Showing posts with label Sexuality. Show all posts
Showing posts with label Sexuality. Show all posts

18 September, 2013

Hate-Crime & Peran Media Massa Terhadap Transgender

1 comment

Belakangan ini kita sering mendengar atau membaca tulisan di media massa mengenai istilah hate-crime, dan salah satu bentuk perilaku dari hate-crime itu misalkan pada peristiwa ditembaknya seorang transgender bernama Shakira di Taman Lawang hingga tewas (Kompas, 10 Maret 2011).

Hate-Crime
Sebuah sikap diskriminatif atau perlakuan yang tidak menyenangkan dengan menyerang seseorang atas motif benci terhadap ras, agama, orientasi seksual, jenis kelamin, ataupun cacat fisik.
*menurut hukum federal (dalam American Psychological Association)

Bagi komunitas LGBT, khususnya transgender pengalaman yang berkaitan dengan hate-crime tidak sedikit dialami. Prasangka negatif yang senantiasa dilekatkan oleh keluarga, tempat kerja, maupun lingkungan sekitar tempat tinggal menjadi sebuah beban berat yang terpaksa harus dijalani oleh individu transgender.

Cemoohan yang biasa diberikan misalkan, awas ada banci..! atau gak usah ditemani, dia kan bencong! merupakan kejahatan verbal yang dapat dikaitkan sebagai bentuk perilaku hate-crime.

Akan tetapi, sebagai “korban”, individu transgender itu sendiri cenderung mengabaikan. Di satu sisi karena sebagai minoritas, di sisi lain karena belum adanya keberpihakan hukum secara penuh yang membela hak asasi seorang transgender.

Justru stigma yang berkembang semakin menyudutkan, seperti contoh pernyataan yang dikutip di lapangan:
makanya siapa suruh jadi banci! Udah dikasih normal fisiknya, malah pengen aneh
Stigma-stigma itulah yang membuat banyak transgender lebih memilih menutup diri atau berada dalam bayang-bayang silent community– komunitas diam.

Sebagaimana kita ketahui, transgender laki-laki ke perempuan yang biasa diistilahkan “waria”adalah bagian dari kemajemukan identitas gender.
Baca juga: Keberagaman Seksualitas dan Gender di Indonesia

Mereka yang benar-benar transgender menjalani hidup selayaknya perempuan “normal” seperti hasrat untuk memiliki pekerjaan formal, memiliki pasangan, mengadopsi anak, bahkan membina rumah tangga layaknya pasutri pada umumnya.

Akan tetapi, ibarat peribahasa, “jauh panggang dari api” begitu kiranya kenyataan yang banyak dihadapi oleh transgender. Hasrat untuk memiliki pekerjaan formal, akhirnya banyak yang terjun di wilayah prostitusi; ditinggal pasangan atau ditipu oleh lelaki yang dicintai; dilema terhadap anak yang diadopsi bila tahu bahwa orangtuanya transgender; serta belum adanya ketegasan pelegalan pernikahan transgender di Indonesia.

Seperti yang dijabarkan oleh Komnas Perempuan (2002) mengenai bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan, transgender pun sebenarnya teridentifikasi mengalami bentuk kekerasan yang sama, baik berupa fisik, psikologis, ekonomi, dan serangan seksual.

Laporan yang didapat oleh LSM yang bertujuan untuk mengadvokasi hak-hak LGBT kecenderungannya terkatung-katung atau dipersulit oleh birokrasi yang masih belum siap untuk mewadahi aspirasi yang dianggap masih tabu atau bersebrangan dengan nilai-nilai agama. Oleh karena itu tidak heran jika transgender di Indonesia masih cukup rentan terhadap bentuk perlakuan hate-crime.

Sebenarnya langkah yang bisa ditempuh untuk mengurangi hate-crime atau prasangka negatif terhadap transgender bisa dilakukan melalui peran media massa, seperti televisi dan koran. Selama ini kita banyak melihat tayangan guyonan di televisi atau“oknum” transgender itu sendiri yang membuat dirinya sebagai objek lelucon. Dan pengkondisian itu menjadi bumerang bagi sebagian transgender lain yang memilih untuk berada dibawah bayang-bayang “silent community”, di mana mereka berjuang untuk menyelesaikan sekolah, mendapatkan pekerjaan layak, dan bahkan ada yang hendak mendapatkan status pernikahan di luar negeri.

***

Treat someone like you want to be treated 
perlakukan seseorang sebagaimana anda hendak diperlakukan

Ungkapan bijak di atas mungkin bisa dijadikan pedoman bagi teman-teman transgender. Bagaimana kita bersikap, berinteraksi dalam kehidupan sosial sangat mempengaruhi baik-buruknya feedback yang kita terima. Seorang transgender boleh jadi mendapat perlakuan buruk oleh orang sekitarnya, akan tetapi bukan berarti menjadi benar-benar berperilaku buruk seperti terlibat dalam tindakan asusila, pencurian, dan narkoba.

Adapun dukungan media massa dengan mempublikasikan transgender-transgender yang terbukti sukses di masyarakat sangat membantu untuk mengakomodir agar ke depannya semua orang lebih memahami bahwa menjadi transgender itu bukan berarti pelacur, pengangguran, bodoh, dan aneh. Karena pada kenyataannya, seorang transgender itu tidak lebih buruk dari yang tidak transgender. Ada banyak transgender di luar sana yang terbukti berhasil mengatasi situasi pelik dan mengubahnya menjadi sebuah kekayaan pribadi yang membawa manfaat bagi keluarga, pasangan, dan masyarakat disekitarnya.

***

Sumber:

Dikutip dari Jannah Maryam Ramadhani, S.Psi: OutZine No.7
American Psychological Association. __. The Psychology of Hate Crimes.(http://www.apa.org/about/gr/issues/violence/hate-crimes-faq.pdf). Diakses 4 Maret 2013.
Komnas Perempuan. 2002. Peta Kekerasan Pengalaman Perempuan Indonesia. Jakarta: Ameepro.
KOMPAS. 2011. Sedang Mangkal Shakira Tewas Ditembak.(http://megapolitan.kompas.com/read/2011/03/10/10203070/sedang.mangkal.shakira.tewas.ditembak). Diakses 4 Maret 2013.

Read More...

29 May, 2013

Kajian Gen dalam Menentukan Jenis Kelamin

5 comments

Pandangan awam di masyarakat kita:
Kebanyakan orang yang berjenis kelamin laki-laki, gendernya maskulin, dan orientasi seksualnya kepada orang perempuan. Yang tidak demikian, juga ada.

Kebanyakan orang yang berjenis kelamin perempuan, bergender feminin, berorientasi seksual kepada orang laki-laki. Yang tidak demikian pun juga ada.

Tapi bukan berarti orang yang tidak sama dengan orang kebanyakan, lantas identik dengan orang yang mengalami gangguan atau abnormal.

Jenis Kelamin, Gender, dan Orientasi Seksual itu secara biologi adalah konsep yang saling independen, masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tapi sering dicampuradukkan!

Jenis Kelamin 
Fisik alat kelamin seorang individu. Kalo punya penis, ya laki-laki. Kalo punya vagina, ya perempuan. Kategori yang langsung disematkan dokter kandungan atau bidan atau dukun beranak ketika seorang bayi lahir ke dunia.

Gender 
Bagaimana seseorang memandang dirinya, feminin atau maskulin atau keduanya. Lebih lanjut, definisi gender adalah identitas diri seseorang. Kelamin perempuan, tapi bisa saja ia memandang dirinya sebagai seorang pria. Kelamin laki, punya penis, tapi bisa saja ia memandang dirinya sebagai seorang wanita, "aku salah tubuh.."

Orientasi Seksual
Pola ketertarikan seksual dan emosional seseorang terhadap suatu object. Object tersebut bisa berupa lawan jenis, sesama jenis, binatang, pohon, sampai meja..


Kali ini, saya akan membahas lebih dalam tentang konsep Jenis Kelamin dulu ya: konsep gen dalam menentukan jenis kelamin anak. Nanti saya akan lanjut dengan artikel mengenai Gender dan Orientasi Seksual.. :)

***

Kromosom X vs. Kromosom Y

Secara sederhana, diketahui jika orang berkromosom XX itu perempuan, sedangkan yang XY laki-laki. Padahal tidak selalu demikian. Orang berkromosom XY tidak selalu berjenis kelamin laki-laki, orang yang berkromosom XX juga tidak selalu berjenis kelamin perempuan. Memang jarang perempuan memiliki kromosom Y, meski tidak mustahil. Karena gen pembawa unsur maskulin kromosom Y bisa hilang/rusak pada orang tertentu.

Janin manusia sampai usia 8 minggu dalam kandungan semua berjenis kelamin perempuan. Kenapa ada yang berubah jadi laki-laki?

Perubahan kadar hormon-hormon tertentu lah yang merubah sebagian dari janin-janin perempuan itu jadi laki-laki. Terus apa yg membuat kadar hormon berubah?

Dan mutasi genetiklah yang memicu perubahan aktivitas hormon, berujung terjadinya diferensiasi menjadi laki-laki dari yang awalnya perempuan.

Tak banyak yang tahu bahwa munculnya jenis kelamin jantan/laki-laki adalah akibat hadirnya ‘si pengganggu’ kromosom Y, yang merubah stabilitas hormonal. Kebanyakan orang tahu kromosom X&Y merupakan penentu jenis kelamin. Tapi ada beberapa hal seputar kromosom ini yang belum diketahui kebanyakan orang.

Dari segi kemasannya, kromosom XY ini sangat berbeda dengan kromosom-kromosom manusia yg lain. Dulu timbul tanda tanya besar, sekarang sudah terjawab. XY ini ternyata bukan kromosom identik. Dibanding ukuran X, kromosom Y sangat kecil seolah merupakan tambahan dadakan karena tuntutan keadaan. Kromosom Y tidak sebanding dengan kromosom X. X lebih perkasa dalam segala hal, akibatnya pertempuran X-Y adalah perkelahian tak seimbang. Dan akhirnya, kromosom Y selalu harus bersembunyi sambil meninggalkan bagian-bagian yang tidak penting untuk fungsinya bila berhadapan dengan X.

Artinya, secara genetik, manusia perempuan jauh lebih perkasa dari manusia laki-laki dalam segala hal.

***

Pembentukan Jenis Kelamin


Bagaimana prosesnya bisa seperti itu? Berikut yang tertulis dalam kitab genom manusia.

Di masa lampau, leluhur kita beralih dari kebiasaan reptil yang menentukan jenis kelamin berdasarkan temperatur telur ke penentuan secara genetik. Alasan yang paling mungkin untuk peralihan itu adalah supaya tiap jenis kelamin manusia dapat mulai berlatih untuk tugas khususnya masing-masing dalam pembuahan.

Pada manusia, adanya gen penentu jenis kelamin menjadikan laki-laki, sedangkan ketidakhadiran gen itu ya tetep perempuan. Pada burung, kebalikannya.

Kehadiran gen ‘pengganggu’ itu dengan segera menarik ke dekatnya gen-gen lain yang bermanfaat bagi laki-laki, misalnya, gen untuk otot kekar. Pada perempuan, gen-gen, seperti gen otot kekar, tidak diperlukan karena hanya akan menguras energi. Lebih baik jika dicadangkan untuk pengasuhan anaknya. Gen-gen sekunder semacam itu mendekatkan diri yang cocok dengan jenis kelamin yang satu dan tidak cocok dengan jenis kelamin yang lain. Persaingan antar gen.

Nah, ‘gangguan’ yang ditimbulkan oleh gen dalam kromosom Y ini tidak selalu ektrem dan menghasilkan kelaki-lakian yang seragam. Hal ini karena tertariknya gen-gen sekunder kelaki-lakian tidak selalu sama. Akibatnya ada individu yang tidak ekstrem menjadi laki-laki. Hal ini juga bisa menjelaskan bahwa mengapa lebih banyak laki-laki yg kecewek-cewekan ketimbang sebaliknya. Ini bukan kelainan, tapi variasi normal.

Secara sederhana, laki-laki yang bersifat kecewek-cewekan bisa dibilang sebagai individu yang ingin ‘kembali’ ke jenis kelamin asalnya, yaitu perempuan ;D

***

Wanita Inferior?


Kalau memang secara genetik wanita lebih perkasa, mengapa dalam kehidupan masyarakat yang terjadi justru sebaliknya? Laki-laki jadi lebih superior?

Wanita dianggap inferior bukanlah karena alasan fisik atau genetik, tetapi lebih disebabkan alasan kultural kesejarahan. Mengapa demikian?

Perempuan dianggap inferior karena dulu rata-rata berusia lebih pendek dari laki-laki. Kenapa? Karena proses melahirkan beresiko kematian tinggi. Sekarang, saat resiko proses melahirkan tak ubahnya seperti mencet jerawat, terbukti wanita didesain untuk berusia lebih panjang ketimbang laki-laki. Contohnya: siklus hormonal perempuan usia subur mengurangi resiko jantung koroner. Setelah menopause, resiko wanita jadi sama dengan laki-laki.

***

Sumber:
saduran rangkuman kultwit dr. Ryu Hasan @ryuhasan (neurosurgeon) mengenai Jenis Kelamin (Sex), Gender, dan Orientasi Seksual. 
Sumber gambar: http://www.positionstoconceivebabyboy.com/2012/07/the-x-and-y-chromosomes-science-of.html

***

Kamu suka dengan artikel ini? Bantu share yuk ;)
Read More...

Keberagaman Seksualitas dan Gender di Indonesia

4 comments

Dengan bantuan medis, janin bisa ditentukan jenis kelamin biologisnya ketika mereka berumur 4-5 bulan. Dan ketika lahir, ada dua macam yang dikenal di hampir seluruh dunia: lelaki (dengan penis) dan perempuan (dengan vagina).  Pembagian ini kemudian disertai dengan tuntutan dan peran gender.

Namun, ada berapa pembagian gender di dunia ini?  Gender di Indonesia, secara umum, mungkin hanya 3 gender yang dikenal: perempuan, lelaki dan waria.  Namun, masyarakat Bugis mengenal 5 gender.  Berbeda lagi dengan di Muangthai, yang mengenal sekitar 10 gender.  Tuntutan kefemininan dan kemaskulinan dari semua gender-gender ini pun berbeda.

Lalu, mengapa di Indonesia banyak orang berkeras dan memaksakan dua seksualitas dan gender saja, lelaki dan perempuan, dengan keharusan-keharusan yang harus dipatuhi dan seringkali dipaksakan kepada manusia, dan terutama kepada perempuan?

Tuntutan gender biasanya disertai dengan orientasi seksual yang heteronormatif.  Artinya, lelaki biasanya harus maskulin dan menjalin hubungan dengan perempuan. Sedangkan, perempuan seringkali dituntut untuk menjadi feminin, jatuh cinta dan menikah dengan lelaki, mempunyai anak dan melayani suami.

Waria (sebagai gender ketiga) seringkali direndahkan dan disisihkan. Mereka diterima di dunia hiburan atau kecantikan, tapi di dunia lain (seperti politik dan pendidikan), mereka masih belum diterima.  Bahkan, baru-baru ini beberapa kelompok fundamentalis di Jawa dan Madura mulai mengharamkan potong rambut perempuan oleh waria.

“Pengaruh budaya Barat” biasanya ditempelkan pada pembangkangan gender yang terjadi.  Mereka yang melontarkan klaim ini mungkin lupa atau sengaja melupakan kenyataan bahwa di Indonesia, masyarakat Bugis mengenal calalai (perempuan maskulin) yang biasanya mempunyai pasangan perempuan lain dan calabai (lelaki feminin) yang biasanya berpasangan dengan lelaki. Bahkan, pendeta di kepercayaan tradisional mereka, bissu, juga merupakan kombinasi dari sifat keempat gender yang ada.

Dalam budaya adat di Nusantara, “kekacauan” dualisme gender ini dapat ditemui dalam seni tradisional seperti reyog di Ponorogo, di mana gemblakan yang biasanya gemulai berhubungan  dengan warok atau warokan.

Jawa Timur juga mengenal ludruk yang mempunyai tandak lelaki yang berdandan perempuan.  Ia biasanya menjadi primadona, dan bahkan digemari oleh beberapa lelaki lainnya.

Di Banyuwangi, juga ada tari gandrung yang pernah diperagakan oleh laki-laki berbaju perempuan, di mana beberapa lelaki yang menonton mereka ikut menari bahkan menciumi mereka sambil memberi uang.

Praktik hubungan seksual sejenis bahkan telah mempunyai istilah dalam bahasa Jawa di masa lampau, yaitu jinambu (pasif) dan anjambu (aktif).

Begitu juga pada kesenian indang di Sumatra Barat, para penarinya adalah remaja lelaki yang gemulai yang biasanya tidur bersama dengan manajer grup itu. Seringkali hubungan seksual sejenis terjadi antara manajer dan penari atau antarsesama penari.

Di Aceh, seni rateb sadati ditarikan oleh 15-20 lelaki dewasa dengan seorang bocah lelaki yang ayu.  Lelaki kecil ini didandani mirip perempuan.

Dewa-dewi di Nusantara (yang kebanyakan berasal dari India) juga tidak mengacu pada dualisme gender yang konsisten.  Salah satunya adalah Ardhanarishvara, yang merupakan persatuan antara Dewi Parwati dan Dewa Syiwa sehingga ia mempunyai dua tubuh (lelaki dan perempuan).  Patungnya masih bisa ditemukan antara lain di Bali dan di Museum Trowulan (Mojokerto).  Begitu juga Wisnu yang menjelma menjadi Dewi Mohini dan bersetubuh dengan Dewa Syiwa.      

Keberagaman gender di Nusantara ini sempat membuat orang Eropa yang menjelajah ke Asia Tenggara tercengang.  Mereka, yang pada umumnya menganut atau paling tidak dipengaruhi ajaran Kristen Puritan, menganggap praktik seksualitas di Asia Tenggara tidak bermoral.

Dalam Jurnal Gandrung Vol.1 No.2, keberagaman seksualitas dan gender manusia digali dan ditilik dari sejarah gender sehingga artikel-artikel dalam edisi ini akan membuat kita bertanya: Dengan begitu kayanya ragam manusia, dengan begitu tak terbatasnya kemungkinan-kemungkinan yang ada, apakah masih perlu segala definisi gender dan seksualitas ini?  Apalagi bila disertai bermacam paksaan supaya manusia menuruti kaidah yang amat sempit, yang memenjara dan memerkosa identitas kita.  Dan tuduhan “kebarat-baratan” itu,  masihkah bisa dibenarkan di depan kenyataan ini?

***

Dikutip dari Soe Tjen Marching: Editorial Jurnal Seksualitas Gandrung.
Link download untuk Jurnal Seksualitas Gandrung ini sepertinya sudah mati (mediafire)

***

Read More...