nucleus accumbens/NAcc) dan Sirkuit Altruis* (Obito Frontal Cortex)

Sirkuit NAcc dan OFC di Otak
Sirkuit NAcc dan OFC di Otak


Sirkuit Pahala
Tindakan seseorang didasari prinsip reward and punishment. Berbuat sesuatu karena ada maunya atau karena ada imbalannya, entah itu uang, hadiah, pujian, bahkan pahala. Tidak berbuat sesuatu karena ada larangannya atau takut kena hukuman atau takut dosa.

Sirkuit Altruis
Tindakan seseorang didasari oleh kebajikannya sendiri. Berbuat sesuatu karena sadar hal itu harus dilakukan atau memberikan kebaikan. Tidak berbuat buruk karena sadar suatu hal itu buruk, tidak baik dilakukan, atau merugikan orang lain. Karena empati.

Nah, sama dengan bakat gen tadi, perkembangan sirkuit tiap orang juga beda, bahkan tiap spesies beda. Pada proses pengambilan keputusan sebelum bertindak, kedua sirkuit ini bekerja secara antagonis.

Apakah seseorang berbuat baik hanya karena ada maunya? Apa karena ngejar pujian? Ngejar pahala doang? Atau dia berbuat baik ya karena dia sadar dia harus melakukan itu? Ga perlu diming-imingi reward, dia ikhlas melakukan hal itu. Ga ngarep pujian, ga ngarep hadiah, ga ngarep duit, ga ngarep surga!

Apakah seseorang menghindari suatu perbuatan karena cuma takut sama hukuman? Karena ada yang melarang? Karena lagi ada pak polisi? Takut dosa? Atau ia tidak berbuat buruk karena sadar betul hal itu merugikan? Karena rasa empatinya pada orang sekitar, pada lingkungan.

Konfrontasi kerja kedua sirkuit inilah yang membentuk motif tindakan atau aksi manusia tiap harinya. Motif untuk mengejar reward dan/atau berdasarkan empati memiliki rasionya sendiri dalam tiap tindakan manusia.

Bisa saja, kita berbuat A karena 80% ngarep pujian, 20% karena kesadaran empati kita. Atau bisa saja kita menghindari sebuah perbuatan, 20% aja karena takut hukuman, tapi 80% nya murni karena empati kita ke lingkungan, tidak mau merugikan orang lain.

***

Nah, bagaimana dengan kamu? Apa cerita kebaikanmu? Coba inget-inget perbuatan baik yang kamu lakukan terakhir kali. Kenapa kamu melakukannya? Berbuat baik kepada sesama karena ngarep reward atau karena empati? Share pengalamanmu di bagian komen ya :)

***

*Sumber: diskusi sains bersama dr. Ryu Hasan (neurosurgeon) dan Menrva Foundation Indonesia
**istilah yang dipakai dikutip langsung dari istilah yang digunakan oleh dr. Ryu 

Read More...

24 December, 2012

Katak dalam Tempurung

4 comments
Kalo kata tante gw: "Kalo kita ga keluar dari tempurung kita selama ini, kita ga akan tahu seberapa gede dunia ini"

Quote aslinya sih begini:
If you don't get out of the box you've been raised in, you won't understand how much bigger the world is. - Angelina Jolie

Tante lo Angelina Jolie, fan? Yess, I'm a big fan of her. Dan gw menasbihkannya sebagai tante secara sepihak =))

Angelina Jolie, out of her box

Okay, the point of this post is another contemplating thinking for the new year.

Terkadang kita kontra akan suatu hal sebenarnya karena kita terlalu nyaman dalam tempurung kita. Kita kurang bijak untuk memahami betapa luas dunia ini. Terlalu nyaman dalam tempurung kita. Ada 7 milyar umat manusia di bumi (itu yang kita ketahui) dan kita mengharapkan semuanya untuk sepikiran dengan kita? Tentulah tidak mungkin. Itu seperti katak dalam tempurung.

Terkadang kita menemukan hal baru yang bertolak belakang dengan database informasi kita di otak. Perbedaan itu kadang menyerang, kadang menggugah, kadang meresahkan, kadang memberi rasa nyaman. Hal baru itu mengguncah ekuilibrium diri. Jika kita cukup bijak untuk menghormatinya, kekayaan pikiran akan muncul sebagai sebuah reward.

Eksplor dunia. Hormati perbedaan, selama perbedaan itu tidak merugikan orang lain. Dengan begitu, kita akan bisa memahami dan menikmati indahnya perbedaan dan betapa pentingnya perbedaan untuk menciptakan harmoni dunia. Dunia ini terlalu luas untuk menjadi seperti katak dalam tempurung :)

Questions:

  1. Apakah sekarang kamu hidup dalam tempurung? 
  2. Sudah seberapa jauh kamu mengenal dunia di luar tempurungmu?
  3. Menyadari besarnya dunia ini, kamu memilih nyaman di tempurungmu atau keluar mengeksplorasi dunia?

Feel free to share your answer in comment section :)


Sumber gambar:
http://screamingangie.com/page/21/
http://www.eftekasat.net/details.php?image_id=165159#.UNlSX-SsiSo


Read More...

19 December, 2012

That Last Words

Leave a Comment
Inspired by this article, when I die, I don't want my last words or my last thought will be: 

"I wish I'd had the courage to live a life true to myself, not the life others expected to me"

That's a very terrifying regret of the dying. Yet it is very common. The author goes on:

"This was the most common regret of all. When people realize that their life is almost over and look back clearly on it, it is easy to see how many dreams have gone unfulfilled. Most people had not honored even a half of their dreams and had to die knowing that it was due to choices they had made, or not made. Health brings a freedom very few realize, until they no longer have it."

Questions to Ponder for 2013:
  • How content are you with the life you are living?
  • Do you have big, unfulfilled dreams? 
  • Do you maintain good relationship with important people in your life?
     
live the now
Live the Now by @matuvu
How about you? What's your biggest fear of regret in the dying moment? Share your thought on the comment section :)

Read More...