Oke, sebelum saya bercerita,
morning sickness adalah mual-mual yang dialami oleh ibu hamil (bumil) di pagi hari ya. Saya tidak dapat menemukan istilah sepadan yang enak di Bahasa Indonesia. Jadi, saya akan tetap menggunakan istilah
morning sickness ini :)
***
Jika kamu sering mengalami
morning sickness (mual dan muntah yang dialami oleh banyak perempuan selama trimester pertama kehamilan mereka) sulit untuk membayangkan penyebab kondisi ini terjadi kalau bukan karena kesalahan evolusi.
Morning sickness itu ternyata udah ada dari zaman nenek moyang kita dulu, zaman manusia purba. Selama minggu-minggu awal kehamilan, nenek moyang kita tentunya tidak berhenti bekerja juga, seperti sebagian wanita modern saat ini. Mereka masih harus melakukan perjalanan jauh (dulu masih nomaden) dan menghindari predator. Mereka harus mengurus anak-anak mereka dan mengumpulkan makanan bergizi.
Ya, baik bagi nenek moyang atau bagi wanita modern,
morning sickness pada bumil tetaplah menghambat untuk beraktivitas. Di sisi lain, coba bayangkan, wanita yang tidak mengalami (atau setidaknya jarang)
morning sickness akan mampu mengumpulkan lebih banyak makanan, punya waktu lebih untuk memperhatikan anak-anak mereka, dan lebih waspada terhadap bahaya di sekitar mereka.
Enak banget ya kalo jadi bumil yang jarang mengalami morning sickness?? Bisa efektif berkegiatan. Menguntungkan, bukan?
Sekarang, saya akan mengajak kamu berimajinasi sedikit mengenai konsep evolusi :)
Jika seorang wanita memiliki gen yang akan membuatnya sedikit mengalami
morning sickness selama kehamilan, secara prinsip evolusi, gen itu akan diteruskan ke keturunannya. Kenapa? Karena kan tadi kita berasumsi betapa menguntungkannya kalo bumil yang jarang mengalami
morning sickness. Ingat mekanisme evolusi:
survival of the fittest! Kita akan mempertahankan fitur-fitur yang menguntungkan bagi kita, yang membuat kita mampu
survive. Nah, jika terdapat gen yang membuat bumil berkecenderungan sedikit mengalami
morning sickness, gen ini akan dipertahankan, dan diturunkan ke keturunannya. Karena asumsi kita tadi, gen ini adalah fitur yang menguntungkan. Seiring berjalannya waktu, ratusan tahun, ribuan tahun, "gen
anti-morning sickness" ini akan menyebar ke sebagian besar populasi (ke anak, ke cucu, ke cicit, dan seterusnya).
Morning sickness akan hilang..
Tapi kenyataannya apa? Masih banyak toh bumil yang mengalami
morning sickness? Termasuk mungkin kamu yang sedang membaca tulisan ini.
Morning sickness masih eksis di populasi kita!
Lah, kan kalo ga mual bukannya menguntungkan, tapi kok kita manusia masih punya aja kecenderungan untuk morning sickness yang mengganggu itu?
***
Morning Sickness Melindungi Janin
Hal ini membuat beberapa antropolog dan ahli biologi evolusioner juga bertanya-tanya. Jangan-jangan
morning sickness memiliki beberapa manfaat tersembunyi. Manfaat yang lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkannya.
Adalah seorang Margie Profet yang mengusulkan ide ini: Mungkin
morning sickness lolos seleksi alam karena menjauhkan bumil dari makanan yang dapat membahayakan janinnya.
Selama trimester pertama, janin sangat rentan terhadap efek teratogen (agen yang menyebabkan cacat lahir). Makanan yang dapat diterima baik bagi ibu dewasa mungkin mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi bayi yang sedang berkembang.
Jadi, mungkin morning sickness ini memaksa si ibu untuk mengkonsumsi makanan yang berisiko rendah demi kesehatan janin.
Ide Profet ini akan menjelaskan mengapa
morning sickness biasanya berakhir setelah trimester pertama. Hal ini juga konsisten dengan jenis makanan yang banyak ditemukan paling memuakkan bagi bumil (daging dan sayuran dengan rasa yang kuat, seperti bunga pepaya, brokoli, pare, dll). Pada sejarah perjalanan evolusi manusia, jenis makanan begini yang memiliki potensi banyakn mengandung patogen, parasit, atau racun tanaman.
Di zaman modern, janin juga terancam oleh paparan asap rokok dan alkohol. Dan, seperti yang terjadi pada banyak bumil, bau rokok dan minuman keras saja sudah dapat memicu muntah.
Setidaknya ada dua poin lain yang mendukung hipotesis Profet ini:
***
Morning Sickness Melindungi Ibu Hamil
Tidak berhenti sampai di sini. Ada penjelasan evolusioner lain terkait
morning sickness ini. Selain untuk melindungi janin,
morning sickness juga dapat melindungi wanita hamil (yang telah menekan sistem kekebalan tubuh dan lebih rentan terhadap infeksi).
Nah, hipotesis ini harus membuat kita mempertimbangkan kembali kembali asumsi kita sebelumnya. Alih-alih menolak
morning sickness sebagai efek samping yang tidak diinginkan dari perubahan hormon, kita mungkin bisa mulai memandang
morning sickness sebagai salah satu strategi evolusi untuk melindungi janin dari bahaya.
Bukan berarti kamu jadi tidak harus mencoba untuk mengatasi
morning sickness lho ya. Tapi tetep bumil yang mengkonsumsi obat untuk mengobati mual, harus mengawasi asupan makanan mereka. Mungkin kamu harus berhati-hati terhadap makanan berpotensi/berisiko memicu
morning sickness-bahkan jika sudah mengkonsumsi obat yang memblokir mual.
***
Morning Sickness sebagai Polis Asuransi
Eits, tunggu dulu! Banyak yang akan salah paham mengenai tulisan ini, khususnya tentang hipotesis Profet tadi. Profet tidak mengatakan bahwa bumil yang sedikit mengalami
morning sickness akan kemungkinan besar mengalami keguguran. Seperti idenya di atas,
morning sickness dapat mencegah bumil mengkonsumsi makanan yang dapat menyebabkan cacat lahir, seperti daging yang tercemar.
Sederhananya, morning sickness ini seperti asuransi.
Daya tahan tubuh masing-masing bumil kan berbeda. Mungkin ada bumil yang kuat, tanpa bantuan dari mekanisme
morning sickness pun, tubuhnya sudah memiliki mekanisme sedemikian rupa untuk melindungi janin dari zat makanan yang tidak diinginkan. Di lain sisi, ada bumil lain yang mungkin terbantu dengan fitur
morning sickness ini. Jadi, seperti asuransi, kalo ada dan dibutuhkan, pas sekali. Kalo tidak dibutuhkan, ya udah ga apa-apa, toh buat jaga-jaga ;)