Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

02 July, 2013

Saya adalah Budak Terbaik

7 comments

Kali ini, saya ingin mengutip pidato kelulusan dari seorang pelajar lulusan SMA Amerika. Isi pidato ini begitu menggugah, mengingat disampaikan oleh seorang pelajar usia 18 tahun, tapi mampu memandang masalah sistem pendidikan yang dienyamnya secara holistik. Saya sendiri kagum dengannya.

Kutipan pidato ini akan memperkaya tulisan saya sebelumnya: "Lupakan Amerika, Pendidikan di Finlandia yang Terbaik Sedunia" dan "Sebuah Renungan Masalah Pendidikan di Indonesia Saat Ini". Kedua tulisan ini sudah banyak mengupas kritik pada sistem pendidikan ter-kormersialisasi yang notabene adalah model sistem pendidikan publik yang banyak diterapkan di banyak negara.

***

Ada sebuah tradisi di SMA Amerika, di mana seorang lulusan terbaik akan membacakan pidato sekolah. Mereka disebut sebagai valedictorian. Biasanya mereka akan menyampaikan kata-kata perpisahan, ucapan terimakasih dan sebagainya, sebelum kemudian menerima ijazah tanda kelulusan.

Di tahun 2010, seorang valedictorian bernama Erica Goldson, pelajar di Coxsackie-Athens High School, New York, mengejutkan para guru, murid dan orang tua dan juga dunia (berkat jejaring sosial) lewat pidato perpisahan di sekolahnya. Alih-alih menyampaikan teks pidato perpisahan yang standar, ia malah menyampaikan sebuah pidato pendidikan yang sangat powerful yang mengecam sistem pendidikan di negaranya. Ia menggambarkan sikap apatis terhadap sebuah sistem pendidikan yang disebutnya sebagai bentuk indoktrinasi yang hanya menghasilkan robot-robot yang seragam untuk masuk ke dunia kerja.

Belakangan, pidato Erica ini banyak beredar kembali di social media. Mungkin karena ini ada hubungannya dengan gembar-gembor kurikulum 2013 yang kontroversial itu, atau juga karena kemarin lagi hebohnya pelaksanaan UN yang ambruladul. Versi aslinya bisa Anda lihat di situs pribadinya. Intip juga video pidatonya berikut ini.



Di Sini Saya Berdiri

Tersebutlah kisah tentang seorang murid Zen yang masih muda, tapi sangat tekun. Suatu hari datanglah ia kepada sang guru dan bertanya, ”Kalau aku berusaha keras dan rajin, berapa lama aku akan menemukan Zen?” Sang Master berpikir sejenak lalu menjawab “Sepuluh tahun.” Si murid kembali bertanya, “Tapi kalau aku berusaha sangat, sangat keras dan berusaha belajar dengan cepat, berapa lama?” Sang Master menjawab, “Hmm, dua puluh tahun.” “Tapi kalau aku benar-benar berusaha, berapa lama?” si murid masih bertanya. “Tiga puluh tahun” jawab sang Master. “Aku tidak paham,” jawab si murid yang kecewa. “Setiap kali aku bilang akan berusaha keras, kau justru bilang perlu waktu lebih lama. Mengapa begitu?” Si Master pun menjawab, “Kalau pandanganmu tertuju pada satu tujuan, pandanganmu pun hanya akan terpusat ke satu jalan.”

Inilah dilema yang saya hadapi pada sistem pendidikan di Amerika. Kita terlalu terpusat pada satu tujuan, entah itu lulus ujian atau tamat sebagai peringkat pertama. Namun, dengan cara ini, kita tidak benar-benar belajar. Kita hanya melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan semula.

Mungkin kalian akan berpikir, “Ya, kalau kamu bisa lulus ujian atau terpilih menjadi valedictorian, bukankah artinya kamu sudah mempelajari sesuatu?" Iya, ada yang memang sudah kita pelajari, tapi tidak semua yang seharusnya bisa dipelajari. Mungkin kita hanya belajar menghafal nama orang, tempat, dan tanggal yang hanya kemudian dilupakan demi memberikan tempat yang kosong di otak untuk ujian berikutnya. Sekolah tidaklah menjadi sesuatu yang seharusnya. Kini, bagi kebanyakan orang, pengertian sekolah adalah tempat di mana tujuan mereka hanyalah agar bisa selesai secepat mungkin.

Sekarang saya telah mencapai tujuan itu. Saya lulus.. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di angkatan saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada. Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang akan datang kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah seseorang yang terjebak di dalam pengulangan – budak dari sistem yang dibuatkan untuknya. Tapi kini, saya sudah berhasil menunjukkan bahwa saya adalah budak yang terbaik. Saya sudah melakukan apa yang diminta sebaik mungkin.

Di saat yang lain duduk di kelas, mencoret-coret di kertas dan akhirnya menjadi seniman besar... saya duduk di kelas, mencatat dan menjadi seorang peserta ujian yang hebat. Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asik membaca hobi-hobi mereka... saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik... saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu.

Saya jadi berpikir, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya. Tapi terus apa? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya berhasil atau tersesat selamanya? Saya tidak tau mau apa saya dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan..

John Taylor Gatto, seorang pensiunan guru dan aktivis yang kritis terhadap program wajib belajar pernah menegaskan hal berikut ini.
“Kita bisa mendorong munculnya kualitas terbaik dari anak-anak muda, baik itu rasa ingin tahu, rasa petualangan, daya tahan dan wawasan yang mengejutkan, cukup dengan bersikap lebih fleksibel dalam urusan waktu, buku-buku acuan dan ujian-ujian. Caranya dengan memperkenalkan anak-anak itu kepada orang dewasa yang benar-benar kompeten, dan sesekali memberikan para siswa itu kebebasan yang diperlukan dalam mengambil resiko. Tapi kita tidak melakukan itu." - John Taylor Gatto

Di antara dinding-dinding beton ini, kita semua diharapkan untuk menjadi seragam. Kita dilatih untuk meraih yang terbaik dalam setiap ujian yang terstandarisasi, dan mereka yang menyimpang atau melihat dari sudut pandang yang berbeda, dianggap tidak berharga dalam sistem pendidikan umum, dan dianggap sebagai penghinaan. H. L. Mencken pernah menulis dalam “The American Mercury" di tahun 1942, bahwa tujuan pendidikan umum yang ada sekarang adalah bukan..
.. untuk mengisi spesies-spesies muda itu dengan pengetahuan atau membangkitkan kecerdasan mereka.. Itu sama sekali tidak benar. Tujuannya… semata untuk sebisa mungkin menurunkan setiap individu ke tingkatan yang sama, membiakkan dan melatih prinsip kewarganegaraan yang standar, menekan pembangkangan dan orisinalitas. Itulah tujuan di Amerika Serikat (Gatto)

Untuk mengilustrasikan ide ini, saya ingin bertanya, terganggukah Anda dengan gagasan tentang “berpikir kritis." Apakah benar-benar ada yang namanya “berpikir tidak kritis?" Berpikir adalah memproses informasi dalam upaya untuk membentuk opini. Tapi jika kita tidak bersikap kritis saat mengolah informasi, apa kita benar-benar sudah berpikir? Ataukah kita tanpa pikir panjang menerima pendapat-pendapat lain sebagai kebenaran?

Inilah yang terjadi pada saya. Dan kalau bukan karena Donna Bryan, sosok guru bahasa Inggris yang berani tampil beda di kelas 10, yang mengizinkan saya membuka pikiran dan bertanya sebelum menerima doktrin dari buku-buku pelajaran, mungkin sudah habislah saya. Saya kini tercerahkan, tapi pikiran saya masih terasa lumpuh. Saya harus melatih kembali diri sendiri dan terus menerus teringat betapa gila sebenarnya tempat yang kelihatannya waras ini.

Dan sekarang saya ada disini, di sebuah dunia yang dipandu oleh ketakutan. Dunia yang menindas keunikan yang ada di dalam setiap diri kita. Dunia dimana kita harus menerima begitu saja omong kosong korporatisme atau materialisme yang tidak manusiawi, dan tidak bisa memaksakan perubahan.

Kita tidak bisa bersemangat pada sistem pendidikan yang diam-diam menyiapkan kita untuk pekerjaan yang terotomatisasi, untuk pekerjaan yang tidak perlu, bentuk perbudakan tanpa semangat untuk mencapai sesuatu yang bermakna. Kita tidak akan punya pilihan dalam hidup kalau uang yang menjadi kekuatan motivasi kita. Kekuatan motivasi itu harusnya berwujud gairah atau ketertarikan, passion. Passion yang langsung hilang begitu kita melangkah masuk ke dalam sebuah sistem yang lebih bersifat melatih, ketimbang menginspirasi.

Kita ini lebih dari sekedar robot rak-rak buku yang dikondisikan untuk memuntahkan fakta yang pernah diajarkan di sekolah. Kita semua sangat istimewa. Setiap manusia di muka bumi ini istimewa. Jadi tidakkah kita layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik?

Tidakkah kita layak menggunakan pikiran kita untuk menghasilkan inovasi daripada menghafal, mengembangkan kreatifitas ketimbang aktivitas tanpa makna, perenungan ketimbang kemandekan? Kita ada disini bukan untuk meraih gelar, lalu mendapat pekerjaan, agar kita bisa menjadi konsumen kepuasan demi kepuasaan industri. Ada yang lebih dari itu dan ada lebih banyak lagi.

Yang menyedihkan adalah.. mayoritas pelajar tidak memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi diri seperti saya. Kebanyakan pelajar dimasukkan ke dalam teknik cuci otak (brainwash) yang sama dalam upaya menciptakan tenaga kerja yang memuaskan. Yang bisa bekerja untuk kepentingan perusahaan-perusahaan besar dan pemerintahan rahasia. Dan yang paling parah adalah mereka sama sekali tidak menyadarinya.

Saya tidak akan mengembalikan masa-masa 18 tahun terakhir ini. Saya tidak bisa lari ke negara lain, di mana sistem pendidikannya ditujukan untuk mencerahkan ketimbang mengkondisikan. Bagian hidup saya yang ini sudah berakhir dan saya ingin memastikan tidak ada lagi anak-anak yang potensinya ditekan oleh kekuatan yang ditujukan untuk mengeksploitasi dan menguasai. Kita adalah manusia. Kita adalah pemikir, pemimpi, petualang, seniman, penulis, ahli teknik (engineer). Kita bisa menjadi apapun yang kita kehendaki, tapi hanya kalau kita memiliki sistem pendidikan yang memberikan sokongan dan bukannya menekan. Sebuah pohon bisa tumbuh hanya kalau akarnya diberi dasar yang sehat.

Bagi kalian yang masih harus terus duduk di meja dan mematuhi ideologi otoriter para instruktur, janganlah berkecil hati. Kalian masih punya kesempatan untuk bangkit, bertanya, bersikap kritis dan menciptakan perspektif kalian sendiri. Mintalah sebuah kondisi yang memberikan kalian kemampuan intelektektual. Yang memungkinkan kalian mengembangkan pikiran dan bukannya mengarahkannya. Mintalah sesuatu yang membuat kalian tertarik pada pelajaran. Mintalah agar alasan “Kalian harus mempelajari ini untuk ujian" tidaklah cukup baik untuk kalian. Pendidikan adalah alat yang sangat bagus, jika digunakan sebagaimana mestinya. Tapi pusatkanlah perhatian lebih pada belajar ketimbang meraih nilai yang bagus.

Bagi kalian yang bekerja di dalam sistem yang saya kecam, saya tidak berniat menghina kalian. Saya ingin memotivasi. Kalian punya kekuatan untuk mengubah hal yang tidak kompeten dari sistem ini. Saya mengerti kalian menjadi guru atau administrator pendidikan bukan untuk membuat siswa-siswa merasa bosan. Kalian juga tidak terima dengan kewenangan pihak berkuasa yang menentukan apa yang harus kalian ajari, dan kalian akan dihukum kalau tidak patuh. Potensi kamilah yang dipertaruhkan disini.

Untuk kalian yang hari ini akan meninggalkan institusi ini, saya ingin katakan, janganlah melupakan apa yang terjadi di kelas-kelas di sini. Jangan meninggalkan mereka yang datang setelah kalian. Kita adalah masa yang baru dan kita tidak akan membiarkan tradisi berkuasa. Kita akan runtuhkan dinding-dinding korupsi agar kebun-kebun pengetahuan bisa tumbuh di seluruh Amerika.

Jika dididik dengan benar, kita punya kekuatan untuk melakukan apapun. Dan lebih dari itu, kita akan menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan, karena kita akan menjadi orang yang baik dan bijak. Kita tidak akan menerima apapun begitu saja. Kita akan bertanya dan kita akan menuntut kebenaran.

Jadi, di sinilah saya berdiri. Saya berdiri di sini sebagai seorang valedictorian bukan karena saya yang mau. Saya dibentuk oleh lingkungan, oleh teman-teman sebaya yang sedang duduk menyaksikan saya. Saya tidak akan bisa mencapai semua ini tanpa kalian semua. Kalianlah yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini. Kalianlah yang selama ini menjadi pesaing saya, tapi juga menjadi tulang punggung saya. Karena itu kita semua adalah para valedictorian.

Sekarang waktunya saya seharusnya mengucapkan selamat tinggal kepada institusi ini, kepada mereka yang merawatnya, dan kepada mereka yang berdiri bersama saya dan yang berada di belakang saya. Tapi saya harap perpisahan ini lebih dari sekedar ucapan “sampai jumpa lagi," karena kita semua bisa bekerja sama untuk menumbuhkan sebuah gerakan pendidikan. Tapi pertama-tama, mari kita terima dulu lembaran kertas yang menunjukkan bahwa kita sudah cukup pandai untuk melakukannya!


***

Bagaimana pendapat kamu tentang sistem pendidikan Indonesia? 

Dengan isu Kurikulum 2013 dan UN terakhir, mungkinkah pemikiran-pemikiran seperti Erica ini tumbuh dan menggebrak di Indonesia? Atau kamu memiliki pandangan serupa dengan Erica?

Share your opinion in comment sectionAnd if you like this article, please share to the world. Thank you ;)

Sumber:
http://americaviaerica.blogspot.jp/p/speech.html
http://nol.suarane.org/post/47960170653/gagalnya-pendidikan-konvensional-pidato-erica-goldson
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151396517737444&set=a.53765742443.67897.601337443&type=1

Read More...

05 May, 2013

Kurikulum 2013: Kurikulum Jaka Sembung Bawa Golok

Leave a Comment
Beberapa waktu terakhir saya lagi sering nge-blog tentang pendidikan. Artikel kali ini pelengkap saja, mengenai Kurikulum 2013 untuk negara Indonesia ini :D

Baca lebih lanjut: 

Kalo saya melihat Kurikulum 2013 ini, kurikulum jaka sembung bawa golok, ga nyambung!! LOL. 

Itu mau belajar Kimia apa PKN. Wkwkwk.
Trus, saya baru tau kalo akuntansi Buddha dengan Hindu itu beda. *ngikik*

kurikulum 2013 kimia


kurikulum 2013 akuntansi




***

Berikut link berita penjelasan M. Nuh, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sila dibaca dahulu. Ini Penjelasan M. Nuh Tentang Kurikulum 2013

Nah, untuk pembahasan lebih lanjutnya, saya akan mengutip ulasan oleh salah satu rekan saya berikut ini. 

Ini agak lucu sih, pak menteri ini bilang bahwa dia dapat inspirasi pas umroh untuk mengonsepkan pendidikan yang mengutamakan Tazkiyah (attitude), Tilawah (pengetahuan) dan Ta'alim (keterampilan). 

Kenapa lucu? 

Karena gw dan orang2 lain yang pernah baca2 soal konsep pendidikan pun gak perlu umroh pun tahu bahwa ketiga hal tersebut adalah parameter dasar penilaian kesuksesan sebuah pendidikan (bahkan ada di wiki: http://en.wikipedia.org/wiki/General_Education_Outcomes) , biasa disingkat dengan akronim ASK (Attitude, Skill, Knowledge), saya gak ngerti kenapa pak menteri ini butuh wahyu tuhan pas umroh buat tahu hal seumum ini, entah dia emang gak tau banyak soal pendidikan atau cerita inspirasi pas umroh ini dibuat - buat saja biar dramatis, lol 

Oke lanjut, masalah disini adalah ASK bukanlah sebuah konsep dari pendidikan, melainkan tujuan dari pendidikan, sukses tidaknya sebuah proses pendidikan dilihat dari kualitas ASK dari lulusannya, perkara bagaimana mencapai peningkatan itu sendiri sudah berbeda ceritanya, jadi ketika pak menteri ini ditanya soal konsep pendidikan dan dia jawab begini, itu kayak nanya begini ke pelatih bola: 

"pak, apa strategi bapak yang akan digunakan untuk memenangkan pertandingan berikutnya?" 

"ah, tadi malam ketika saya mau tidur, saya terbersit sebuah konsep yaitu mencetak gol lebih banyak dari yang bisa dicetak lawan saya, maka itulah strategi saya" 

So, kalau jawabannya aja udah kayak gitu menurut gw sih kemungkinannya udah jelas, yaitu ada latar belakang lain di balik kurikulum 2013 yang gak bisa di-expose sama si pak menteri ini, perkara gak bisa di-exposenya kenapa ya gw gak tau juga, bisa jadi karena dia gak tau apa dasar pemikirannya (yang bikin orang lain), bisa jadi ada maksud tersembunyi dari penyusunan kurikulum, bisa juga dia tau dasarnya sangat lemah, daripada di-bully mending bikin cerita dramatis dengan jawaban seadanya aja deh 

via Rizky Andriawan

***

Sumber:
http://fisikawanpesisir.blogspot.com/2013/04/kurikulum-2013-untuk-fisika.html
2 images I got from Twitter world, and sorry I forget from which twitter account :/

***

Read More...

09 April, 2013

Aktivasi Otak Kanan Hanya Mitos!

1 comment
mitos otak kanan otak kiri

Selama lebih dari 30 tahun belakangan, dikotomi “otak kanan - otak kiri” telah menjadi bagian dari budaya pop masyarakat. Berkembang luas  pemahaman bahwa kedua belahan (hemisphere) otak memfasilitasi proses berpikir yang berbeda, kepribadian yang berbeda. Ide ini simply berasal dari misintepretasi penelitian sains valid.

Dominan Otak Kiri
Dominan otak kiri (left-brainer) itu berarti orangnya rasional, linear, logis, analitis, dan jago dalam bidang bahasa. Makanya individu left-brainer katanya cocok bergelut di bidang matematika, engineering, dan natural science (ilmu alam).

Dominan Otak Kanan
Dominan otak kanan (right-brainer) itu berarti orangnya spasial, intuitif, kreatif, dan penuh seni. Makanya individu right-brainer katanya cocok bergelut di bidang industri kreatif atau jadi seniman.

Pemahaman ini luas digembar-gemborkan dalam workshop pengajaran, menjadi highlight di artikel berita dan buku-buku bestseller. Banyak juga kuis online untuk mengetahui belahan otak yang dominan pada seseorang, dilengkapi dengan deskripsi detil tentang diri seseorang dan bagaimana ia berinteraksi dengan dunianya.

Dikotomi otak kanan - otak kiri adalah sebuah metafora klise dan bastardization of the science. Tapi tetep orang-orang terlalu senang menerima ide ini untuk melakukan generalisasi perilaku di lingkungan sekolah, kerja, dan kehidupan.

***

Asal Mula Mitos Teori Otak Kanan - Otak Kiri


"Teori" otak kanan - otak kiri berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Roger Sperry dan Mike Gazzaniga di tahun 1960an. Kedua peneliti ini melakukan studi pada pasien epilepsi yang telah melalui operasi untuk memutus koneksi antara 2 bagian otak (split brain experiments).

Diketahui bahwa ketika kedua bagian otak tidak dapat berkomunikasi, tiap hemisphere tidak menyadari keberadaan hemisphere lainnya, bahkan memberikan respon yang berbeda untuk suatu stimulus.

Riset ini merupakan eksperimen klasik, dibahas di setiap perkuliahan S1 Psikologi. Sperry dan Gazzaniga memang menunjukkan efek menarik tentang pemrosesan bahasa dan gambar di bawah kondisi eksperiman yang ketat.

Tapi riset tersebut TIDAK PERNAH SAMA SEKALI menyatakan bahwa kemampuan (matematika atau bahasa) hingga gaya belajar kita terbatas pada satu bagian otak saja.

Menjadikan hasil eksperimen ini sebagai referensi untuk gaya belajar manusia secara umum itu ngaco.. Soalnya, Split-brain experiments melibatkan pasien yang mengalami kerusakan otak (epilepsi) dan koneksi kedua bagian otak diputus secara manual! 

Tidak ada bukti saintifik langsung yang mendukung gagasan bahwa gaya berpikir yang berbeda dihasilkan oleh bagian otak tertentu. Riset-riset neurosains terkini malah menunjukkan hal yang bertentangan dengan ide “otak kiri-otak kanan”. Kedua bagian otak faktanya sangat komplemen satu sama lain.

  1. Untuk pemrosesan bahasa.. Kini diketahui kedua bagian otak ikut berperan: otak kiri memproses grammar (tata bahasa) dan pronunciation (pelafalan) sedangkan otak kanan memproses intonasi. 
  2. Otak kanan tidak bekerja sendiri untuk memfasilitasi kemampuan spasial: otak kanan memproses general sense of space, otak kiri memproses objek di lokasi tertentu. 
  3. Studi menemukan 14 area otak yang berperan untuk mempelajari sebuah urutan. “Sequential thought” (pemikiran sekuensial) yang katanya merupakan fungsi otak kiri, ternyata ditemukan diproses di 5 area otak kiri, 5 area otak kanan, 4 area di bilateral otak. 

Ya, memang ada asimetri fungsi pada bagian-bagian otak. Tapi, kemampuan individu tidak terikat pada sebuah area, tapi produk dari jaringan sel otak yang terdistribusi. Sirkuit-sirkuit ini dibentuk melalui campuran biologi dan pengalaman/memori yang unik.

Mencoba menjelaskan sesuatu se-kompleks gaya belajar dengan hanya meng-highlight satu bagian otak saja adalah penyederhanaan yang berlebihan, keliru tafsir (misintepretasi), dan sangat meragukan.

Okelah fan, ya teori otak kanan - otak kiri ini mungkin tidak akurat. Tapi apakah gagasan ini berbahaya?

***

'Teori' Otak Kanan - Otak Kiri Berbahaya?


Gagasan ini berbahaya ketika banyak pihak menganggapnya secara serius, and it’s happening!

Berdasarkan "teori" otak kanan - otak kiri (hemisphericity), berkembang sebuah ide bahwa proses belajar dan berpikir dapat ditingkatkan ketika kedua bagian otak dapat terlibat secara seimbang. Lahirlah program pengajaran dan pendidikan untuk memperkuat bagian otak yang kurang dominan dan mensinkronisasi kedua bagian otak.

Karena diasumsikan sekolah bakal lebih menyenangi cara belajar dan berpikir otak kiri (seperti analisis, logika, dan akurasi), banyak teknik pengajaran dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak aktivitas untuk memaksimalkan otak kanan.

Contoh, metode “show and tell”: daripada hanya membaca teks (dominasi otak kiri), guru juga memperlihatkan gambar dan grafik untuk mengaktifkan otak kanan. Metode lain misalnya penggunaan musik, metafora, role play, meditasi, menggambar, dll, untuk mencapai sinkronisasi kedua bagian otak. Atau metode-metode lain untuk mengasah otak kanan.

Banyak pihak yang mengatakan bahwa kurikulum sekolah saat ini lebih heavy ke pembelajaran menggunakan otak kiri. Jadi mereka demand sekolah untuk lebih banyak melibatkan pembelajaran yang mengasah otak kanan.

Kalo di luar tuh, ada ahli pendidikan seperti E.P. Torrace atau Madeline Hunter. Di Indonesia? Huwih, jadi penulis buku best seller ciin.. Bahkan ada lho ahli pendidikan dan sekolah di Indonesia yang mengusung konsep ini -__-"

Meskipun metode-metode tersebut dapat menambah variasi dalam dunia pendidikan, tapi metode ini didasarkan pada fondasi yang lemah.

Generalisasi kemampuan dan gaya belajar individu hanya berdasar 2 bagian otak merupakan penyederhanaan yang berlebihan, complete nonsense. Dan telah saya bahas, tidak ada bukti saintifik langsung yang menyokong ide ini. Malah, hasil temuan neurosains terkini mengungkap hal yang sebaliknya.

Tapi teteup aja ya, masih banyak meluncur buku, materi pendidikan dan pelatihan otak kanan, berbasis mitos ini. Tiap tahun kayaknya ada aja yang baru. Masih banyak juga pengajar, motivator, konselor, bahkan akademisi yang mengusung ide ini dalam profesinya. Ga tau apa mau tipu-tipu, kurang baca, atau simply stupid..

***

Kenapa Mitos tentang Otak Kanan - Otak Kiri akan Tetap Eksis?


Dr. Mike Gazzaniga (ya ilmuwan yang memprakarsai split-brain experiment itu sendiri) menulis buku Social Brain puluhan tahun setelah ia melakukan eksperimen hebatnya.

Pada salah satu bab, "Left-Brain, Right-Brain. Mania: A Debunking", ia sendiri membantah konsep psikologi populer tersebut dan menyampaikan keheranannya, kok bisa gitu eksperimen saintifik dia di-misintepretasi-kan seena'e dewe begitu.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa konsep ini berkembang karena dikotomi otak kanan - otak kiri itu simpel dan gampang dimengerti, packaging yang mudah dicerna masyarakat mengenai riset otak modern dan aplikasinya pada kehidupan sehari-hari.

Karena untuk menjelaskan yang 'sebenernya', cukup rumit (complicated). Banyak jargon sains yang harus dimengerti dan ngejelimet bagi masyarakat awam. Jadilah jurnalisme sains menggunakan simplifikasi tersebut, jadi bisa relate sampai level personal seseorang.

Sebanyak apapun temuan breakthrough di bidang neurosains akhir-akhir ini, kayaknya konsep tentang otak kanan - otak kiri ini masih tetap eksis ya. Susah untuk melawan belief system yang sudah terbangun selama berpuluh tahun.

Dikotomi ini memang menawarkan simplifikasi yang begitu 'menggoda'. Gampang kan diaplikasikan, "eh, lo left brainer atau right brainer", "kayaknya gw right brainer deh, cocoknya gw masuk jurusan ini deh kayaknya", bikin aplikasi untuk target market tertentu, bikin buku, bikin seminar, dll.

But yeah.. It's worth trying to fight the distorted belief system. As Gazzaniga concluded:

By the late 1960s and early 1970s the realization was spreading that the simple dichotomies of that time did little to advance knowledge about how cognitive systems work. Neuropsychology was at risk.Isolating mental systems or claiming that isolated mental systems process information differently does not really illuminate the nature of cognition.


***


***

Artikel ini berguna menurut kamu? Bantu share ya :)
Read More...

05 April, 2013

Indonesia HAMPIR Punya Astronot Wanita Pertama se-Asia

1 comment
Beberapa minggu yang lalu, saya ada ikut Diskusi Sains Menrva Foundation for Science and Reason tentang Human Space and Colonization. Saya jadi tau kalo Indonesia dulu HAMPIR punya astronot lho, wanita lagi!

Ibu Pratiwi Sudarmono dan Bapak Taufik Akbar

Ibu Pratiwi Sudarmono, seorang microbiologist dari Universitas Indonesia yang menjadi salah satu kru pesawat luar angkasa Columbia sekitar tahun 1986 untuk keperluan pengoperasian satelit Palapa B-3. Bersama astronot pelapisnya, Pak Taufik Akbar (engineer dari Telkom yang kini adalah Direktur SDM di Telkom), beliau dilatih di NASA, dan siap terbang menjadi astronot wanita pertama dari Asia!!

Apa mau dikata... Di tahun yang sama, terjadi kecelakaan pesawat Challenger. Challenger meledak setelah baru beberapa detik lepas landas, menewaskan 7 orang krunya. Padahal kontraktornya udah ingetin NASA tuh, kalo desain yang ada tidak aman. Tapi karena sudah dikejar jadwal, NASA tetap meluncurkan Challenger.

Karena kecelakaan ini, NASA membatalkan semua jadwal penerbangan pesawat luar angkasa lainnya, termasuk pesawat Columbia-nya bu Pratiwi.

Akhirnya bu Pratiwi balik ke Indonesia. Beberapa bulan kemudian, NASA mulai siap meluncurkan pesawat luar angkasa lagi. Eeeehhh.. yang ikut malah astronot wanita dari Jepang. Jadilah wanita Jepang itu astronot wanita pertama dari Asia. Pfftt..

Ya kecelakaan sejarah ciinn. Nyaris banget. Kalo enggak, Indonesia bakal punya astronot wanita pertama dari Asia. Jepang, Malaysia, China, India, Pakistan, Iran, lewaaatt..

Ibu Pratiwi Sudarmono sekarang masih aktif menjadi pembicara di beberapa seminar microbiology. Terakhir teman saya ada mengikuti seminar beliau di Universitas Pancasila. Beliau juga kadang dapat ditemui di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

***
Suka dengan artikel ini, share yuk ^^
Read More...

26 March, 2013

Sebuah Renungan Masalah Pendidikan di Indonesia Saat Ini

12 comments
Artikel yang saya tulis sebelumnya mengenai sistem pendidikan Finlandia: Lupakan Amerika, Pendidikan di Finlandia yang Terbaik Sedunia, membuat saya banyak berpikir (maklum saya pemikir orangnya). Artikel tersebut menyadarkan saya betapa destruktifnya efek yang ditimbulkan oleh sistem pendidikan yang mengadopsi konsep kompetisi & kapitalisme/komersialisasi. Ga usah di Indonesia, di Amerika, bahkan mungkin di Jepang pun, sistem pendidikannya memakai konsep kompetisi & komersialisi.


Dampak buruknya sangat gampang ditemukan di keseharian kita, di diri saya pribadi, di orang-orang sekeliling saya. Salah bentuk akibat sistem yang destruktif.
  • Belajar sistem kebut semalam. Menghafal super lengkap dan banyak. Habis ujian, lupa! Ga ada ilmu yang didapet, ga dapat esensinya. Lulus, nilai tinggi, cari kerjaan mengandalkan gelar, tapi ilmu kopong…
  • Yang pintar 'harus' masuk fakultas kedokteran lah, engineering lah. Yang biasa aja, harus masuk ini lah. Yang 'bego', pilihan terbatas. 
  • Yang anak ga boleh ikut les dan ikut lomba tarilah, karena bikin capek, ganggu konsentrasi belajar. 
  • Yang anak ga boleh jadi atlet, karena menguras energi, ganggu konsentrasi sekolah. 
  • Yang si anak ga boleh jadi zoologist lah, karena dinilai tidak menguntungkan. Mending jadi engineer lah. Beneran, saya punya teman, bercita-cita menjadi penjaga kebun binatang atau penjaga konservasi binatang, entah sebagai zoologist atau dokter hewannya. Sungguh mulia bukan. Tapi dilarang sm orang tuanya karena 'dianggap' tidak profitable & tidak punya masa depan yang cerah. Sampai dibilang ‘ntar kamu nikah sama gorila’ -__-"
Semuanya karena mau ngejar memenuhi standar, cetakan cetakan cetakan! Standar/Cetakan absurd! Cetakan duit…

Kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia dan Amerika itu gagal karena sistem ini mencoba membuat suatu cetakan bagi anak didik, bukan membiarkan anak didik berkembang maksimal sesuai potensinya masing-masing. Yang ditekankan pada pendidikan bukanlah suatu konsepsi pengetahuan, tapi struktualisasi sistem pendidikan dan hasil didikan. 


Sistem pendidikan di negara, seperti Indonesia dan Amerika, itu ironis karena saking kapitalisnya sampai lupa kenapa sistem komunis tumbang. Sistem komunis tumbang karena terlalu banyak komando dan tidak membiarkan warga dan struktur-struktur di dalamnya berkembang dengan bebas

Nah, sistem pendidikan "kapitalis" ini ironis karena system ini berusaha untuk "mencetak" kemampuan berdasarkan sistem pasar. Sistem ini menafikan kenyataan bahwa tiap anak itu terlahir dengan keinginan dan selera yang berbeda-beda. Dalam sistem pendidikan kapitalis yang gagal ini, semua anak apapun inputnya, outputnya harus bisa disamaratakan.


Pendidikan itu tidak bisa seperti kita membangun gedung, di mana struktur-struktur ditancapkan dalam balok-balok yang tidak berhubungan dan diharapkan dapat berdiri tegak dari bebannya saja, layaknya orang meletakkan beton di bangunan.

Para pendidik kuno memiliki sebuah konsepsi bahwa anak-anak itu "tabula rasa", sebuah kertas putih kosong yang siap di tuliskan. Padahal, kenyataanya anak-anak itu kertas berwarna yang sudah tergambar pola di atasnya, tidak bisa langsung asal corat-coret saja, sering jadi tidak bermakna nantinya (via Thomas Adi Nugroho Chaidir).

Berikut salah satu potret pendidikan jaman sekarang. Satu kelas terdiri dari siswa gajah, ikan, burung, monyet, dan lain-lain. Eh, ujian disuruh manjat pohon, biar adil katanya.

"Supaya adil, semua siswa harus mengikuti ujian yang sama. Panjat pohon itu."

Jelas, siswa 'monyet' akan unggul. Sistem ini menafikan fakta bahwa tiap siswa itu memiliki bakat, minat dan potensi yang unik. Sistem ini hanya memberikan perhatian pada siswa bintang. Siswa lain yang tidak bisa keep up (mengikuti), dibiarkan berusaha sendiri. Ditambah lagi, ujian standar/cetakan umum bertubi-tubi yang absurd yang hanya ngena ke bakat/potensi siswa 'monyet'. Siswa 'gajah' mana bisa keep up.

Mental anak-anak dapat dihancurkan oleh evaluasi terus-menerus dan membuat anak-anak ini sendiri percaya bahwa mereka tidak cukup baik. Ketika anak-anak dapat unggul pada apa yang mereka dapat lakukan dengan baik, bukan diukur utk memenuhi cetakan, mereka dapat menghasilkan performa terbaik. Anak-anak harus diberikan pendidikan sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengn bakat mereka.

Tujuan pendidikan seyogianya dapat membentuk siswa menjadi manusia yang lebih baik yang menghargai diri mereka sendiri dan dapat bernavigasi dalam kehidupan tanpa berpikir bahwa mereka lebih 'pintar' atau sebaliknya, tidak berharga.

Siapa yang tahu kalo si anak ternyata berpotensi menjadi ilmuwan/zoologist terkenal, jadi atlet berprestasi, menjadi penari duta negara. Alih-alih mengembangkan potensi uniknya, si anak end up (berakhir) menjadi PNS malas yang kerjanya makan duit rakyat. Alih-alih mengembangkan potensi uniknya, si anak end up (berakhir) menjadi nobody (bukan siapa-siapa) as in pekerja kantoran yang mengubur potensi gemilangnya di balik meja kantor.

Anak punya cita-cita tuh didukung dan dibimbing. Ini belum apa-apa sudah diteror "ntar kamu nikah sama gorila". Dari kecil aja mental anak udah dihancurkan.

***

Nah, dampak negatif lain dari bentukan sistem gagal ini adalah realita bahwa banyak orang benci pekerjaannya. Banyak yang merasa ke-trap (terjebak) dengan pekerjaannya sekarang.

Saya ulas di postingan blog saya yang lain: Mengapa Begitu Banyak Orang Benci Pekerjaan Mereka? Artikel ini cocok dibaca bagi yang sedang mengalami krisis identitas karir. Hehehe. Artikel ini juga cocok dibaca dan jadi bahan renungan bagi orang tua yang peduli dengan pendidikan dan masa depan anaknya

Saran saya kepada orang tua: Jangan didik anakmu untuk menjadi kaya, tapi didiklah anakmu untuk menjadi happy, bahagia :) Sehingga ketika mereka tumbuh dewasa, mereka akan menghargai value (nilai/esensi) sebuah hal, bukan menilai dari harganya.


Kenapa mendidik anak untuk bahagia menjadi penting? Mengutip perkataan Richard Branson (pendiri Virgin Group): "Parameter terbaik untuk mengukur kesuksesan? Kebahagian... Lakukanlah hal yang membuatmu senang, lakukan dengan baik, dan uang akan datang."

Lebih lanjut tentang kebahagiaan, parameter kesuksesan, dan definisi kaya dan kekayaan, silakan baca artikel saya lainnya, Parameter Kesuksesan: Mendefinisikan Kembali Makna 'Kaya'

***

Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, bantu share ya :) 
Read More...

23 March, 2013

Mengapa Banyak Orang Benci Pekerjaan Mereka?

Leave a Comment
Salah satu alasan kenapa banyak orang dengan pendidikan universitas bagus benci pekerjaan mereka adalah mereka mengambil jalur karir konservatif atau berorientasi pada mendaki tangga organisasi/korporat ketika mereka muda (misalnya sehabis lulus kuliah) dan tidak pernah meencoba mengganti jalur. 

Ketika mereka pertama kali memilih karir mereka di umur sekitar 22 (kurang lebih):

  1. mereka ga tau apa yang mereka inginkan di hidup mereka 
  2. mereka masih memiliki pandangan yang sempit terhadap pilihan karir yang tersedia untuk mereka 
  3. mereka merasa butuh menghasilkan duit, karena mereka independen dari orang tua mereka untuk pertama kalinya 
  4. mereka lebih condong tertarik pada pekerjaan yang sudah memiliki kredibilitas dengan target2 yang telah ditetapkan, seperti yang mereka selalu dapatkan di bangku sekolah

Lalu, setelah menggeluti profesi ini selama 7-10 tahun, mereka merasa terjebak; mereka ga tau apa yang harus dilakukan selanjutnya, bagaimana caranya berubah. Mereka bagus secara finansial dan merasa terlalu banyak risiko kalo ganti jalur karir. Akhirnya mereka begitu terus sampai akhir hayat.

Fenomena ini sangat umum sekali, banyak ditemukan di berbagai profesi, dari pengacara, banker, bahkan guru.

http://www.quora.com/Jobs-1/Why-do-so-many-people-hate-their-jobs
Read More...

11 March, 2013

Lupakan Amerika, Pendidikan di Finlandia yang Terbaik Sedunia

45 comments

Tulisan tentang hebatnya sistem pendidikan di Finlandia mungkin sudah basi. Tapi beberapa waktu lalu saya ada membahas pendidikan Finlandia ini bersama seorang teman. Dan saya melihat belum ada tulisan Bahasa Indonesia yang membahas lebih dalam mengenai mutu pendidikan dan sistem pendidikan Finlandia. So, here we go..

***

Popularitas Finlandia


Finlandia dulunya terkenal sebagai negara produsen raksasa handphone, Nokia. Kini, popularitas Nokia meredup karena pasaran smartphone dirajai oleh iPhone dan Android. Walaupun Nokia sekarang sudah punya produk smartphone berbasis Windows Phone, tapi masih belum bisa menyamai dominasi iPhone dan Android.

Namun, belakangan Finlandia telah menarik mata dunia melalui survei-survei global mengenai kualitas hidup (Newsweek menasbihkan Finlandia sebagai negara dengan kualitas hidup No.1 di dunia tahun 2010) dan sistem pendidikan nasional Finlandia telah menerima banyak pujian dan pengakuan karena di beberapa tahun belakang pelajar-pelajar Finlandia mendapatkan skor tes tertinggi sedunia.

Sorotan dunia ke sistem pendidikan nasional Finlandia berawal dari survei PISA. Survey ini dilakukan setiap 3 tahun sekali oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD/ Organisasi untuk Kerja Sama dan Perkembangan Ekonomi). Survei ini membandingkan pelajar usia 15 tahun dari berbagai negara pada bidang baca-tulis, matematika, dan sains.

Finlandia meraih peringkat hampir teratas pada ketiga kompetensi tersebut pada semua survei di tahun 2000, sejajar dengan pelajar super jenius dari Korea Selatan dan Singapura. Pada survei tahun 2009, Finlandia agak terpeleset sedikit, di mana pelajar dari Shanghai, China meraih skor terbaik, tapi pelajar Finlandia tetap nyaris teratas.

Amerika Serikat saja tidak masuk 10 besar. Indonesia? Indonesia masuk zona degradasi cyiin.. alias zona bawah. Intip aja di sini. Saya mencoba mencari hasil survei tahun 2012, tapi sepertinya belum dirilis pada saat tulisan ini dibuat.

Dibandingkan dengan stereotipe model pembelajaran Asia Timur (murid dijejali hafalan yang super buanyak super lengkap dan perlu waktu berjam-jam untuk berhasil menghafalkannya di luar kepala), keberhasilan Finladia sangat menarik. Sekolah-sekolah di Finlandia sangat sedikit memberikan PR (tidak lebih dari 1/2 jam waktu pengerjaan) dan lebih banyak melibatkan siswanya dalam aktivitas yang lebih kreatif. Hal ini lah yang membuat Finlandia kini sering menjadi tujuan studi banding oleh delegasi asing dari berbagai belahan dunia.

Pasi Sahlberg, Direktur Mobilitas Internasional, Departemen Pendidikan Nasional Finlandia telah membukukan kesuksesan sistem pendidikan Finlandia ini: Finnish Lessons: What Can the World Learn from Educational Change in Finland?

***

Karakteristik Sistem Pendidikan Finlandia


1. Tidak ada sekolah swasta di Finlandia


Hanya ada sedikit sekolah independen di Finlandia, dan bahkan semuanya dibiayai pemerintah. Tidak ada yang diperbolehkan untuk membebankan biaya sekolah. Tidak ada universitas swasta. Dengan kata lain, pelajar-pelajar di Finlandia bersekolah di sekolah negeri, dari preschool hingga Ph.D.

Hal ini sungguh jauh berbeda dengan Amerika Serikat, misalnya. Di Amerika Serikat, biaya sekolah SMA swasta saja bisa mencapai $35,000 selama setahun.

Di Indonesia sendiri, untuk masuk TK saja, orang tua murid harus merogoh duit hingga 10 juta rupiah, hanya untuk uang pangkal. Uang kuliah? Hehehe. Pas jaman saya masuk kuliah (2007), uang pangkal sekitar 25 juta. Uang semester saya masih cukup terjangkau saat itu, 1,5 juta. Uang kuliah junior di bawah saya (2008 ke atas) semakin melejit mahal. Dari 2,5 juta hingga 7,5 juta. Terakhir, saya tanya teman saya yang masih berkuliah semester 6 di universitas yang sama, uang semesternya adalah 5 juta rupiah. Itu universitas negeri lho. Hehehe. Apa kabar universitas swasta? Adik saya yang masuk universitas swasta jurusan kedokteran gigi, biaya kuliahnya mencapai 200 jutaan. Hiiik.

2. Tidak Ada Ujian Standar


Menurut Sahlberg, Amerika (dan negara lain yang menerapkan komersialisasi pendidikan, termasuk pendidikan di Indonesia, menurut saya) selalu terobsesi dengan pertanyaan berikut: Bagaimana cara memantau kinerja siswa jika tidak diuji secara konstan? Bagaimana bisa meningkatkan pengajaran jika tidak ada pertanggungjawaban ke guru-guru yang payah atau tidak memberikan penghargaan pada guru yang baik? Bagaimana cara menciptakan kompetisi dan melibatkan sektor swasta? Bagaimana cara menciptakan variasi pilihan sekolah kepada orang tua/pelajar?

Jawaban dari realita Finlandia tampaknya bertentangan dengan mindset orang Amerika ataupun para reformis pendidikan lainnya.

Finlandia tidak memiliki ujian nasional pada tiap jenjang pendidikan. Yang ada hanyalah Ujian Matrikulasi Nasional yang diambil pada jenjang sekolah menengah atas yang bersifat 'sukarela'.

Wajib belajar di Finlandia sendiri adalah antara usia 7 - 16 tahun. SD 6 tahun, SMP 3 tahun. Setelah lulus SMP, siswa memiliki pilihan: 1. boleh langsung masuk dunia kerja atau 2. masuk sekolah persiapan profesi atau gimnasium (sekolah menengah atas). Sekolah menengah atas ini setara dengan jenjang SMA di Indonesia. Lulusan sekolah menengah atas ini nantinya bisa lanjut lagi ke politeknik ataupun universitas. Pada intinya, tidak ada UN SD dan SMP. Dan mungkin UTS dan UAS lainnya.

3. Besarnya Tanggung Jawab Guru


Kalo ga ada ujian, bagaimana cara mereka mengukur kinerja pendidikannya? Guru-guru di sekolah negeri Finlandia mendapatkan pelatihan khusus untuk dapat menilai siswa satu kelas menggunakan tes independen yang mereka ciptakan sendiri. Semua anak mendapatkan kartu rapor tiap akhir semester, tapi rapor ini berdasarkan penilaian individu oleh tiap guru. Secara berkala, Menteri Pendidikan memantau kemajuan nasional dengan menguji beberapa sampel kelompok dari sekolah yang berbeda.

Sistem ini memungkinkan dihasilkannya penilaian yang sangat spesifik ke kemampuan tiap individu siswa. Bukan sistem penilaian umum yang mungkin kurang dapat menjangkau kemampuan spesifik tiap siswanya. Guru dapat mengeluarkan kreatifitasnya untuk memberikan perhatian khusus ke tiap siswa. Guru jadi punya tanggung jawab dan peran yang lebih besar.

Kadang seorang guru tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu siswanya tapi dibatasi oleh sistem sekolah yang menyatakan bahwa lebih penting untuk bergerak lanjut mengikuti kurikulum yang ada daripada memperlambat "hanya demi" siswa-siswa yang membutuhkan waktu tambahan dalam menerima pelajaran.

Guru dan staf administrasi sekolah di Finlandia memiliki martabat/gengsi yang tinggi, gaji yang layak, dan banyak tanggung jawab. Gelar Master (S2) diperlukan untuk menjadi guru. Program pelatihan guru di Finlandia adalah salah satu sekolah profesional yang paling selektif di negara ini. Jika terdapat guru yang performanya buruk, tanggung jawab kepala sekolah untuk menangani hal tersebut.

4. Kurikulum yang Fleksibel


Konsep pendidikan Finlandia tidak menegakkan kurikulum pendidikan di mana setiap sekolah "harus mengajarkan kurikulum yang sama dengan metode yang sama pada jadwal yang sama." Kementerian Pendidikan meluncurkan "Kurikulum Dasar" yang fleksibel, semacam panduan umum mengenai mata pelajaran apa yang harus diajarkan dan tujuan yang harus dicapai di setiap tingkat kelas.

Kurikulum Dasar ini berlaku sebagai dasar untuk setiap sekolah saat mereka mempersiapkan kurikulum sendiri, di mana mereka dapat berkreasi menekankan pada pedagogi tertentu, pendidikan nilai tertentu (misalnya, sekolah hijau), keterampilan (seni, olahraga, bahasa), atau isu-isu lokal (misalnya, sekolah multikultural).

Setiap kelas difasilitasi hingga 3 orang guru. Apa yang guru pendidikan pelajari dari universitas memberi mereka berbagai macam metode pengajaran yang dapat digunakan sesuka mereka. Keanekaragaman dipandang sebagai kekuatan yang nyata dengan tidak mengisolasi siswa yang berbakat (dan/atau yang kaya) ke sekolah swasta seperti yang terjadi di Amerika atau di Indonesia, di mana kebanyakan siswa pintar dan kaya akan lebih cenderung masuk sekolah swasta bergengsi.

Para pelajar di Finlandia sangat menikmati belajar, selalu rindu sekolah, tidak rela tidak sekolah hanya karena libur ekstra atau sakit. Bisa dikatakan guru lah kunci keberhasilan dari sistem sekolah Finlandia, dan individualitas yang diperbolehkan dalam kelas. Para guru melihat siswanya sebagai individu dengan kebutuhan yang berbeda: fokus pada masing-masing anak dan kekuatan serta problem tiap anak.

Sila intip suasana belajar di kelas sekolah Finlandia yang relaks di video ini.



5. Tidak Ada Kompetisi


Sistem pendidikan Finlandia juga tidak mengenal namanya kompetisi. Ga ada main peringkat, ranking-ranking-an, juara 1 juara 2 dan seterusnya. Tidak ada daftar sekolah terbaik atau guru terbaik di Finlandia. Pendorong utama dari kebijakan pendidikan bukanlah persaingan antar guru dan antar sekolah, tapi KERJA SAMA .

Tidak adanya persaingan pada pendidikan publik di Finlandia sehingga guru yang terbaik tidak dapat 'dicuri' untuk bekerja bagi sektor swasta. Mereka tidak mengukur prestasi hanya untuk memberi label pada siswa.

Bahkan bisa dibilang, Finlandia memandang kompetisi dalam dunia pendidikan merupakan konsep yang destruktif. Mental anak-anak dapat dihancurkan oleh evaluasi terus-menerus dan membuat anak-anak ini sendiri percaya bahwa mereka tidak cukup baik. Bagi Finlandia, ketika anak-anak dapat unggul pada apa yang mereka dapat lakukan dengan baik, bukan diukur untuk memenuhi standar, mereka dapat menghasilkan performa yang terbaik. Anak-anak harus diberikan pendidikan sehingga mereka dapat berkembang terlepas dari bakat mereka.

Fungsi pendidikan seyogianya dapat membentuk siswa menjadi manusia yang lebih baik yang menghargai diri mereka sendiri dan dapat bernavigasi dalam kehidupan tanpa berpikir bahwa mereka lebih 'pintar' atau sebaliknya, tidak berharga.  Oiya, siswa dengan development disorder ataupun penyandang cacat lainnya diletakkan pada kelas yang sama dengan siswa umum lainnya lho.

Siswa dengan development disorder/penyandang cacat lainnya diletakkan pada kelas yang sama dengan siswa umum lain

6. Variasi Pilihan Sekolah yang Sedikit


Di sini, orang tua sibuk mencarikan sekolah terbaik untuk anaknya, masuk sekolah swasta yang mentereng lah, universitas negeri di pulau Jawa. Di Finlandia, pilihan sekolah tidak lagi menjadi prioritas utama. Pilihan sih ada, tapi ya variasinya sama aja.

Puluhan tahun lalu, ketika sistem sekolah Finlandia sangat membutuhkan reformasi, tujuan dari program yang diterapkan Finlandia, yang mengantarkan Finlandia pada kesuksesan saat ini, bukanlah mengejar keunggulan akademis (excellence), tapi KESETARAAN (equity).

Sejak 1980-an, pendorong utama kebijakan pendidikan Finlandia adalah pemikiran bahwa setiap anak harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, terlepas dari latar belakang keluarga, pendapatan, atau lokasi geografis. Pendidikan utamanya bukanlah cara untuk menghasilkan pemain bintang, tetapi sebagai alat untuk meratakan kesenjangan sosial.

Dalam pandangan Finlandia, sekolah harus sehat, lingkungan yang aman untuk anak-anak. Hal ini dimulai dengan yang dasar. Finlandia menawarkan semua murid makanan sekolah gratis, akses mudah ke perawatan kesehatan, konseling psikologis, dan bimbingan individual siswa.

Malahan, karena keunggulan akademis bukanlah prioritas khusus bagi Finlandia, ketika para pelajarnya meraih skor begitu tinggi pada survei PISA pertama pada tahun 2001, banyak warga Finlandia mengira, "Ah, ngaco tuh hasil survei nya". Namun, hasil tes PISA selanjutnya mengkonfirmasi bahwa Finlandia (tidak seperti, katakanlah, negara-negara serupa seperti Norwegia) berhasil menciptakan keunggulan akademik melalui fokus kebijakan pada kesetaraan.

Berikut testimoni salah satu siswa Finlandia.

Saya adalah pelajar usia 18 tahun Finlandia (bilingual bahasa Finlandia dan bahasa Inggris). Saya adalah siswa dengan performa yang selalu baik. (Dalam ujian matrikulasi, saya meraih nilai yang tinggi, masuk ke 5% siswa skor tertinggi di Finlandia). Saya dididik dengan sistem pendidikan Finlandia hampir seumur hidup saya, kecuali masa 3 tahun dalam program International Baccalaureate. 

Program IB menekankan apa yang disebut dengan siswa "berprestasi". Bagi saya, ini adalah lingkungan belajar yang penuh stres. Mengatur fokus pada pekerjaan sekolah sulit bagi saya, ketika hanya murid bintang kelas yang benar-benar mendapat perhatian guru dan sisanya dibiarkan berjuang sendiri. Keadaan ini membuat masing-masing murid beradu satu sama lain - saling tinggi-tinggian nilai ujian (Wow, padahal di sini pemadangan sehari-hari tuh). 


Saya meninggalkan program IB setelah tiga tahun, persaingan yang tinggi tidak memberi saya kesempatan lagi untuk sukses dibandingkan dengan pendekatan Finlandia yang ramah. Minat tertentu dan bakat saya selalu diakui oleh guru saya. Guru Finlandia fokus pada menjaga standar kelompok, bekerja sama dengan masing-masing murid. Para siswa yang dirasa lebih sulit mengikuti materi, menerima perhatian dan bantuan yang mereka butuhkan secara individual. Ini tidak berarti bahwa siswa berbakat menjadi tertahan, malah sebaliknya. Guru Finlandia menerima kenyataan bahwa satu kelas terdiri dari berbagai individu dengan tahap perkembangan intelektual yang berbeda. Suasana seperti ini sangat menguntungkan, dan bagi perfeksionis seperti saya, lingkungan ini lebih mudah untuk melakukan yang terbaik. 


Sekolah Finlandia memiliki kurikulum nasional yang hadir untuk memberikan guru kebebasan lebih. Ya, saya tahu kedengarannya bertentangan, namun kurikulum hanya menyatakan dengan jelas apa yang harus diajarkan dan diraih sekolah untuk masing-masing kelompok usia. Tidak ada aturan untuk urutan atau metode yang terlibat. Hal ini memungkinkan untuk setiap guru untuk meng-cover setiap topik dengan cara yang menurut mereka menguntungkan dan masuk akal.


***

Demografi Negara Menentukan Kinerja Sistem Pendidikan?


Sentimen tetap eksis pada kesuksesan pendidikan Finlandia ini. Sentimen itu misalnya datang dari Amerika Serikat yang menekankan pada homogenitas penduduk Finlandia.

Pasi Sahlberg menekankan bahwa bukunya tidak dimaksudkan menjadi pedoman ketat untuk memperbaiki sistem pendidikan di negara-negara lain. Keadaan setiap negara berbeda. Dibandingkan dengan Amerika atau Indonesia misalnya, Finlandia adalah negara kecil dengan populasi yang jauh lebih homogen daripada Amerika Serikat atau Indonesia.

Namun, Sahlberg tidak berpikir bahwa masalah ukuran atau homogenitas sebuah negara harus membuat kita mengabaikan contoh Finlandia. Finlandia adalah negara yang relatif homogen - pada 2010, hanya 4,6 persen penduduk Finlandia lahir di negara lain, dibandingkan dengan 12,7 persen di Amerika Serikat. Namun jumlah penduduk kelahiran asing di Finlandia meningkat dua kali lipat selama dekade hingga 2010, dan kualitas pendidikan Finlandia tetap tidak kecolongan. Imigran cenderung berkonsentrasi di daerah-daerah tertentu, menyebabkan beberapa sekolah menjadi jauh lebih beragam daripada yang lain, namun belum ada banyak perubahan pada kurangnya variasi sekolah Finlandia dalam survei PISA di periode yang sama.

Populasi penduduk Finlandia adalah 5,4 juta jiwa. Jauh dari jumlah penduduk satu negara Indonesia. Populasi penduduk Jakarta saja masih lebih banyak (sekitar 9 juta jiwa). Populasi penduduk satu negara Finlandia setara dengan penduduk provinsi Riau. Dan tentunya, etnis penduduk Indonesia sangat beragam.

Samuel Abrams, peneliti dari Columbia University Teachers College, pernah membahas pengaruh ukuran dan homogenitas penduduk suatu negara pada kinerja pendidikan negara dengan membandingkan Finlandia dengan negara Skandinavia lainnya: Norwegia. Layaknya Finlandia, Norwegia kecil dan lumayan homogen. Tapi tidak seperti Finlandia, Norwegia memiliki kebijakan pendidikan yang lebih mirip Amerika (privatisasi) daripada Finlandia.

Hasilnya? Performa Norwegia pada survei PISA biasa-biasa saja. Abrams menyatakan, kebijakan pendidikan lebih penting dalam menentukan keberhasilan dan mengatasi masalah pendidikan negara daripada ukuran negara tersebut atau keanekaragaman etnis di negara itu.

***

Ekonomi Berbasis Ilmu Pengetahuan


Ketika pembuat kebijakan Finlandia memutuskan untuk mereformasi sistem pendidikan negaranya di tahun 1970-an, mereka melakukannya karena mereka menyadari bahwa untuk menjadi kompetitif, Finlandia tidak bisa mengandalkan pada sektor manufaktur atau sumber daya alam mereka yang minim dan sebaliknya harus berinvestasi dalam ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.

Pengalaman Finlandia menunjukkan bahwa untuk menuju tujuan itu, negara harus menyiapkan bukan hanya beberapa penduduknya dengan baik, tetapi semua penduduknya dengan baik, untuk ekonomi baru. Untuk memiliki sekolah terbaik di dunia mungkin masih belum cukup baik jika ada anak-anak yang tertinggal.

Karena kadang beasiswa, education voucher system, atau sekolah gratis yang cuma satu dua, tidaklah cukup. Selain itu, "anak-anak yang tertinggal" kadang tidak melulu karena soal ekonomi orang tua, tapi ada juga karena "uneducated parents". Orang tua yang tidak sadar tentang pentingnya pendidikan bagi seorang anak. Dan orang tua macam ini eksis di lapisan ekonomi rendah hingga ekonomi tinggi (keluarga elite).

***

Sistem Ekonomi dan Sosial Finlandia


Berbicara dengan pendidikan sebuah negara, tentu tak lepas dengan pemerintah menjalankan suatu negara. Ya kan kebijakan pendidikan yang ngeluarin pemerintah.

Finlandia bukanlah negara sosialis, baik secara sosial maupun ekonomi, tetapi dijalankan kini oleh pemerintah konservatif (menurut standar Eropa) dan sebelumnya juga dipimpin kaum konservatif (partai para pengusaha) atau disebut juga dengan "Center", yang merupakan partai kaum petani.

Sektor privat diperbolehkan masuk (tidak seperti pada sistem sosialisme sejati), tapi pajak cukup tinggi karena semua layanan publik digratiskan. Singkatnya, untuk sektor-sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak (kesehatan, pendidikan, dll) digratiskan; selebihnya untuk sektor-sektor selain itu (kebutuhan sekunder ke tersier ke kemewahan), swasta boleh masuk (ya contohnya kayak Nokia itu).

Finlandia lebih berfokus pada kesetaraan kesempatan. Finlandia adalah negara kecil yang tidak mau bakat apapun yang dimiliki setiap warga negaranya menjadi sia-sia, tidak mau terkonsentrasi di bagian utara atau selatan negara saja,tidak mau spesifik dimiliki oleh si miskin atau si kaya saja, dan tidak mau spesifik bagi yang dibesarkan di desa atau di kota.

Mereka meyakini bahwa kesetaraan dalam pembelajaran dini akan memungkinkan anak-anak untuk menemukan potensi sejati mereka ketika mereka tumbuh dewasa.

***

Apakah kesuksesan sistem pendidikan Finlandia ini terlalu utopia bagi negara lain? Terlalu mustahil?

Pasi Sahlberg menyatakan bahwa walaupun bukunya bukan ditujukan sebagai pedoman strict untuk meraih kesuksesan dalam sistem pendidikan, tapi bukunya dapat dijadikan sebagai "pamflet harapan". Finlandia 20 tahun lalu adalah negara miskin yang bergantung pada sektor agrikultur. Namun, mereka berhasil bangkit dan membutuhkan waktu hingga satu generasi. Komitmen kolektif nasional mengantarkan mereka hingga seperti sekarang. Indonesia? Hehmm..


Intip Kurikulum 2013 Indonesia *wink*


***

Sumber:
http://www.theatlantic.com/national/archive/2011/12/what-americans-keep-ignoring-about-finlands-school-success/250564/
http://en.wikipedia.org/wiki/Finland#Education_and_science
http://www.huffingtonpost.com/c-m-rubin/the-global-search-for-edu_17_b_1066527.html

***

Suka dengan tulisan ini? Bantu share yuk ;)
Read More...